Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 61: Mencoba Melupakan


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah ini berubah menjadi kelam bagi Gilang. Jika semalam ia masih bisa tertawa karena berpikir akan segera menikahi Dona, kali ini sebuah kabar membuatnya sedikit gentar. Riko memberitahunya bahwa seseorang telah mendatangi hotel dan mulai memeriksa CCTV.


"Apa orang itu memeriksa lantai paling atas?" Tanya Gilang.


"Iya Pak." Jawab Riko.


"Siapa yang memberi orang itu izin untuk melihat CCTV?" Gilang berteriak.


"Maaf Pak. Petugas yang berjaga mengatakan bahwa orang itu menunjukkan tanda pengenal sebagai anggota kepolisian yang tengah menyelidiki kasus prostitusi yang diduga terjadi di hotel. Jadi...."


"Aaaahhh.... Kalian semua tidak becus. Bukankah aku sudah memintamu untuk membereskan masalah CCTV itu?"


"Maaf Pak, tapi anda tidak pernah...."


"Jadi semuanya salahku?" Bentak Gilang seraya menarik kerah kemeja Riko.


"Bukan begitu Pak."


"Keluaaaar...." Teriak Gilang.


Riko perlahan mundur dan keluar melewati pintu ruangan Gilang. Gilang sontak melempari pintu itu dengan vas bunga hingga pecah berkeping-keping.


'Sekarang apa yang harus aku lakukan?'


Gilang berjalan mondar-mandir tengah memikirkan bagaimana caranya ia berkelit mengenai masalah dirinya yang terekam CCTV membawa Dona yang dalam keadaan pingsan ke dalam kamar hotel.


"Sudahlah, itu bisa ku pikirkan nanti. Yang penting Dona akan tetap menikah denganku karena dia sudah percaya bahwa dirinya tengah hamil."


Ponsel Gilang berdering menampilkan nama Billy. Dengan cepat Gilang menjawab panggilan itu.


"Lo dimana?" Tanya Billy tanpa basa-basi.


"Do kantor. Kenapa?"


"Gawat Lang."


"Gawat apaan?" Tanya Gilang.


"Istri gue udah tau semuanya. Dan sekarang dia malah ngambek sama gue dan nyalahin gue."


"Maksud lo apaan sih? Ngomong tuh yang jelas. Gak usah berbelit-belit."


"Ayu udah tahu tentang semua yang lo lakuin ke Dona dan dia udah ngasih tau Dona sama Aditya juga."


"Tau gimana maksud lo? Semua orang juga pasti udah tau kalau gue bakal nikah sama Dona karena...."


"Bukan itu maksud gue...."


"Terusss??"


"Semalam Ayu buat gue mabuk, dan gue kayaknya sembarangan bicara dengan mengatakan semuanya sama dia. Gue bilang ke dia, kalau gue yang ngasih lo saran buat tidurin Dona dan buat dia ngerasa kalau dia itu hamil dengan cara......"


"Sialan lo Bill. Lo gak bisa jaga rahasia."


"Bukan gitu Lang. Gue bener-bener gak sengaja."


"Udahlah, lo emang gak bisa diandelin."


Gilang menutup sambungan telepon dan seketika melempar ponselnya ke dinding dan berteriak.


"Aaaaarrrrgghhhh...."


************


Di tempat lain....


Dona dan Aditya berada di cafe bertemu dengan Ayu. Ayu nampak tertunduk malu dihadapan keduanya. Ia seolah tak sanggup untuk bertatap muka dengan Dona dan juga Aditya.


"Aku minta maaf." Ucap Ayu.


"Kenapa harus kamu yang minta maaf? Ini semua bukan salah kamu." Balas Dona.


"Tapi, ini semua dilakukan suami aku."


"Apa yang dikatakan Dona benar Yu." Ucap Aditya. "Ini semua bukan salah kamu, jadi kamu gak perlu minta maaf. Ini memang bisa dibilang juga karena Billy, tapi tetap saja kamu gak patut minta maaf."

__ADS_1


"Aku benar-benar gak nyangka aja kalau Billy bisa lakukan semua ini sama Dona. Jadi aku ngerasa gak enak banget sama kamu Don. Aku gak bisa....."


