
Dunia perkuliahan kali ini benar-benar membuat Dona menjadi begitu sibuk dan serius dalam belajar. Di kehidupan terdahulu, ia menjadi lulusan terbaik dari fakultas ekonomi akuntansi. Kali ini, ia berusaha dengan giat agar kelak bisa menjadi lulusan terbaik di fakultas psikologi yang dipelajarinya.
Waktu yang berjalan begitu cepat, membuat Dona tak sadar bahwa sekarang ia sudah masuk di semester tiga perkuliahannya. Hubungannya dengan Gilang tetap berjalan lancar. Beberapa kali Gilang mencoba mempertemukan Dona dengan keluarganya. Namun, karena keluarganya yang sibuk membuat pertemuan itu tak kunjung terjadi. Begitu juga hubungannya dengan Aditya, semuanya berjalan baik. Persahabatan keduanya bahkan semakin erat. Sementara Raka, ia tetap berkabar melalui telepon dan belum pernah sama sekali kembali ke tanah air.
Pagi ini, Dona tengah berbaring di kamar karena tidak ada jadwal perkuliahan. Tiba-tiba pintu kamarnya terdengar digedor dengan keras.
"Siapa?" Tanya Dona heran karena suara ketukan pintu yang begitu kasar.
"Buka Don. Ini aku." Teriak Ayu dari depan pintu kamar Dona.
Dona bergegas membuka pintu kamarnya dan mendapati Ayu dengan wajahnya yang begitu panik.
"Kamu kenapa? Ngapain kesini? Bukannya kamu ada jam kuliah hari ini?" Cecar Dona.
Ayu nyelonong begitu saja masuk ke kamar Dona lalu duduk di atas tempat tidur Dona. Dona segera mendekati Ayu, ia merasa ada yang tidak beres dengan Ayu.
"Katakan! Ada apa sebenarnya? Lagi ada masalah ya sama Billy?" Tanya Dona yang dijawab gelengan kepala Ayu. "Terus?"
"Gawat Don. Ini gawat banget."
Dona semakin bingung, wajah Ayu berubah ketakutan.
"Gawat apanya sih?" Tanya Dona lagi.
"Aku harus gimana Don? Tolong bantu aku Don."
"Gimana caranya aku bantuin kamu, kalau aku gak tahu apa masalah kamu." Dona menatap Ayu tajam. "Katakan ada apa?"
Ayu menghela nafas panjang.
"Aku telat Don."
"Telat? Maksud kamu?"
"Telat Don. Aku telat bulan ini."
"Telat..." Dona tampak berpikir.
"Aku telat datang bulan Don."
Deg! Dona langsung memahami arah pembicaraan Ayu.
"Ma-maksud kamu, kamu belum datang bulan sampai sekarang? Sejak kapan? Kapan terakhirnya?" Cecar Dona.
__ADS_1
"Aku biasanya datang bulan tanggal 15-an. Sekarang udah tanggal 5 lagi. Jadi bulan lalu aku gak dapet Don. Aku harus gimana sekarang?" Ayu mulai terisak.
"Jangan bilang kamu udah....."
Belum selesai Dona berbicara, Ayu sudah mengangguk. Hal itu membuat Dona langsung menimpuk Ayu dengan boneka yang ada di pangkuannya.
"Gila kamu Yu. Kamu udah gak waras." Dona begitu kesal sampai terus memukuli Ayu dengan bonekanya.
Ayu hanya bisa menangis tanpa mencoba menghalangi Dona yang terus menimpukinya.
"Aku harus gimana Don?" Isak Ayu.
Dona kembali duduk disamping Ayu, pandangannya lurus ke depan, menatap pintu kamarnya yang masih terbuka. Sesaat Dona menghela nafasnya panjang.
"Sejak kapan?" Tanya Dona.
"Masih SMA, malam tahun baru." Jawab Ayu polos.
"Ya Tuhaaann...." Dona menepuk dahinya sendiri. "Kenapa kamu bisa kayak gini sih Yu?" Dona menatap Ayu yang terus saja menunduk. "Kenapa kamu jadi bodoh gini gara-gara cinta?"
Ayu semakin terisak. Tak ingin ada yang mendengar tangisan Ayu, Dona bergegas menutup pintu kamarnya. Setelah itu kembali duduk disamping Ayu.
