
Siang harinya, Dona tengah bersiap-siap untuk keluar rumah. Ia sudah berganti pakaian dengan mengenakan kaos oblong warna putih dengan luaran kemeja kotak-kotak hitam yang kancingnya dibiarkan terbuka dan dipadukan dengan celana jeans biru tua. Dona melangkah keluar rumah dengan berpamitan pada orang tuanya.
"Mau kemana?" Tanya Bu Nir. "Tadi katanya mau rebahan aja?"
"Izin ya Pak, Bu. Mau keluar makan siang bareng Aditya." Ucap Dona.
Sebuah motor dengan pengendara yang mengenakan jaket ojol berhenti di depan toko.
"Tuh, jemputan udah dateng. Aku jalan ya Pak, Bu." Ucap Dona menyalami kedua orang tuanya.
"Gak bawa motor?" Teriak Pak Edi saat Dona sudah berjalan keluar.
"Gak Pak. Lagi males."
"Ya sudah, hati-hati ya."
Dona mengangguk lalu sepeda motor pun melaju meninggalkan depan toko. Setelah 20 menit, akhirnya Dona tiba di depan sebuah restoran yang ternyata begitu mewah.
"Gak salah ini?" Tanya Dona pada dirinya sendiri sambil melihat alamat lokasi yang dikirimkan Aditya.
"Udah bener ini." Dona lalu memberikan ongkos pada si ojol yang kemudian pergi meninggalkan Dona. "Adit mana ya?"
Baru saja Dona berucap, Aditya sudah berdiri dibelakangnya.
"Hei." Sapa Adit yang mencolek punggung Dona.
"Astagaaa..... Kamu tuh ya, buat aku jantungan aja."
Aditya tertawa lalu mengajak Dona masuk ke dalam restoran.
"Kamu gak salah pilih resto kan Dit?"
Aditya menggeleng.
"Ngapain makan siang di resto mewah dan pastinya mahal seperti ini."
"Ini hari spesial."
"Spesial? Emang kamu ulang tahun? Gak kan. Ulang tahun aku juga bukan."
"Anniversary kita udah bersama 3 tahun."
"Hah!" Dona masih bingung.
Dalam kebingungan, Aditya mengajak Dona duduk.
"Hari ini, tepat 3 tahun aku kenal kamu. Masih ingat hari pertama kita ketemu saat kamu terlambat datang ke sekolah dan gak bisa ikut upacara?" Dona langsung mengangguk. "Sejak hari itu aku sudah mulai tertarik sama kamu."
Pipi Dona memerah, rasanya seperti Aditya tengah mengungkapkan perasaan padanya. Setelah beberapa saat, menu makanan mulai tersedia diatas meja. Terdapat beberapa jenis seafood dan daging-daging yang semuanya masih dalam keadaan mentah. Seperangkat alat pembakaran ada dihadapan keduanya.
"Gimana? Suka gak sama konsep restoran ini?" Tanya Aditya yang dijawab anggukan kepala Dona.
Keduanya mulai meletakkan berbagai jenis daging-dagingan dan seafood ke alat pembakaran. Dona benar-benar menikmati makan siangnya kali ini.
"Cobain, nih. Ini udang rasanya mantep dan seger banget," ucap Aditya seraya mengambilkan sepotong udang dan meletakkannya ke piring Dona.
"Ini emang enak banget." Ucap Dona dengan mulut yang sedikit belepotan karena saus yang lumer.
Aditya tertawa lalu mengambil tissue dan mengusap sudut bibir Dona. Dona tersenyum canggung lalu mengambil tissue yang dipegang Aditya.
Meja yang terdapat dua alat pembakar di bagian kanan dan kiri ini membuat Dona berada di tengah-tengah. Dona lebih banyak makan daripada membantu Aditya untuk membakar daging, karena Aditya sendiri sangat cekatan membakar daging dan memindahkannya ke piring Dona.
"Mau cumi atau ayam lagi?" Tanya Aditya lagi.
Dona menggeleng, ia memang lebih menyukai daging dan udang ketimbang cumi dan ayam.
"Semalam tidur kamu nyenyak gak?" tanyanya lagi.
"Iya." Jawab Dona singkat.
"Bagus, terus sekarang apa kamu udah bisa ceritain apa masalah yang kamu hadapi kemarin?" Tanya Aditya lagi.
"Aku lagi gak mau bahas itu Dit."