"Udah Yu..." Dona memegang tangan Ayu. "Jangan nyalahin diri kamu atas sesuatu yang emang gak kamu lakuin."


Ayu terlihat menahan air matanya agar tak jatuh. Setelah beberapa saat mengobrol, Ayu pun pamit pulang karena sudah terlalu lama meninggalkan anaknya di rumah orang tuanya. Sementara Dona dan Aditya memilih izin untuk tidak masuk kuliah.


Pikiran Dona tengah kacau. Semalam, setelah menerima pesan berupa rekaman suara Billy dari Ayu, Dona langsung merasa pusing. Sama seperti yang dirasakan Ayu, Dona juga tak menyangka. Nyatanya semua yang terjadi padanya juga ada sangkut pautnya dengan Billy.


Untuk Aditya sendiri, ia sangat menyadari bahwa dirinya memang tidak begitu dekat dengan Billy. Tapi sebagai seorang pria yang sama-sama pernah menyukai Dona, Aditya sendiri tidak pernah sedikitpun menyangka bahwa Billy bisa memiliki ide sepicik itu dan diusulkan kepada Gilang.


Aditya menatap Dona yang tengah memijit keningnya yang berkedut. Ia lalu memegang tangan Dona dan mengelus punggung tangan Dona lembut.


"Sayang...." Ucap Aditya.


"Hmmm...." Balas Dona.


"Bagaimana menurutmu sekarang? Apa yang harus kita lakukan? Apa kau ingin melanjutkan semua ini ke jalur hukum? Mengingat kita sudah punya banyak bukti yang kuat."


"Entahlah Dit. Aku sendiri pusing memikirkan semua ini." Jawab Dona. "Dilain sisi, aku ingin membuat perhitungan dengan apa yang dilakukan Gilang padaku. Aku ingin membuat dia menerima ganjaran atas perbuatannya. Tapi, disisi lain aku memikirkan bagaimana kedepannya jika kasusnya terekspos oleh media. Kau tahu sendiri bahwa Gilang itu orang yang wara-wiri di media karena menjadi pengusaha muda yang handal dan juga pewaris HR Group. Apapun yang dilakukannya akan selalu menjadi pemberitaan. Jika aku mengangkat kasus ini ke pengadilan, otomatis para awak media mencari tahu siapa korbannya. Maka aku akan terekspos dan itu akan membuat kedua orang tuaku malu." Ujar Dona panjang lebar.


"Apa yang kamu bilang memang ada benarnya. Ibu kamu juga pernah mengatakan itu. Tapi, apa kamu yakin akan membiarkan dia...."


"Dit!" Seru Dona menyela ucapan Aditya. "Jika aku nekad mengekspos semua ini, bukan hanya orang tua aku yang malu. Kamu juga akan dipandang rendah oleh orang lain karena mah menerima gadis yang pernah diperkaos. Mengingat kamu juga berasal dari keluarga terpandang. Bayangkan, apa yang akan dikatakan Kakek mu dan juga keluarga besar mu jika mereka mengetahui kau akan menikahi wanita yang kotor seperti aku."


"Cukup sayang." Aditya menaruh telunjuknya dibibir Dona. "Jangan berkata seperti itu lagi. Aku mencintai kamu apa adanya."


"Aku tahu, tapi bagaimana dengan keluargamu?" Tanya Dona lagi. "Dit, aku tahu kau marah pada Gilang atas apa yang dilakukannya padaku. Dan aku juga lebih marah dari apa yang kamu rasakan. Tapi, aku tidak mau mengambil resiko Dit. Aku memilih untuk melepas semuanya demi kebaikan aku kedepannya. Apa kamu bisa menerima keputusan yang aku buat?"


Aditya terdiam, ia memandang wajah Dona yang terlihat penuh harap padanya. Perlahan bibir Aditya membentuk sebuah senyuman. Ia lalu mengangguk pelan.


"Aku akan ikut apapun yang kamu katakan." Ucap Aditya.


"Terima kasih." Balas Dona.


Seharian keduanya menghabiskan waktu di cafe. Dona tampak membantu Aditya yang turun tangan secara langsung memasak di dapur. Walaupun hanya sekedar memberikan garam dan bumbu dapur lainnya. Karena pelanggan mulai semakin banyak berdatangan, Aditya mengajak Dona memasak di tempat lain.


