Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 30: Permintaan Backstreet


__ADS_3

Dona menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan masih mengenakan seragam sekolah. Tas punggungnya dilepas begitu saja di lantai. Pandangannya menerawang ke plafon rumah, memikirkan apakah keputusannya untuk menerima cinta Gilang sudah benar. Dona dilanda keraguan, perkataan Ayu membuatnya kembali berpikir. Tubuhnya berguling ke kiri dan kanan secara berulang. Dona kemudian duduk dan mengambil ponselnya dari dalam tas, dan segera menelepon Ayu.


"Kamu dimana?" Tanya Dona.


"Baru sampai rumah nih. Tadi mampir beli es doger dulu sama My Bil." Balas Ayu terdengar penuh kegirangan. "Ada apa Don?"


"Aku mau curhat."


"Tumben bae! Apaan tuh Don?"


"Tadi, Gilang nembak aku."


"Terus kamu terima gitu?" Tanya Ayu penasaran.


"He'em." Jawab Dona singkat.


Terdengar helaan nafas Ayu dari seberang telepon.


"Jujur aja, sebagai cewek yang matanya jelalatan liat cowok tampan. Aku juga pasti gak bisa nahan pesonanya Gilang kalau ada diposisi kamu. Tapi, kamu tahu sendiri kan, gimana masa lalu Gilang. My Bil emang sering gonta ganti pacar, tapi gak sebanyak Gilang dan pacarannya gak se'ekstrim Gilang yang sampai buat ceweknya rela ngelakuin apapun buat dia. Aku lebih seneng lihat kamu sama Aditya atau Raka. Mereka itu orangnya sama-sama baik dan gak ada rumor pacaran tentang mereka. Apalagi sejak dulu kamu emang naksir nya sama Aditya. Entah kenapa sekarang malah berubah. Emmmmm bisa jadi juga karena kamu kehilangan ingatan. Tapi, apapun itu aku akan selalu mendukung keputusan kamu. Apapun itu asal kamu seneng dan siapa tau juga Gilang emang bisa berubah."


Sambungan telepon terputus, Dona semakin memikirkan apa yang dikatakan Ayu. Tak bisa dipungkiri bahwa Aditya memang selalu bersikap baik dan sopan pada Dona, berbeda dengan Gilang yang selalu bertindak spontan dan tak memberi batas.


'Apa yang harus aku lakukan?'


Wajah Aditya kini terbayang-bayang dalam ingatan Dona. Aditya yang memang ibaratnya sutradara, lebih banyak bertindak di belakang layar. Aditya yang selalu ada kala Dona dalam kesusahan. Satu tahun setengah mengenal keempat pria itu, secara emosional Dona memang lebih dekat dengan Aditya. Keduanya kerap mengunjungi makam secara bersamaan. Meski Dona sebenarnya selalu berbohong pada Aditya bahwa makam yang dikunjunginya adalah makam dari keluarga jauhnya.


'Apa yang akan dikatakan Aditya jika ia mengetahui aku telah menerima Gilang?'


Pikiran Dona semakin kacau kala mengingat momen ia menolak cinta seorang teman di kehidupannya yang terdahulu. Dona memang pernah mempunyai teman seorang pria saat masa SMA di kehidupannya terdahulu. Tapi, Dona memang sama sekali tak pernah memiliki perasaan suka terhadap pria manapun. Pria yang bernama Ilham itu teman sekelas Dona saat kelas 3 SMA di kehidupannya yang terdahulu.


Tepat satu hari menjelang Ujian Akhir, Ilham menyatakan perasaannya pada Dona dan berharap Dona mau menerima cintanya. Namun, Dona secara terang-terangan menolak cinta Ilham dan mengatakan ia sama sekali tak ada keinginan untuk berpacaran. Ilham sebisa mungkin memaksa Dona untuk menerima cintanya hingga membuat keduanya bersitegang. Dona yang marah lantas mengumpat dan mengatakan bahwa ia tak pernah memiliki rasa suka pada Ilham dan sampai kapanpun tak akan pernah bisa mencintai Ilham.


Kejadian itu membuat hubungan pertemanan keduanya rusak dan pada akhirnya Ilham kehilangan konsentrasi belajar hingga membuatnya tidak bisa lulus saat ujian akhir. Inilah yang membuat Dona kembali berpikir akan hubungannya dengan Gilang. Dona takut jika hubungan itu diketahui oleh Aditya, maka hubungan pertemanan mereka akan rusak. Dan bisa saja hal itu akan mengganggu konsentrasi belajar Aditya, mengingat Aditya memang memiliki rasa suka terhadap Dona.