Keduanya membisu beberapa saat, sebelum akhirnya Aditya berdiri dan pergi.
Huft!
Tak lama, Aditya kembali dengan membawa sebuah minuman coklat dan meletakkannya dihadapan Dona.
"Buat aku?"
"Ya buat siapa lagi. Siapa tahu habis minum itu mood kamu jadi ceria lagi." Ucap Aditya.
Keduanya saling melempar senyum hingga senyuman dibibir Dona akhirnya hilang kala matanya menangkap sosok Gilang yang tengah berjalan bersama dengan Mama nya ditemani seorang wanita cantik yang bergelayut manja di lengannya.
Aditya yang melihat Dona bengong ikut melihat kearah dimana Dona tengah menatap seseorang. Tampak Gilang tengah duduk di sebuah meja yang tak jauh dari tempat keduanya duduk.
"Itu Gilang kan?" Ucap Aditya spontan. "Sama siapa dia?"
Wanita yang duduk berdekatan dengan Gilang itu tampak begitu manja padanya. Namun, dari raut wajah Gilang terpancar jelas bahwa ia tidak menyukai situasi yang terjadi padanya saat ini.
Nafsu makan Dona jadi hilang, ia merasa sangat kesal.
"Cemburu?" Tanya Aditya.
"Bukan itu."
"Terus."
"Gak tahu kenapa tiap lihat Mama nya aku jadi kesal sama diri aku sendiri.
"Kenapa bisa gitu?"
"Panjang ceritanya."
"Aku siap menjadi pendengar yang baik."
"Udah ah, pergi aja yuk. Disini udah gak asyik."
"Ya ampun, udah pesan segini banyak makanan terus gak dihabisin. Kamu juga baru makan dua potong daging. Masa iya mau pulang. Kamu beneran cemburu kan?" Ejek Aditya.
"Enggak Dit."
__ADS_1
"Ya terus?"
"Aku malu aja. Kemarin itu aku sempat jambak Mama nya Gilang."
"What? Kamu serius?" Aditya tampak tidak percaya.
"Emang kamu lihat aku lagi bercanda gitu?" Dona balik bertanya.
"Enggak sih. Tapi kenapa bisa sampai segitunya?"
Dona mulai menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya kemarin, sambil terus mengunyah makanan yang ada dihadapannya. Sesekali Aditya menahan senyum karena melihat tingkah Dona baginya yang sangat lucu. Dona yang tampak kesal bercerita sambil terus mengunyah menjadi pemandangan yang luci bagi Aditya.
"Bagaimanapun, aku gak membenarkan tindakan yang kamu lakukan sama Mama nya Gilang. Sejahat apapun dia sama kamu, tapi dia itu tetap orang tua. Apalagi dia itu Mama dari mantan pacar kamu, yaaa bisa jadi di masa depan dia juga bakal jadi mertua kamu."
"Ngomong apa sih." Dona makin kesal.
"Hehehe iya sorry. Tapi aku mau kamu itu lain kali kendalikan emosi kamu. Jangan sampai...."
"Iya bawel. Udah yuk pergi aja. Makanannya juga udah habiskan, aku gak mau sampai dilihat ada disini juga sama mereka."
"Beneran kamu gak cemburu?" Goda Aditya.
"Gak." Balas Dona kesal.
"Yakin?"
"Bawel banget sih. Ya udah iya, aku cemburu. Tapi dikit gak banyak, yang banyaknya itu malu kalau sampai ketemu disini."
Dona melihat ke arah Gilang yang ternyata juga tengah menatapnya. Dona yang kelabakan langsung mengalihkan pandangannya berharap Gilang tak mengenalinya.
"Kenapa kamu?" Tanya Aditya yang melihat Dona menunduk.
Saat Aditya hendak menengok kebelakang, Dona langsung menahan dagunya agar tak berbalik.
"Jangan. Please balik sekarang juga ya." Pinta Dona.
"Ya udah, ayo."
Setelah selesai membayar, Dona langsung berdiri dan berbalik, Aditya berjalan mendekatinya. Dengan sigap Dona melingkarkan lengannya ke lengan Aditya. Aditya berusaha menahan tawa karena melihat Dona yang salah tingkah. Keduanya berjalan
"Nggak nyangka ketemu Gilang di sini," ucap Aditya saat keduanya berjalan bersisian ke arah pintu keluar.
Namun, tiba-tiba langkah Dona memelan saat mendengar teriakan keras dari seseorang yang menyebut namanya.
