
Satu bulan berlalu...
Gilang tak kunjung mendapatkan waktu yang tepat untuk menjalankan rencana yang sudah dirancangnya. Dona sangat sulit untuk ia jangkau, Dona dan dirinya benar-benar sudah seperti dua orang asing yang tak pernah saling mengenal.
Pernah suatu hari keduanya bertemu dan bertatap muka di acara syukuran atas kelahiran baby Kenzo. Gilang sudah mencoba untuk menyapanya, tapi Dona hanya sekedar membalas sapaan darinya lalu pergi.
Dona sendiri sejak awal sudah bertekad untuk melupakan Gilang dan memfokuskan hubungannya dengan Aditya. Dona dan Aditya sudah merancang mimpi mereka di masa depan. Kedua orang tua Dona bahkan sangat menyetujui hubungan mereka. Bu Nir bahkan menginginkan keduanya untuk segera menikah. Tapi, baik Dona maupun Aditya ingin menyelesaikan pendidikan mereka terlebih dulu.
"Soal menikah itu gampang Bu. Tapi aku sudah sepakat sama Adit untuk tidak menikah dalam waktu dekat. Karena akan sangat susah membagi waktu nantinya jika harus menikah sambil menjalani kuliah." Ucap Dona pada Bu Nir saat menyarankannya untuk menikah muda. "Belum sibuk dengan urusan melayani suami, belum lagi kalau aku sampai hamil dan punya anak. Jadi Ibu sabar aja ya untuk punya mantu 2 tahun lagi." Goda Dona.
"Kelamaan Don. Ibu juga kan pengen pamer sama teman arisan Ibu, kalau Ibu itu punya mantu yang ganteng dan mapan."
Dona hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan ibunya.
*************
Hari ini Dona mendapat sebuah undangan seminar yang akan dilaksanakan disebuah ballroom hotel kenamaan dengan menghadirkan beberapa narasumber kenamaan dalam ilmu psikologi.
"Beneran gak mau diantar?" Tanya Aditya via telepon.
"Kamu kan harus masuk kelas Dit. Aku bisa pergi sendiri kok."
"Mau aku jemput pulangnya?"
"Kamu kan masih di kelas. Entar aku pakai ojol aja Dit."
"Gak bawa motor?"
"Gah ah, takut macet. Maklum, lokasi hotelnya kan di pusat kota."
"Ya udah, hati-hati ya sayang. Kabarin aku kalau udah selesai."
"Siap bawel."
Aditya terdengar tertawa, lalu sambungan telepon terputus. Dona bergegas keluar rumah, menunggu ojol di depan toko. Dan tak butuh waktu lama, ojol pun datang. Dona segera pamit dengan kedua orang tuanya lalu beranjak pergi.
Butuh waktu sekitar 45 menit bagi Dona untuk tiba di tempat tujuan karena jalanan yang macet. Dan untungnya Dona masih bisa datang tepat waktu. Dona tiba di tempat acara seminar tepat saat acara baru saja dibuka. Dengan segera Dona mengambil posisi yang sudah disediakan untuk tempat ia akan duduk.
Dona mulai fokus mengikuti jalannya seminar. Hingga saat sesi tanya jawab pun, ia sangat antusias untuk bertanya. Dona sendiri sebenarnya tidak menyangka bahwa ia akan mendapatkan undangan seminar ini. Ia pun seolah menunjukkan eksistensinya dengan ikut berkomentar saat sesi tanya jawab. Dona ingi sekali dikenal banyak orang akan prestasinya. Dan benar saja, pesona Dona langsung mencuri perhatian banyak orang.
Saat acara seminar usai, banyak mahasiswa lainnya yang berkenalan dengan Dona, termasuk narasumber yang juga terpukau dengan apa yang dipaparkan Dona.
Tanpa disangka, Dona nyatanya bertemu dengan Gilang yang nyatanya merupakan pemilik dari hotel mewah itu.
"Hei.... Kebetulan sekali bertemu disini." Ucap Gilang. "Terakhir kita bertemu itu, kalau tidak salah di rumahnya Billy. Iya kan?"
Dona hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kesini sama siapa?"
"Sendiri." Balas Dona singkat.
"Oh, mau duduk-duduk untuk ngopi atau ngobrol dulu." Ajak Gilang.
"Lain kali aja deh Lang. Aku mau langsung pulang."