Aditya mengajak Dona untuk ke rumahnya. Aditya ingin melanjutkan agenda masak mereka. Mengingat Dona sepertinya tidak bisa memasak, Aditya ingin mengisi momen mereka hari ini dengan memasak bersama.


Bagi Aditya, dengan melakoni kegiatan yang satu ini akan banyak sisi lain antara dirinya dan Dona yang akan terbuka. Mereka berdua pun bisa makin mesra setelahnya.


"Kita mau masak apa?" Tanya Dona setelah keduanya berada di dapur rumah Aditya.


Dona memanyunkan bibirnya.


"Aku ingin memasak pasta creamy dengan garlic bread renyah sebagai pendampingnya." Balas Dona.


'Apa dia memang bisa memasak?' tanya Aditya dalam hati.


Saat memasak mereka benar-benar ditantang untuk menyatukan keinginan 2 kepala. Menghadapi perbedaan keinginan macam ini Aditya pun pintar-pintar melebarkan hati. Ia tak ingin acara masak bersama mereka bubar di tengah jalan.


"Ya sudah, aku ngikut kamu aja." Ucap Aditya mengalah.


"Serius?" Tanya Dona.


"Iya." Balas Aditya.


Dona tersenyum dan mencubit pipi Aditya.


"Kalau gitu, kita buat semuanya aja. Gimana?" Tanya Dona balik.


"Ide bagus." Jawab Aditya.


Keduanya mulai memasak. Sementara Kakek Aditya yang memang berada di rumah, memilih menu ggu masakan mereka selesai dengan menonton televisi di ruang keluarga.


Ada cinta yang terselip di tengah cincangan bawang putih dan bawang merah. Ada perasaan hangat meski memasukkan bahan yang salah.


“Eh…ini kan harusnya bukan pakai ketumbar." Ucap Dona.


"Pakai merica, sayaaaanggg…” Aditya mencubit hidung Dona.


Dona tertawa, kemudian melanjutkan kegiatannya. Meski salah memasukkan bahan, kegiatan masak keduanya tetap bisa berakhir mesra. Dari sapuan tangan ke mata saat bola mata sedang pedas-pedasnya sampai ke dalam tawa karena bingung menentukan harus memakai bahan yang mana, karena disitu ada cinta.


“Adududuh. Pedes nih mataku. Bawang merah nya menyengat banget.” Mata Dona tampak berair.


Dengan sigap Aditya mengambil tissue dan mengambil alih pekerjaan Dona.

__ADS_1


"Sini sayang, biar aku aja yang lanjutin." Ucapnya.


Dona beralih memotong wortel. Melihat wajah seriusnya saat memotong wortel tipis-tipis dan ketika ia berusaha menggabungkan bahan makanan agar tetap terasa pas di lidah. Di mata Aditya Dona terlihat lucu dan imut sekali.


Muka serius Dona ketika sedang berusaha mencari tahu mana yang ketumbar dan mana yang merica. Atau ketika dia melonjak sedikit karena tersentuh bagian panci yang panas. Di mata Aditya semua yang dilakukan Dona terlihat lucu dan menggemaskan sekali.


“Sayang, kalau menurut Chef yang aku lihat di TV sih, ini ayamnya harus didiamkan dulu biar bumbunya meresap. Tapi aku udah laper... Hehehe. Gimana dong?” Aditya ingin segera memasak ayamnya.


"Duuhh sabar dong. Kan harus sesuai resep, biar enaaak."


Ada peluk dan kecup mesra yang terjadi. Di momen paling absurd dalam kegiatan masak keduanya, kehangatan itu hadir tanpa permisi. Asisten rumah tangga yang kebetulan masuk ke dapur untuk mengambilkan air minum untuk Kakek Aditya hanya bisa menahan senyum melihat tingkah Dona dan Aditya.


Ketika kebanyakan memasukkan merica, keduanya bersin-bersin lalu saling memandang dan tertawa. Selain menu awal yang ingin mereka buat, Dona tiba-tiba ingin mencoba membuat ayam crispy.