"Donaaaaa..... Aku mencintaimu....."
Suara itu, adalah suara Gilang. Dona menggeleng kuat-kuat.
"Sabrina Dona Amelia, menikahlah denganku....." Teriak Gilang lagi yang akhirnya menjadi pusat perhatian semua orang.
'Tidak! Tidak! Jangan berbalik hanya gara-gara suara itu, Dona! ucap Dona dalam hati.
"Gilang, kamu apa-apaan sih? Mau buat Mama malu ya." Mama Gilang berusaha menarik Gilang agar kembali duduk.
Sementara perempuan yang ada dihadapan Gilang terlihat kesal dan mencari sosok wanita yang namanya disebut Gilang. Wanita bernama Audy itu menangkap sosok Dona yang masih berdiri mematung di pintu dengan posisi membelakangi mereka semua.
"Donaaa....." Lagi-lagi Gilang berteriak, namun Dona memilih berjalan cepat keluar restoran dengan menggandeng tangan Aditya.
"Dona.... izinkan aku memperbaiki semuanya." Kali ini suara Gilang terdengar parau.
***********
Kali ini, Aditya membawa mobil, ia tampak serius mengendarai mobilnya untuk mengantar Dona pulang ke rumah. Mobil melaju dengan pelan di tengah kemacetan sore, yang notabene para pekerja mulai pulang.
Dengan kepala bersandar, pandangan Dona lurus menatap ke luar mobil. Bayangan Gilang saat memanggil namanya tadi terus saja terngiang, tetapi Dona tak memedulikannya dan memilih pergi meninggalkan restoran itu tanpa menoleh sedikit pun.
Dona mendesah panjang dengan perasaan tak karuan. Ia memejamkan mata, ia merasa begitu berat jika terus menerus berada di dekat Gilang, karena ia tahu tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk mempertahankan hubungan mereka.
"Dunia ini memang sempit, Don." suara Aditya membuat Dona membuka mata. "Saat berusaha menjauh dari seseorang, tapi ia malah selalu hadir di sekitar kita. Saran ku, kalian bertemu dan duduk berdua. Biarkan dia menjelaskan apa yang memang perlu dijelaskan. Setelahnya terserah kamu mengambil keputusan gimana." Ucap Aditya dengan pandangannya yang terus fokus ke jalan raya.
Dona menghela napas panjang. "Aku heran sama kamu. Bukannya kamu bilang kamu cinta sama aku. Kenapa malah nyaranin aku untuk terus bertemu Gilang? Bukankah seharusnya kamu senang kalau aku menjauh dari dia. Jadi kamu bisa...."
"Don, aku bukan tipe orang yang seperti itu. Aku memang mencintai kamu dan tentu berharap kamu mau membalas perasaan ini. Tapi aku yakin kamu sendiri pasti lebih tahu bahwa sekarang bukan waktu yang tepat bagiku untuk memiliki hatimu, apalagi kamu baru saja putus dari Gilang. Dalam hati kamu pasti masih bimbang. Mungkin seiring berjalannya waktu nanti, semua akan kembali normal, tapi tetap saja, paku yang dicabut, pasti meninggalkan bekas di sana. Kecuali kalau ada yang baru, untuk menutup bekas paku itu. Dan kamu sendiri sudah siap untuk menerima kehadiran paku baru itu untuk menutupi lubang yang lama. Dan aku yakin, kamu pasti akan merawat luka mu itu sendiri dengan baik, tanpa mencari sosok baru hanya untuk menjadi pelampiasan. Dan aku ingin kamu jatuh cinta padaku di saat yang tepat, bukan karena cepat-cepat."
Setelahnya Dona tak menjawab dan mereka hanyut dalam keheningan sampai akhirnya sampai di rumah.
***********************
Dona mengerjap beberapa kali saat merasakan sinar matahari seakan menusuk mata. Tangannya yang berusaha mencari benda apa pun untuk menghalangi sinar itu, tetapi detik berikutnya ia segera tersadar dan terduduk cepat.
Dona mengedarkan pandangan dan melirik jam di dinding yang menunjukkan angka sembilan. Sedikit menerawang kejadian beberapa saat lalu, berpikir keras kenapa tiba-tiba dirinya sudah ada di kamar dan berganti pakaian bersih.
Dengan memijit pelipis pelan Dona perlahan ingat, entah bagaimana ceritanya, karena terakhir yang diingat sedang turun dari mobil Aditya lalu matanya terasa berat dan perlahan terpejam.