"Ah begitu. Oke, kalau begitu hati-hati di jalan."
"Tentu." Dona mengangguk lalu melangkah pergi.
"Don...." Teriak Gilang yang membuat Dona berbalik. "Kamu melupakan sesuatu." Gilang mendekati Dona memberikannya sebuah bingkisan.
"Apa ini?" Tanya Dona.
"Bingkisan dari acara seminar tadi."
"Ha?" Dona tampak bingung.
'Seingat ku peserta lain tadi tidak ada yang mendapatkan ini.'
Dona kembali menatap Gilang. "Oh, makasih. Aku pergi dulu ya." Ucap Dona dibalas anggukan oleh Gilang.
Dona melangkah pergi dan perlahan melihat kedalam bingkisan berupa paper bag yang dalamnya terdapat sebuah buku bacaan karya narasumber dari seminar tadi. Sebuah buku tulis dan bolpoin mewah dan sebotol minuman teh hijau dengan desain botol yang terlihat sangat unik.
Dona memilih duduk di lobi hotel dan mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu memesan jasa ojek online. Setelah itu, Dona terlihat tertarik dengan teh hijau yang dilihatnya tadi. Dona pun membuka botol unik itu dan mulai meminum teh itu.
__ADS_1
"Hmmmm enak banget." Ucap Dona seraya kembali meneguk teh itu.
Dona kembali menutup botol itu dan memasukannya ke dalam tas. Ia kemudian berdiri dan hendak melangkah keluar hotel. Namun pandangan Dona mendadak kabur, kepalanya terasa begitu pening. Mendadak Dona limbung dan entah dari mana datangnya tiba-tiba Gilang lah yang menangkap tubuh Dona agar tak terjatuh ke lantai.
"Kamu kenapa Don?" Tanya Gilang.
"Aku pusing. Bisa...." Pandangan Dona seketika gelap, sementara Gilang tampak menahan senyumannya.
Beberapa orang mengerumuni Dona terutama karyawan hotel karena melihat bos mereka yang secara langsung mengangkat tubuh Dona.
"Pak...."
"Kalian tenang saja. Dia kekasih saya, penyakitnya sedang kumat. Sekarang juga siapkan kamar untuk dia istirahat." Titah Gilang.
"Baik Pak."
Gilang melangkah menuju lift dengan menggendong Dona. Orang-orang tak berkomentar dan hanya bisa melihat.
Gilang tiba di kamar lantai paling atas, dimana kamar itu memang merupakan kamar yang dikhususkan untuk dirinya jika sedang ingin tidur di luar rumah.
Gilang melangkah masuk saat pintu dibuka oleh petugas hotel. Gilang langsung meminta si pelayan itu untuk pergi meninggalkannya dengan Dona berdua. Gilang meletakkan tubuh Dona di atas tempat tidur. Gilang lalu masuk ke kamar mandi. Saat keluar Gilang tak lagi mengenakan setelan jasnya, ia sudah mengenakan jubah mandi.
Gilang tersenyum memandang wajah Dona, ia lalu mengelus wajah Dona dengan lembut.
"Maafkan aku Don, karena harus mengambil jalan pintas seperti ini. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membuat kamu bisa menjadi milik aku lagi."
Perlahan Gilang mulai membuka satu persatu pakaian yang dikenakan Dona. Nafasnya mulai memburu saat melihat tubuh Dona yang sudah polos tanpa tertutup sehelai kain pun. Gilang menelan ludahnya. Tubuhnya mulai panas dingin. Ia lalu beralih ke arah meja, membuka laci dan mengambil sebuah jarum suntik yang sudah diisi dengan cairan cyclofem.
Cyclofem adalah salah satu jenis kontrasepsi yang mengandung medroxyprogesterone acetate dan estradiol cypionate yang merupakan alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan.
Gilang lalu menyuntikkan cairan itu pada tubuh Dona.
"Jika ini berhasil, maka kau tidak akan datang bulan. Otomatis kau akan mengira bahwa dirimu tengah hamil. Dengan begitu kau akan meminta tanggung jawab dariku. Dan kau akan menjadi milikku selamanya." Seringai Gilang.
Setelah setengah jam menahan dirinya, Gilang pun mulai mendekati tubuh Dona. Ia mulai membuka jubah mandinya dan mulai menciumi setiap inci tubuh Dona.