Namun, saat ayam goreng yang harusnya crispy malah berubah jadi ayam tepung yang kurang renyah Dona memaksa Aditya untuk mencobanya. Aditya tidak terima, lalu berbalik menyuapinya. Di tengah semua pemaksaan itu tanpa disangka Aditya malah merengkuh pinggang Dona lalu mengecup keningnya lama.


“Kamu menyebalkan, tapi lucu sekali." Kata Aditya.


Masakan pun siap untuk dihidangkan setelah berjam-jam memasak. Kegiatan masak bersama ini sesungguhnya mewah sekali bagi mereka berdua. Ada kehangatan setiap memutar ulang kenangan yang mereka lalui. Tak hanya jadi makin dekat, dari aktivitas ini banyak cerita yang kelak bisa menciptakan senyum hangat jika diulang lagi.


Tanpa perlu fancy dinner atau pergi ke destinasi eksotis yang membutuhkan banyak dana, rasa cinta bisa tumbuh lewat hal-hal sederhana. Memasak bersama jadi salah satu buktinya. Dari aktivitas ini akan ada dimensi baru dalam hubungan mereka yang terbuka. Keduanya sama-sama belajar menjadi partner dalam kegiatan sehari-hari yang kelak akan dilakoni setelah menikah. Keduanya juga belajar mengenal kesukaan dan preferensi pasangan juga diri sendiri.


"Kau tahu sayang. Yang paling hangat dari semua kegiatan ini adalah bagaimana kehangatan bisa selalu muncul di tengah upaya masak bersama. Rengkuh, peluk, cium, sampai keisengan lain yang tak pernah muncul sebelumnya mendadak ada. Ah, memasak memang membawa atmosfir yang beda saat aku lakukan bersama kamu." Ucap Aditya yang membuat pipi Dona merona malu.


"Udah ah. Sana gih panggil Kakek. Udah waktunya makan." Balas Dona seraya mendorong tubuh Aditya yang berusaha memeluknya.


"Iya... Iya..."


Setelah mempersilahkan sang Kakek untuk makan malam, ketiganya lalu duduk dengan meja yang sudah penuh dengan makanan. Aditya dan Dona memang memasak sejak sore hari sepulang dari cafe, hingga akhirnya masakan mereka memang dikhususkan untuk agenda makan malam bersama Kakek Aditya.


"Ini, kalian berdua yang masak?" Tanya Kakek Aditya.


"Lebih banyak Aditya, Kek. Saya hanya bantu-bantu saja." Jawab Dona.


"Tapi, untuk pasta dan garlic bread ini resepnya dari Dona, Kek." Sambung Aditya.


Kakek Aditya mulai mencicipi satu persatu menu yang tersedia. Mulai dari ayam betutu hingga pasta buatan Dona.


"Semuanya lezat. Kalian berdua memang cocok untuk masak bersama. Bila perlu buka restoran bersama."


"Ah, sepertinya Kakek berlebihan. Pasta yang saya buat sepertinya keasinan." Dona merendah.


"Tidak. Pas kok. Enak dan creamy sekali. Kamu dapat resepnya dari mana?" Tanya Kakek Aditya.


"Nenek saya." Jawab Dona.


Kala menyebut kata nenek, Dona sontak mengingat sosok wanita tua yang di kehidupannya terdahulu menjadi sosok yang sangat menyayanginya itu. Dona pun berpikir apakah neneknya itu mengetahui bahwa dirinya hanya anak angkat dari keluarga Wijaya. Mengingat sang nenek yang sangat menyayanginya sepenuh hati.


Aditya yang melihat Dona seperti tengah melamun sontak menendang pelan kaki Dona hingga membuatnya tersadar. Mereka pun melanjutkan makan malam mereka, hingga diatas meja makan hanya tersisa garlic bread buatan Dona yang memang akan dinikmati paling akhir.


"Kira-kira, apakah Kakek setuju jika aku dan Dona menikah muda?" Tanya Aditya.


"Tentu saja setuju, jika kalian berdua memang sudah siap. Karena pernikahan itu seperti sebuah tujuan utama dalam hidup, sesuatu yang memang harus kita gapai dan jalani." Ucap Kakek Aditya.


"Alamat bakal ceramah ini." Bisik Aditya pada Dona.


Dona mencubit pinggang Aditya membuatnya berusaha menahan sakit.


