
Aditya mendekatkan wajahnya ke wajah Dona. Kali ini Dona mulai menutup kedua matanya ketika bibir Aditya hampir menyentuh bibirnya. Aditya dapat merasakan hangat napas Dona tepat di wajahnya. Napas yang membuat Aditya bertahan hidup hingga saat ini.
Aditya tidak tahu sihir apa yang Dona punya hingga bisa membuatnya begitu tergila-gila seperti ini.
'Istriku, tidak kah kau tahu. Kau itu terlalu mempengaruhi hidupku. Kau selalu saja terlibat dalam setiap hari-hariku, bahkan ketika kau sedang tidak ada disamping ku. Bayanganmu terus saja berkeliaran di dalam pikiranku. Ikatan mu terlalu kuat hingga aku tidak bisa terlepas sama sekali.'
“Dit…” Dona kembali membuka matanya beberapa saat kemudian.
Mungkin Dona heran karena Aditya belum juga menyentuh bibirnya. Aditya memang sedang ingin memandangi wajah cantik istrinya itu.
Aditya mengelus pipi Dona dan masih melingkarkan tangannya di pinggang Dona. Dona tersenyum kemudian kembali memejamkan matanya. Aditya menggerakkan kepalanya mendekat ke arah Dona. Fokus matanya kali ini adalah bibir Dona.
'Sungguh ini adalah hal yang paling aku tunggu, aku berharap bisa menghabiskan malam ini denganmu. Berdua meluapkan semua cinta yang sudah tidak terbendung. Merasakan hal yang selama ini hanya ada dalam bayanganku.'
“Sayang....” Dona membuka mata saat menyadari Aditya melepaskan bibirnya.
Dan saat bibir Dona terbuka untuk kembali berucap, Aditya kembali menciumnya lebih dalam dari sebelumnya. Dona sedikit kaget karena Aditya melakukannya secara tiba-tiba. Aditya melakukannya dengan lembut dan sangat hati-hati, dia tidak ingin Dona merasa tidak nyaman.
Aditya hanya ingin mereka berdua menikmati semuanya, dan merasakan sensasi luar biasa saat melakukannya.
Entah sejak kapan posisi keduanya berubah jadi seperti saat ini. Dona sudah berada di bawah tubuh Aditya saat ini. Aditya memeluk pinggangnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menekan ranjang untuk menahan bobot tubuhnya sendiri agar tidak terlalu menindih Dona dan membuatnya merasa sesak.
“Engh…hmm….” Suara itu mengalun begitu saja ke dalam telinga Aditya.
Sungguh Aditya tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini.
'Semuanya terasa sangat…. Ah… benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.'
Kembali Aditya mencium bibir Dona dengan lebih dalam. Tangan kanannya yang melingkar sempurna di pinggang Dona sedikit mengangkat punggungnya hingga kini tubuhnya benar-benar menempel dengan tubuh Aditya.
Aditya dapat merasakan detak jantung Dona yang berdebar kencang, napasnya yang terengah-engah bahkan terasa hangat tepat di depan hidung Aditya.
“Sa...yang….” Dona mendorong dada Aditya hingga membuat Aditya melepaskan pelukannya di pinggang Dona kemudian mengelus dahinya untuk menyingkirkan rambut yang menjulur ke wajahnya. Aditya dapat merasakan dahi Dona yang sedikit basah karena keringat.
“Kenapa?” Aditya membelai pipi Dona dengan tangan kanannya.
Saat ini Aditya bahkan masih berada di atas tubuh Dona dan menahan bobot tubuhnya sendiri dengan satu tangan.
“Aku takut.” Tiba-tiba perkataan itu membuat Aditya terhenyak.
'Apakah itu yang sedang dirasakan istriku sejak tadi hingga membuat dia berkeringat seperti ini. Apa aku harus melakukannya malam ini juga? Apa semuanya tidak terlalu cepat. Apakah istriku masih trauma dengan apa yang pernah terjadi padanya, dan pastinya dia merasa ketakutan?'
Semua pertanyaan itu berkecamuk di pikiran Aditya.
“Kalau begitu, tidak usah untuk malam ini. Tidak apa-apa jika kau takut, aku tidak akan memaksamu."
Aditya tersenyum kearah Dona yang memang terlihat gugup. Aditya dapat melihat dari mata Dona yang terlihat khawatir.
'Lalu apa aku harus menghentikan nya ketika sudah sampai tahap sejauh ini?'
Mereka berdua bahkan sudah terbaring di atas ranjang.
'Apakah aku bisa benar-benar menghentikannya sekarang juga?'
Aditya lagi-lagi bertanya pada dirinya sendiri.
'Baiklah, kurasa aku tidak boleh egois dan mementingkan diriku sendiri. Aku harus memperhatikannya juga, aku harus mengerti perasaannya, dia itu sedang gugup dan cemas.'