'Drrrrrttttt.....'

__ADS_1


Ponsel Dona bergetar, menampilkan nama Gilang dengan emoticon wajah tertawa. Dengan cepat Dona menggeser tombol hijau.


"Halo..." Ucap Dona.


"Hai sayang.... Lagi apa? Udah makan belum? Gak tidur siang? Aku rindu." Gilang berbicara dengan begitu cepat.


"A-aku belum ngapa-ngapain. Masih baring aja nih." Balas Dona canggung.


"Kok gitu? Kamu kangen juga ya sama aku?"


Dona terdiam, ia masih memikirkan Aditya.


"Halo sayang, pacarku, cintaku.... Kok diem?"


"Lang, aku mau ngomong sesuatu boleh?" Tanya Dona.


"Tentu saja. Ada apa sayang? Kamu mau apa? Beri tahu aku, akan aku kabulkan semua kemauan kamu. Asal jangan minta aku ambil bulan aja, karena aku gak akan mungkin bisa melakukannya."


Dona tersenyum lalu menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya perlahan.


"Lang, kita backstreet aja ya." Ucap Dona pelan.


"Maafin aku Lang...."


"Kamu malu jadi pacar aku? Atau...."


"Bukan gitu Lang. Tapi...."


"Tapi apa? Kamu gak mau diketahui orang lain karena kamu malu pacaran sama aku dan kamu gak mau....."


"Dengerin aku dulu Lang...."


"Apa?" Gilang terdengar membentak Dona.


"Aku cuma gak pengen hubungan kita ini bakal ngerusak pertemanan kita dengan Raka dan Aditya. Aku gak mau...."

__ADS_1


"Oohh jadi kamu peduli tentang perasaan mereka karena kamu sebenarnya juga suka kan sama mereka."


"Apaan sih? Bukan gitu maksud aku. Kita backstreet nya cuma sementara sampai hari kelulusan nanti. Itu aja kok."


"Apa hubungannya backstreet sampai hari kelulusan coba?" Lagi-lagi Gilang berteriak.


"Aku cuma gak mah hubungan kita bakal buat Raka dan Aditya kepikiran dan buat konsentrasi mereka terhadap ujian nanti buyar. Itu aja..."


"Halah, alesan kamu aja." Bentak Gilang.


"Kamu gak percaya sama aku? Lalu untuk apa kita berhubungan kalau kamu sendiri gak bisa percaya sama aku. Lebih baik kita gak usah pacaran aja." Dona tampak emosi.


Gilang terdiam dan kemudian menghela napasnya dengan tenang.


"Maaf. Aku minta maaf Don. Please, jangan putusin hubungan kita. Kita baru aja loh jadian, baru 2 jam'an. Masa udah putus aja."


"Ya udah kamu dengerin aku kalau gitu." Dona terdengar kesal.


"Oke, oke. Aku setuju."


Dona akhirnya bisa bernapas dengan lega. Ia menceritakan pada Gilang meski dengan cerita yang sedikit berbohong. Dona mengatakan bahwa ia pernah mengalami situasi seperti ini di saat masih duduk di bangku SMP. Padahal kenyataannya, Dona pernah mengalaminya di kehidupannya yang terdahulu.


"Jadi si Ilham ini sampai gak lulus SMP karena kamu tolak?" Tanya Gilang.


"Ya seperti itulah. Makanya dari tadi aku udah bilang kalu aku gak mau Raka atau Aditya kepikiran dan bakal membuat mereka kurang konsentrasi. Aku cuma minta kamu bersabar sampai kelulusan. Toh kurang dari 3 bulan aja kok. Bisa kan?"


"Oke. Demi kamu, sampai kapanpun aku sanggup menunggu asal ada kepastian."


"Makasih ya."


"Sebagai ucapan terima kasih, izinin aku nanti malam ke rumah kamu."


"Tapi entar malam tuh malam jum'at. Bukan malam minggu Lang."


"Emangnya kenapa kalau malam jum'at? Sama aja kan? Pokoknya aku bakal tetap datang. Tunggu aja. Sekarang istirahat aja dulu. Makan dan jangan lupa tidur siang."

__ADS_1


Sambungan telepon tertutup. Perasaan Dona sudah lebih baik. Ia berharap saat waktu yang tepat tiba, Aditya maupun Raka bisa menerima keputusan yang dibuatnya dengan menerima cinta Gilang.


Bersambung.....


__ADS_2