'Apa Aditya yang mengangkat ku?'
Perlahan Dona mulai beranjak dari ranjang, lalu menuju kamar mandi.
'Aduuh aku sudah sangat terlambat.'
Seusai mandi, Dona baru menyadari ada note dari Bu Nir di meja samping ranjang.
[Tadi kamu udah Ibu bangunin untuk sarapan dan berangkat ke kampus, eh kamu malah ngeluarin suara kebo. Itu dimakan bubur sama obatnya, kemarin kamu pingsan saat pulang dengan Aditya dan semalam badanmu agak panas. Hari ini nggak usah masuk kuliah dulu, Ibu sudah meminta Aditya untuk memberi kabar ke kampusmu. Ibu dan Bapak mu mau ke pasar untuk ambil barang. Dari: Ibu mu, emak-emak paling cantik se-kompleks.]
Dona tersenyum membaca tulisan itu. Perut yang sudah keroncongan membuat Dona membuka bubur ayam dan melahapnya cepat, sembari melihat beberapa pesan WA yang masuk, salah satunya dari Aditya.
[Maaf, Dit Semalam ketiduran.] balas Dona.
Detik berikutnya Aditya langsung menelepon.
"Dah baikan Don?" tanya Aditya dari seberang.
"Masih agak pusing Dit."
"Jangan capek-capek. Semalam Ibu kamu kasih tau aku kalau kamu demam. Heran juga kemarin kamu tiba-tiba pingsan saat turun dari mobil. Apa karena kamu gak tahan bau mulut aku ya?." Aditya mencoba untuk bercanda membuat Dona tertawa.
"Iya mulut kamu bau ikan ******."
Terdengar suara tawa Aditya.
"Sudah sarapan? Tadi aku udah ngasih tahu dosen yang masuk di kelas kamu."
"Ini lagi sarapan. Makasih ya."
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu kamu istirahat yang banyak ya. Jangan lupa minum obat. Aku mau masuk kelas dulu. Entar sore aku mampir."
"Oke."
Lantas panggilan berakhir.
Dona kembali menikmati makanan sembari melihat pesan yang lain. Kali ini dari nomor Gilang.
[Aku mencintaimu Don. Beri kesempatan pada hubungan kita sekali saja..]
Dona menghela napas panjang, ponsel kembali ia letakkan, karena memang tak berniat membalas pesan itu. Setelah makan, Dona lantas keluar rumah untuk mencari udara segar. Saat membuka pintu, betapa terkejutnya Dona melihat sosok Gilang tengah duduk dengan bersandar di kursi teras dengan mata terpejam.
'Sejak kapan ia di sini?'
Bahu Gilang terlihat naik turun secara teratur, sementara tangannya terlipat di dada. Gilang tampaknya tertidur sangat lelap. Sejenak Dona memperhatikan wajahnya yang bersih dari bulu halus itu.
'Takdir apa sebenarnya yang akan datang pada kita?'
"Donaaaaaaaa ...!"
Teriakan dari arah gerbang membuat Dona terlonjak kaget, bersamaan dengan Gilang yang gelagapan bangun dan langsung berdiri.
"Eh, Don. Aku ketiduran, ya? Maaf."
Dona hanya mengangguk samar, lalu mengalihkan ke ibu-ibu bertubuh gendut yang berteriak tadi.
Namanya Bu Sukma, tetangga berjarak tiga rumah dari rumah Dona. Ibu-ibu berstatus janda dengan usia 35 tahun itu memang terkenal heboh dan suka berteriak saat datang ke rumah Dona.
"Wah, pagi-pagi diapelin, ya? Cie cie akhirnya mau nikah juga," ucap Bu Sukma dengan nada centil. "Hati-hati Don, jangan berduaan, kata Bu Ustadzah nanti yang ketiga setan."
"Ini dateng yang ketiganya," balas Dona.
"Oh, iya, ya. Berarti saya setan dong? Ish, kamu bisa saja. Eh, tapi nggak apalah setan. Kalau cowoknya ganteng kayak Arya Saloka gini sih, godain seharian juga rela," ucap Bu Sukma sambil mengedipkan mata ke arah Gilang yang tampak bingung.
'Mungkin nyawanya belum terkumpul sempurna.'
"Hush!" Dona menyenggol lengan Bu Sukma pelan.
Bu Sukma terbahak, sementara Gilang hanya tersenyum tipis.