Aditya tidak ingin Dona melakukannya dengan perasaan takut seperti itu. Aditya ingin Dona melakukannya dengan yakin tanpa ada keraguan.
Aditya mulai bangkit dari posisinya, kemudian berbaring disamping Dona. Aditya menarik napas dalam-dalam untuk mengatur debaran jantungnya. Sedikit merasa kesulitan karena dirinya memang sudah terlalu jauh melakukannya barusan.
“Dit....” Dona bangkit dari posisinya, memperhatikan Aditya yang masih terbaring.
Aditya melirik ke arahnya dan bersiap untuk bangkit, tapi kemudian Dona menahan bahu Aditya dengan kedua tangannya. Membuat Aditya bingung dengan sikap Dona yang tiba-tiba menjadi seperti ini.
“Aku tidak takut. Aku sudah dewasa, aku ini sudah menikah dan mempunyai suami. Tidakkah semua wanita yang sudah menikah akan melakukannya.”
Dona berbicara tepat di atas wajah Aditya.
'Ya Tuhan, rasanya seperti mendapat segelas air ketika aku sedang merasa kehausan.'
Kata-kata Dona begitu menyenangkan ketika masuk ke dalam telinga Aditya.
“Apa kau yakin dengan apa yang baru saja kau katakan, huh?”
Aditya memandang wajah Dona masih dengan posisinya yang berbaring dan ditahan oleh kedua tangan Dona. Dona tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, membuat Aditya sedikit terkejut ketika dia melakukannya.
'Apakah ini istriku, Dona? Mengapa begitu berbeda ketika dia melakukan ini padaku.'
“Aditya, aku mencintaimu.” Dona berbisik di telinga Aditya, membuat Aditya merinding sesaat karena udara yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
“Aku….hmmmp….” Aditya tidak dapat melanjutkan ucapannya karena Dona sudah menutup bibir Aditya dengan bibirnya.
'Apa ini Dona? Mengapa istriku yang polos bisa melakukan hal ini padaku.'
Aditya benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja Dona lakukan padanya. Dona menempelkan bibirnya di bibir Aditya dan tidak menggerakkannya sedikitpun. Dona menindih tubuh Aditya tanpa menahannya sama sekali, membuat Aditya sedikit sesak karena tubuh Dona yang berada di atas tubuhnya. Tapi Aditya merasa baik-baik saja, karena bobot tubuh Dona memang tidak terlalu berat.
Aditya merasa sangat senang karena saat ini posisi Dona benar-benar berada di atas tubuhnya. Dona pasti dapat merasakan debaran jantung Aditya yang tidak karuan, karena dadanya yang tepat menempel di dada Aditya.
Aditya yang gemas dengan kelakuan Dona segera mencium bibir Dona, tangan kanannya bergerak ke tengkuk Dona dan sedikit menekannya untuk memperdalam ciumannya. Tangan kanan Aditya mengelus lembut punggung Dona.
Tanpa aba-aba Aditya memutar tubuhnya ke samping hingga posisi mereka kali ini berbalik. Aditya lah yang berada di atasnya, kali ini Aditya lah yang menguasai tubuh Dona. Aditya yang mengambil kendali atas semuanya.
"Biarkan aku yang memulainya, sayang." Bisik Aditya.
“Engh…hmmm mmh…. “
Suara pelan yang terdengar seperti ******* itu keluar begitu saja, saat Dona merasakan tangan liar Aditya menelusup ke dalam dress tidur putihnya melewati pahanya kemudian bergerak ke perutnya. Aditya meraba perut datar Dona, membuatnya sedikit menggeliat dan membuat Aditya semakin menggila. Aditya kembali mencium bibir Dona lebih dalam dari sebelumnya.
“Mmmmph…“
Dona merasakan seluruh tubuhnya lemas saat tangan liar Aditya menelusup ke balik dress tidurnya, perlahan membelai pahanya kemudian bergerak menuju perutnya dan akhirnya berhenti disana. Dona merasakan tangan kanan Aditya meraba perutnya, membuat Dona merasakan sebuah sensasi yang benar-benar tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata, semuanya mengalir begitu saja. Semua perasaan itu, rasa takut, rasa gugup, semuanya hilang saat Aditya menjelajahi tubuhnya dengan lembut.
“Engh,,, mppph….”
Ciuman Aditya semakin menggila saat suara pelan itu keluar begitu saja dari mulut Dona yang kini sedang dikuasai Aditya. Dona benar-benar berada di bawah kekuasan Aditya dan tidak dapat melakukan apapun, Dona tidak bisa menolak semuanya. Ternyata suara pelan yang terdengar menjijikan bagi Dona itu bisa membuat Aditya menjadi semakin mengeratkan cengkraman nya di tengkuk lehernya, menekan kepala Dona untuk memperdalam ciumannya. Aditya mencium bibir Dona lebih dalam dari sebelumnya.