"Menurut apa yang dikatakan Billy, sebentar lagi kau akan sadar. Tapi kau belum bisa melakukan apa-apa selain mendengar dan secara perlahan kau akan merasakan apa yang aku lakukan pada tubuhmu."
Tubuh polos Dona mulai ternodai dengan ciuman dan banyak tanda yang ditinggalkan Gilang mulai dari leher, dada hingga sekujur tubuhnya.
"Aku dimana? Siapa kau?" Tanya Dona.
"Dona sayang, ini aku."
"Gi... Gilang... Apa yang sedang kau lakukan?" Dona mulai gugup, namun ia benar-benar tak bisa merasakan apapun, meski tangannya sudah bisa digerakkan.
"Apalagi sayang. Apa kau tak lihat bahwa tubuh kita berdua sudah tak mengenakan apapun?"
"A....aapa yang kau lakukan Gilang? Lepaskan aku." Air mata Dona mulai mengalir.
Gilang semakin beringas, ia bermain di bagian dada Dona. Dona perlahan sudah bisa merasakan sentuhan Gilang. Namun anehnya ia tak bisa melakukan apapun, kepalanya begitu pening. Penglihatannya masih kabur, untuk menengok ke kiri saja sangat sulit ia rasakan.
"Gilang, tolong lepaskan aku."
"Tidak sayang. Kau akan jadi milikku mulai hari ini."
Tangan Gilang perlahan beralih pada bagian sensitif Dona. Dona mengerang, air matanya mengalir deras. Ia menutup mata, bayangan Aditya mulai berputar dalam pikirannya.
"Kau apakan tubuhku Gilang? Kenapa aku tidak bisa bergerak?"
"Tenang saja sayang, sebentar lagi kau akan merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara."
"Tidak, tolong lepaskan aku."
Gilang beralih mencium bibir Dona. Dona berusaha menutup mulutnya, namun Gilang lebih kuat. Tangan Gilang sudah tak terkendali, ia mengelus semua bagian tubuh Dona membuat Dona meringis.
"Aku mulai ya sayang."
"Ja-jangan."
Dona merintih kesakitan saat Gilang berusaha menerobos pertahanannya. Dona memohon untuk Gilang bisa menghentikan aksinya. Keringat Gilang mulai mengucur deras, pertahanan Dona begitu kuat hingga membuatnya mengambil nafas dalam-dalam dan dalam sekali hentakan akhirnya ia berhasil menerobos pertahanan Dona.
'Hancur sudah, hidupku hancur. Tidak ada lagi...'
Air mata Dona terus mengalir deras. Perlahan Gilang mengusap air mata Dona dan mengusap kening Dona yang berkeringat lalu menciumnya dengan lembut.
__ADS_1
"Maafkan aku. Aku melakukan ini semua karena aku sayang sama kamu. Aku mau kamu kembali jadi milik aku. Itu aja."
Dona terdiam, ia tak mengatakan apapun kecuali suara isakan nya yang terdengar pilu. Sebenarnya dalam hati kecil Gilang, ia sangat terluka melihat Dona menangis. Tapi karena ia sudah dibutakan oleh hati dan nafsu hingga ia sampai tak menghiraukan tangisan Dona dan terus melanjutkan perbuatannya.
Gilang mulai melakukannya dengan lembut, ia seperti mencurahkan seluruh cintanya pada Dona. Sedikitpun ia tak berlaku kasar pada tubuh Dona. Berkali-kali ia menciumi Dona dengan lembut. Tubuh Dona mulai menggeliat.
"Lihat sayang, kau akhirnya menikmati apa yang kita lakukan."
Dona mengumpat dalam hati, ia sangat membenci apa yang terjadi. Ia merasa begitu terhina dan direndahkan. Tapi tubuhnya justru berkata lain, meski hatinya tak menyukai apa yang tengah terjadi namun tubuhnya mulai merespon lain.
Gilang mulai mempercepat gerakannya hingga membuat tubuh Dona bergetar. Sekali lagi Gilang mencium kening Dona lembut.
"Mulut dan tubuhmu merespon dengan berbeda sayang. Kau sangat menikmatinya. Lihat, kau sudah lebih dulu dibanding aku."
Dona memiringkan kepalanya, ia merasa sangat pusing dan mual hingga akhirnya ia muntah. Tanpa menghiraukan hal itu Gilang kembali mempercepat gerakannya dan sudah tidak beraturan lagi, hingga akhirnya tubuhnya mengejang dan Dona merasakan sesuatu yang hangat mengalir dalam tubuhnya.