"Namun hal yang aneh yang sering kita saksikan adalah pernikahan yang terjadi bukan dilandasi karena kesiapan, melainkan karena ketakutan dan persaingan. Takut dibilang terlambat, takut didahului orang lain dan takut lainnya, bahkan pernikahan itu terjadi hanya sebab mengikuti orang lain yang memang diakui saling bersaing tentang cepatnya menikah. Sehingga pernikahan yang terjadi cenderung hanya dalam waktu singkat dan mudah kandas, seperti perceraian yang didapatkan." Lanjut Kakek Aditya.


Dona dan Aditya saling tatap, Aditya menaikkan alisnya membuat Dona hanya bisa tersenyum.


"Jikapun bisa dipertahankan akan rentan perselisihan setiap hari, karena kedua nya belum memiliki kesiapan. Lalu menurut kalian salahkah bila kita menikah diusia muda?"


Dona dan Aditya kompak menggeleng.


"Tentu saja tidak salah karena menikah itu ibadah, maka membuat kita makin mendekat kepada Tuhan dan belajar mengisi kelebihan dan kekurangan pasangan, namun yang salah hanya ketika pernikahan tanpa adanya persiapan. Baik persiapan tabungan, ilmu pernikahan, visi dan misi dari pernikahan yang akan dijalani seperti apa dan persiapan mental dalam menghadapi kehidupan baru dengan lingkungan baru." Kakek Aditya mengunyah perlahan garlic bread yang dibuat Dona.


"Jadi jika mau menikah dalam waktu cepat pikirkanlah dan persiapkanlah hal-hal yang berkaitan dengan pernikahannya. Bukan mengutamakan resepsinya yaa, karena resepsi sebaiknya dibuat secara sederhana saja. Yang penting adalah kehidupan setelah resepsi kalian. Jangan sampai resepsi mewah, tapi setelahnya memiliki banyak hutang. Wah itu yang salah kaprah. Dan yang perlu digarisbawahi untuk pernikahan adalah, kehidupan kalian selanjutnya setelah akad dan resepsi. Jadi pikirkan baik-baik dan sama-sama mempersiapkan segalanya dengan baik. Jangan sampai ada hal-hal yang terlewat, fatal akibatnya jika sampai kurang persiapkan. Dan hal lainnya yang akan dibahas disini adalah pernikahan yang baik itu bukan dilandasi karena persaingan dengan teman, dimana terlalu memaksakan diri agar dapat menikah di bulan atau tahun yang sama dengan teman. Hanya karena gengsi, takut menjadi perbandingan dilingkungan masyarakat. jangan sampai seperti itu, karena ingat, pernikahan itu bukan lomba yang cepat dapat hadiah.


Tapi bukankah ibadah yang baik harus dilandasi niat yang murni dan persiapan yang matang? Agar berkah dan diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Jadi jangan menikah hanya karena ingin ikut-ikutan orang lain, itu hanya akan menyakiti diri kalian masing-masing. Karena di dunia ini memang kita tak akan terlepas dari omongan orang lain. Mulai sekarang boleh mendengarkan nasehat orang lain, tapi ingat hidupmu kamu yang menentukan.


Jadi menikahlah karena kalian yakin kalian sudah siap dan dia adalah pasangan yang terbaik. Yang dapat membimbing ke dunia dan akhirat. Bukan menikah karena trend saja. Khawatir nanti akan menyesal. Jadi intinya menikahlah karena kalian berdua sudah siap, agar pernikahan kalian langgeng dan diridhoi Tuhan." Ucap Kakek Aditya panjang lebar.


Dona hanya bisa mengangguk mendengar semua wejangan yang dikatakan Kakek Aditya. Ia hanya berharap bisa memantapkan hatinya untuk menerima lamaran Aditya yang mengajaknya untuk segera menikah.

__ADS_1


Satu hal yang masih saja membuat Dona ragu untuk menikah dengan Aditya, ialah karena dirinya yang sudah tak suci lagi karena perbuatan pria lain. Dona memikirkan bagaimana perasaan Aditya. Padahal Aditya sendiri sudah sering mengatakan bahwa ia tidak pernah mempermasalahkan hal itu demi bisa bersanding dengan wanita yang sangat ia cintai, yaitu Dona.


Bersambung.....


__ADS_2