“Hmmmmph….”
Dengan sekuat tenaga Dona mendorong tubuh Aditya menjauh, membuat dia menarik tangan kanannya yang sedang bermain di balik dress tidur Dona kemudian menatap Dona dengan bingung. Dona merasakan perih di bibirnya.
'Aish, dasar bodoh. Kenapa kau merusak kegiatan menyenangkan ini?'
“Em… Ada apa?” Tanya Aditya dengan membulatkan matanya karena bingung.
Dona dapat melihat sedikit rasa kesal di sana. Mungkin karena Dona yang tiba-tiba menghentikan semua kegiatan yang sedang dia lakukan.
“Kenapa kau menggigit bibirku?” Dona berteriak tepat didepan wajah Aditya, membuatnya memundurkan kepalanya menjauh.
Dona segera mendorong tubuh Aditya yang masih menindihnya hingga Aditya bangkit dari posisi yang terlalu menempel ini. Tapi Aditya masih saja menampakan wajah polos dengan ekspresi yang sama dengan sebelumnya.
“Ah…. Mmm… sayang… aku tidak sengaja” Ujar Aditya dengan sedikit terbata-bata.
Aditya mengangkat tangan kanannya untuk menyeka bibirnya yang basah. Bahkan Aditya tidak berani melihat mata Dona yang sedang menatap tajam ke arahnya.
“Kau ini kanibal huh? Kau mau memangsa ku hidup-hidup?”
Dona terus saja mengomel di depan wajah Aditya. Sebenarnya tidak begitu sakit, hanya saja Dona kaget ketika Aditya melakukannya.
“Maaf, aku hanya terlalu bersemangat. Aku benar-benar menggila ketika kau memberikan sebuah respon terhadapku.”
Aditya menggaruk belakang kepalanya dengan sedikit malu. Dahinya mengkerut dengan tatapan yang tidak fokus.
'Bodoh, kau telah merusak suasana yang sangat menyenangkan dan momen yang benar-benar sedang aku nikmati.' ucap Dona dalam hati.
“Sudahlah. Aku ingin tidur.”
Dona kembali berbaring lurus dan menarik selimut tinggi-tinggi sampai ke lehernya.
Dona melihat Aditya menggeser posisinya lebih dekat ke arahnya, kemudian menahan kepalanya dengan tangan kanan. Dona mencoba meliriknya dengan ekor matanya. Saat ini posisi Aditya benar-benar dekat, dan itu membuat jantung Dona berdebar hebat. Dona melihat mata Aditya yang sayu. Terlihat sangat tampan.
“Ayo kita ulangi lagi. Huh, mau sayang?”
Aditya menyentuh ujung hidung Dona dengan telunjuknya, membuat Dona hampir tersenyum karena perlakuannya.
'Ya ampuun, apa yang pria ini lakukan padaku hingga membuatku benar-benar tidak bisa marah padanya.'
“Aku sedang menikmati semuanya tapi kenapa kau tiba-tiba mengigit bibirku?”
Dona menggembungkan pipinya dengan pandangan kesal, sedangkan Aditya hanya menampakan wajah tanpa dosanya.
“Sayang, sudah ku katakan. Aku hanya terlalu bersemangat. Ayo kita coba lagi."
Aditya tersenyum lebar sembari menyentuh bahu Dona dengan telunjuknya.
“Sudahlah, aku sudah tidak ingin.” Jawab Dona dengan tegas.
Sebenarnya Dona bukan tidak ingin, hanya saja ia malu jika harus mengulanginya dari awal. Dona bahkan sudah memakinya berkali-kali sejak tadi.
“Baiklah, aku tau ini semua salahku. Oke. Aku janji akan lebih lembut melakukanya.”
Aditya membulatkan matanya dengan tatapan penuh harap. Dona mengabaikannya dan membalikan tubuhnya memunggungi Aditya.
__ADS_1
“Ya sudah, tidurlah sekarang sudah malam. Besok kita masih mempunyai banyak kegiatan menarik. Selamat tidur sayang.”
Dona dapat merasakan Aditya menepuk pundaknya pelan. Dona sedikit merasa bersalah karena menolaknya begitu saja. Dona lalu membalikan badannya ke arah Aditya yang ternyata sudah memejamkan mata.
Dona memandangi wajah tampan Aditya yang terlihat sangat polos. Bibirnya, Dona baru merasakannya lagi beberapa saat yang lalu.
'Dan kau benar-benar membuatku gila Aditya. Ikatan mu terlalu kuat hingga aku bahkan tidak mampu melepaskan mu.'
“Apa aku ini sangat tampan, huh?”
Tiba-tiba Aditya membuka matanya dan berhasil memergoki Dona yang sedang memandangi wajahnya.