"Ada apa?" tanya Dona pada Bu Sukma.
"Ah iya, jadi lupa tujuan ke sini. Mau beli gula pasir sekilo sama mie instan dua bungkus, Don, buat sarapan."
"Oh, bentar. Aku ambilin, tunggu bentar ya, Bu Suk." Ucap Dona sambil berjalan masuk lewat pintu belakang toko.
"Kok busuk sih?"
"Kan Bu Sukma, ya disingkat aja jadi Bu Suk." Dona terbahak.
"Seenaknya ganti nama. Kalau gitu saya ganti nama dia jadi milikku saja boleh tidak?" Ucap Bu Sukma menunjuk Gilang.
"Udah berumur masih doyan daun muda." Dona tertawa sementara Gilang kembali duduk di teras rumah Dona.
Dona keluar dari dalam toko dan memberikan plastik berisi gula dan mi le instan ke arah Bu Sukma.
"Berapa Don?"
"Lima belas ribu."
Bu Sukma memberikan uangnya pada Dona lalu kembali melihat Gilang.
"Saya Sukma, Mas, tetangga baik dari yang terbaik di sini. Masnya ... pacarnya Dona, ya? Namanya siapa?" tiba-tiba ia menyodorkan tangan ke arah Gilang.
"Gilang."
"Uwuw, Mas nya ganteng banget, buat hatiku langsung jedag jedug. Ngomong-ngomong, siapanya Dona, Mas?"
"Calon–"
"Calon ketua RT." Dona memotong ucapan Gilang sambil merangkul pundak Lola, lalu mengajaknya berjalan ke arah gerbang.
"Serius ketua RT baru kita, Don? Aku harus siap-siap kalau mau punya ketua RT, berawal dari kenalan dengan ketua RT, siapa tahu nanti bisa ibu RT."
Dona tergelak mendengar ocehan janda centil itu. "Iyain aja deh."
"Nanti mintain fotonya dong, Don."
"Buat?"
"Buat nyicil dipasang di buku nikah."
"Hadeh, belajar make up yang bener dulu. Biar bisa menutupi usia yang udah tua." Ejek Dona.
"Salamin, ya, Don. Bilangin jangan kangen." Bu Sukma terus saja mencuri pandang ke arah Gilang.
Saat akan pergi, Bu Sukma pun terlebih dulu membalikkan badan dan melambaikan tangan ke arah Gilang, tak lupa melakukan gerakan kiss bye jarak jauh dengannya.
Dona yang melihat itu hanya bisa tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Saat berbalik dan akan kembali ke teras, senyum Dona yang tadinya mengembang langsung pudar. Seketika berganti menjadi salah tingkah karena Gilang ternyata tengah memperhatikannya.
"Kamu cantik, Don."
Dona terdiam.
"Maaf, Don. Aku datang kemari untuk meminta maaf dan aku ingin membuatmu jatuh cinta lagi padaku. Aku tidak akan menyerah."
Dona memijat pangkal hidung berkali-kali, kepala kembali pusing jika mengingat ucapan Gilang tadi sebelum akhirnya pergi. Gilang meninggalkan dua plastik besar berisi buah-buahan dan beberapa makanan, serta suplemen kesehatan.
'Dari mana dia tahu aku tengah sakit?'
Sudah hampir dua jam Dona termenung di ruang tamu sambil merebahkan tubuh di sofa panjang dengan mata yang terpejam, tetapi pikirannya ke mana-mana.
"Nggak semua barang yang rusak itu harus dibuang, Don. Ada beberapa yang masih bisa diperbaiki lagi, begitu pula dengan sebuah hubungan. Jika ada masalah, yang harus dihilangkan dan diselesaikan itu masalahnya bukan hubungannya," ucap Bu Nir saat Dona menceritakan semua keluh kesahnya.
Dona mendengar ucapan Bu Nir dengan serius.
"Tapi ada yang harus diinget, Don. Sekuat apa pun memperbaiki, pasti tidak akan pernah sama dengan awalnya. Jadi, sebisa mungkin jangan terlalu menaruh hati, karena jika suatu saat barang itu rusak lagi hatimu masih utuh kamu genggam," lanjut Bu Nir sambil mengelus kepala Dona lembut.
Dona menatap Bu Nir lekat lalu memeluknya erat.
'Bu, semoga sehat selalu. Aku menyayangimu.'
Bersambung....
__ADS_1