"Yu, aku gak pernah berpikir kalau kamu sampai kayak gini. Jujur aja, setelah pacaran sama Billy kamu emang berubah. Udah gak seperti Ayu yang dulu polos. Tapi, aku tetap percaya bahwa kamu bisa jaga diri kamu sendiri. Dan kenyataannya...."
"Ngapain kamu minta maaf sama aku. Harusnya kamu minta maaf sama orang tua kamu karena udah kecewain mereka." Dona menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Kamu udah kasih tahu Billy?" Ayu menggeleng. "Sekarang yang harus dilakukan adalah memastikan apa kamu lagi isi atau gak. Berharap aja gak, tapi kalau memang kamu lagi ngisi, segera kasih tahu Billy biar dia tanggung jawab. Awas aja kalau dia sampai lepas tangan."
"Gimana caranya buat pastiin aku ngisi atau gak? Aku gak mungkin periksa ke dokter kan? Terus kalau mau beli tespack, malu."
"Ngapain malu? Ngelakuinnya aja kamu gak malu." Dona tampak geram.
"Bantuin aku Don, please....." Ayu mengguncang tubuh Dona.
"Oke... Oke... Sekarang cepetan siap-siap." Dona berdiri dan mengambil masker di dalam laci mejanya lalu memberikan pada Ayu. "Pakai ini saat masuk apotik nanti."
"Temenin Don...."
"Iya...." Pekik Dona.
Setelah Dona berganti pakaian, keduanya bergegas menuju sebuah apotik yang agak jauh dari tempat tinggal Dona. Hal itu dilakukan karena takut jika nantinya ada yang mengenali Dona dan berpikir yang tidak-tidak jika mengetahui Dona membeli alat tes kehamilan.
Tiba di apotik, Dona dan Ayu yang telah memakai jaket lengkap dengan hoodie dan masker masuk ke dalam dan berdiri di depan penjaga apotik.
"Permisi mbak, mmmm saya mau beli...." Ucapan Ayu terhenti, ia menatap sekeliling ruang apotik, memastikan tidak ada orang lain yang akan mendengar ucapannya selain Dona dan penjaga apotik.
__ADS_1
"Tespack." Ucap Dona cepat.
"Mau yang bagaimana mbak? Mau yang model...."
"Pokonya yang paling akurat." Ucap Dona dengan cepat memotong ucapan si penjaga apotik.
Setelah membayar, Dona dan Ayu dengan cepat keluar dari apotik dan segera menuju motor Ayu. Tanpa di sangka, dari dalam mobil yang terparkir di samping motor Ayu ada sosok Siska yang memperhatikan keduanya.
"Sepertinya itu Ayu sama Dona deh." Ucap Siska sambil terus mengintai keduanya yang tengah mengenakan helm.
Ayu yang tak terbiasa mengenakan masker, menurunkan masker yang menutupi hidung ke dagunya lalu mulai mengendarai motornya meninggalkan pelataran parkir apotik.
"Gak salah lagi. Itu memang Ayu dan Dona. Tapi kenapa mereka seperti tengah mengendap-endap? Mencurigakan."
Siska turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam apotik. Dia memang hendak membeli obat untuk sang Mama yang tengah sakit di rumahnya.
"Mbak, ada obat ini gak?" Tanya Siska menyodorkan sebuah kertas resep obat yang diberikan dokter.
"Ada. Tunggu sebentar ya." Balas penjaga apotik.
Tak menunggu lama penjaga apotik kembali dengan obat ditangannya. Lalu memberikan kepada Siska.
"Totalnya tiga ratus lima puluh ribu."
Siska memberikan uang cash sejumlah empat ratus ribu.
"Oh ya mbak, tadi dua orang cewek itu beli obat apa ya?" Tanya Siska.
"Mmmmm...."
"Tadi itu temen aku, Ayu sama Dona. Aku penasaran aja..."
"Tespack mbak...." Jawab penjaga apotik.
Siska tampak terkejut, namun bibirnya secepat kilat menyungging.
"Kembaliannya buat mbak aja. Terima kasih ya infonya." Ucap Siska lalu keluar dari apotik.
Siska masuk ke dalam mobil dan segera mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Ratu.
"Ini akan jadi kehancuran salah satu dari kedua cewek gatel itu." Siska tertawa lalu mulai mengendarai mobilnya.
Bersambung.....
__ADS_1