'Ya ampuuun, memalukan sekali.'
“Ish, kau ini terlalu percaya diri suamiku sayang.” Balas Dona kemudian menjepit hidung mancungnya dengan jarinya, membuat Aditya tertawa geli kemudian menarik Dona ke dalam pelukannya.
“Tidurlah, istriku sayang. Honeymoon kita belum selesai.”
Aditya menyingkirkan poni di dahi Dona kemudian mengecupnya singkat. Dona tersenyum ringan kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Aditya dan memeluknya dengan erat.
Keduanya mulai memejamkan mata, entah bagaimana ceritanya hingga akhirnya kedua bibir mereka menyatu. Bibir Aditya terasa hangat membuat Dona semakin memperdalam ciumannya lalu memeluk Aditya dengan sangat erat. Ia merasakan kehangatan dari tubuh Aditya.
Dona sudah sangat ingin bercinta dengan Aditya, untuk membuat suaminya dapat melepaskan apa yang selama ini ia pendam.
"Oh, sayang, aku sangat ingin....."
Dona tak membiarkan Aditya melanjutkan ucapannya dengan kembali menciumi pria yang sangat dicintainya itu. Keduanya benar-benar di mabuk asmara. Bahkan Aditya dengan bersusah payah mulai meraih bagian sensitive Dona. Ia takut Dona akan kembali menolak.
Dona benar-benar telah dikuasai nafsu. Ia bahkan mulai membuka satu persatu kancing baju yang ia kenakan sendiri. Hingga meninggalkan penutup bagian dadanya.
"Sangat indah." Ucap Aditya.
Dona kembali mencium Aditya, saling menggenggam tangan dengan erat, menyalurkan hasrat mereka yang terpendam selama ini.
"Stop sayang, stop." Ucap Aditya lirih.
"Aku ingin melakukannya." Balas Dona manja.
"Begitupun denganku, tapi jika kita teruskan, aku bisa meledak."
"Memang itu yang aku rencanakan." Balas Dona.
"Kalau kau bilang begitu, baiklah. Tapi, biarkan aku yang menguasai permainan."
Posisi Dona yang tadinya berada diatas Aditya kini bertukar menjadi di bawah. Dona tersenyum, keduanya kembali berciuman mesra. Tangan Aditya mulai terbiasa meraba setiap inci tubuh Dona.
"Kau menginginkannya, bukan begitu sayang? Sama halnya dengan aku yang sangat menginginkan hal ini sejak lama." Ucap Aditya.
Sentuhan demi sentuhan Aditya semakin membuat Dona bergairah. Aditya pun melepas sisa pakaian yang melekat di tubuh Dona.
Mereka pun melakukannya, layaknya pengantin baru. Keduanya melepas semua perasaan yang selama ini terpendam.
"Oh, sayang, aku sudah lama menginginkan hal ini. Lama sekali." Ucap Aditya. "Aku selalu membayangkan hal ini di malam pertama kita. Tapi aku tidak pernah berani berharap, apalagi membayangkan bahwa bercinta akan terasa seindah ini." Lanjut Aditya.
Tubuh keduanya bergetar bersamaan, merasakan setiap puncak kenikmatan itu bersama dalam cinta. Aditya lalu berbaring di sisi Dona dan memeluknya.
Sesaat keduanya terdiam, hingga Dona kemudian bangun dan memakai kembali pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Aku pikir kita sudah melakukannya dengan hebat malam ini." Ucap Dona dengan raut wajah yang malu.
"Iya, luar biasa." Balas Dimas. "Sudah sangat lama aku menunggu datangnya malam ini, dan sekarang kita sudah berhasil melakukannya." Timpal Aditya.
Dona hanya tersenyum.
'Lebih dari luar biasa bagiku.' ucap Dona dalam hati.
"Kau mau kemana sayang? Aku ingin tidur, dengan kau berada dalam pelukanku."
"Aku juga." Balas Dona. "Tunggulah sebentar, aku mau membersihkan diri dulu." Lanjut Dona dibalas anggukan oleh Aditya.
"Cepatlah kembali." Ucap Aditya saat Dona membuka pintu kamar mandi. "Aku masih mau lagi."
"Hahaha sabar." Balas Dona, seraya tertawa terbahak.
"Sayang....." Teriak Aditya lagi.
"Iya..." Jawab Dona kembali membuka pintu kamar mandi saat sudah masuk ke dalamnya.
"Aku mencintaimu. Terima kasih untuk malam ini...."
Dona terlihat tersenyum sangat bahagia, "aku juga sangat mencintaimu." Balas Dona kemudian kembali menutup pintu.
__ADS_1
'Malam yang sangat indah. Semoga besok menjadi hari yang lebih menyenangkan lagi.' gumam Aditya dalam hati.
Bersambung.......