Gilang langsung menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, sementara tubuh Dona ia tutup dengan selimut.
Perlahan-lahan Dona sudah mulai bisa merasakan seluruh tubuhnya dan ia tak lagi mual. Dona mencoba untuk duduk, namun saat mencoba untuk berdiri ia kembali limbung. Gilang yang tengah duduk menikmati kopi langsung mendekati Dona.
"Jangan sentuh aku. Kau bajingan." Teriak Dona yang kembali berusaha berdiri.
Gilang mengangkat kedua tangannya dan mundur perlahan.
"Kau sudah tidak bisa lari lagi dariku. Kau sudah menjadi milikku."
"Siapa bilang aku sudah menjadi milikmu? Dengan apa yang kau lakukan padaku hari ini, apa kau pikir aku akan langsung menerimamu? Jangan bermimpi."
"Jadi maksudmu, kau akan tetap bersama Aditya. Apa kau pikir Aditya akan menerimamu dengan kondisimu yang seperti ini?"
Dona terdiam, hanya air matanya yang mengalir saat Gilang menyebutkan nama Aditya.
"Okelah, anggap saja Aditya akan menerimamu. Ya secara dia itu terlihat cinta mati padamu. Mungkin saja dia akan tetap mau menerimamu meski sudah bekas aku pakai."
"Kau benar-benar kurang ajar Gilang. Aku tidak menyangka kau sampai melakukan hal merendahkan seperti ini."
"Aku sudah mengatakan padamu sayang. Semua adil dalam perang dan cinta. Jadi aku bisa melakukan apa saja untuk membuatmu kembali padaku. Karena aku sangat mencintaimu, jadi aku ingin kau jadi milikku selamanya."
"Ini bukan cinta, tapi...."
"Tapi apa?" Gilang memotong ucapan Dona. "Katakan padaku. Jika kau tetap tak mau bersamaku, bagaimana jika kau hamil? Apa yang akan kau lakukan? Apa kau masih berpikir bahwa kau bisa bersanding bersama orang lain?"
Dona kembali terdiam.
"Oke fine. Katakanlah ada lelaki bodoh yang mau menerima wanita yang hamil padahal bukan anaknya. Tapi apa kau bisa setega itu. Atau jangan-jangan kau mau menggugurkan kandungan mu? Ah jangan pernah berharap seperti itu, karena itu juga anakku. Jadi, aku tidak akan membiarkanmu melakukannya."
"Aku belum tentu hamil. Jadi kau jangan terlalu banyak berharap."
"Ya, kita lihat saja nanti."
Dona kembali berusaha melangkah menuju kamar mandi. Langkahnya masih sempoyongan, Gilang kembali hendak menolongnya.
"Jangan sentuh aku. Aku jijik padamu."
Gilang tertawa.
"Dona sayaaang. Jika kau jijik padaku, apa kau tidak berpikir bahwa Aditya akan jijik padamu karena sudah tidur denganku?"
"Diaaam..." Teriak Dona.
Dengan air mata berderai secara perlahan Dona berjalan ke kamar mandi setelah memungut pakaiannya.
Dona mengguyur seluruh tubuhnya dengan air yang keluar dari shower. Ia menggosok setiap sudut tubuhnya dengan kasar. Berulang kali ia berteriak, memaki dan mengutuk kebodohannya hingga bisa terjadi hal seperti ini.
Rasa sakit di bagian sensitif nya masih bisa ia tahan dibanding dengan rasa sakit dihatinya. Bayangan wajah Aditya yang tersenyum menari-nari dihadapannya. Dalam guyuran air yang membasahi tubuhnya, air mata Dona ikut mengalir deras.
"Dit, maafin aku...." Isak Dona lalu kembali berteriak.
Di luar pintu kamar mandi, Gilang berdiri dengan bersandar. Tanpa ia sadari, air matanya imut mengalir mendengar isakan dan teriakan Dona dari dalam kamar mandi. Ia merasa begitu terluka mendengar tangisan Dona.
"Maafin aku Don...."
'Aku janji, setelah kita menikah nanti, aku akan memberikan seluruh kasih sayangku padamu. Aku akan mencintaimu setulus hatiku. Aku tidak akan membiarkan kau menangis lagi.'
Bersambung.....
__ADS_1