
Jam makan siang hampir tiba. Gilang tak kunjung pulang ke rumah. Saat Bu Nir hendak masuk ke dalam rumah untuk memasak, Gilang langsung melarangnya.
"Bu Nir mau masak ya?" Tanya Gilang.
"Kok tahu? Peramal ya? Kalau bisa meramal, ramal dong kamu itu bisa jadi mantu Ibu atau tidak di masa depan." Kelakar Bu Nir.
Dona memicingkan matanya menatap sang Ibu. Merasa malu dengan ucapan yang diucapkan.
"Hehehe, untuk hal itu saya tidak perlu meramalnya. Karena saya sudah pasti jadi menantu di rumah ini." Ucap Gilang. "Oh ya, gak usah masak Bu. Bentar lagi makanan akan datang."
"Ma-kanan?" Bu Nir tampak bingung.
"Iya. Saya sudah pesan online tadi."
"Aduuh kenapa repot-repot Nak."
"Karena saya mau makan siang disini. Bolehkan? Ya daripada ngerepotin Ibu, lebih baik pesan."
Dona hanya bisa geleng-geleng kepala. Bu Nir lalu ikut nimbrung mengobrol dengan Gilang dan Dona. Hingga waktu menunjukkan tepat pukul 12 siang, Pak Edi menutup toko.
"Loh kok masih duduk disini? Ibu gak masak?"
"Gak Pak. Gilang bilang dia udah pesen online." Balas Bu Nir.
"Oh, kalau gitu Nak Gilang, ayo siap-siap ikut Bapak kita pergi beribadah." Ajak Pak Edi.
Gilang tampak bingung dengan ajakan Pak Edi, sementara Pak Edi sudah masuk ke dalam rumah.
"Tunggu apa lagi? Udah sana masuk, ikut Bapak. Mungkin mau di pinjemin baju." Ucap Dona.
"Mau kemana?"
"Ibadah." Jawab Dona singkat.
Bu Nir masuk ke dalam rumah mengikuti sang suami, sementara di teras rumah Gilang membisikkan sesuatu di telinga Dona.
"Aku gak pernah ibadah."
Dona menatap Gilang lekat. Wajar saja jika Gilang di umurnya yang sudah beranjak dewasa, dia tak pernah melaksanakan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya. Sama halnya dengan Dona di kehidupannya yang terdahulu. Agama yang dianut Dona hanya tercantum di KTP nya, tanpa sekalipun ia pernah melaksanakan ibadah. Karena apa? Tentu saja karena kedua orang tua Dona yang tak pernah mencontohkan kepada anak mereka.
__ADS_1
Dona menghela nafas panjang. Gilang benar-benar sama persis dengan dirinya. Dona lebih dekat dengan Tuhan dan rajin beribadah setelah terlahir kembali, karena lingkungan keluarga tempatnya hidup juga mengajarkannya untuk selalu mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa.
"Kamu ikut aja dulu. Entah Bapak yang kasih tahu. Yang penting udah ada niat." Ucap Dona.
Pak Edi keluar dari dalam rumah sudah rapi dengan baju koko dan sarungnya. Dona segera mendekati Pak Edi dan membisikkan sesuatu.
Setelah mendengar ucapan Dona, Pak Edi tersenyum lalu menepuk pundak Gilang yang menunduk.
"Ayo masuk. Kita ibadahnya di rumah saja. Sekalian Bapak ajarin kamu." Ucap Pak Edi ramah.
Gilang tersenyum lalu masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Pak Edi.
*************
Kurir pengiriman makanan datang. Ada beberapa kantong makanan yang datang. Bu Nir sampai dibuat kewalahan membawa makanan masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga, Pak Edi dan Gilang tampak asyik mengobrol. Sementara di ruang makan, Dona tengah sibuk menata piring diatas meja.
Bu Nir dan Dona segera menata makanan pesanan Gilang di atas meja. Ada begitu banyak makanan yang dipesan Gilang. Mulai dari sate, ayam bakar, seafood dengan saus berwarna merah menyala, dan beberapa makanan penutup berupa puding dan juga buah.
"Makan besar kita ini. Ngomong-ngomong, Gilang itu anak orang kaya ya Don?" Tanya Bu Nir.
"Gak tau juga Bu. Aku kan gak pernah kenal siapa keluarganya, apalagi sampai main ke rumahnya."
"Hmmmm... Ya sudah, sana panggil Bapak mu dan Gilang."
"Tak ada kata terlambat selama mau belajar." Ucap Pak Edi.
"Apa Tuhan bisa memaafkan semua kesalahan yang pernah saya perbuat?" Tanya Gilang.
"Tuhan itu Maha Pengampun. Selama kita sebagai hambanya mau bertaubat dan menjauhi segala perbuatan yang buruk, Bapak yakin Tuhan akan mengampuni."
"Kheemmm... Makanan sudah siap." Ucap Dona tiba-tiba.
"Ah iya. Ayo Nak Gilang, mari kita makan." Ajak Pak Edi.
**********
Sore harinya, Gilang tak kunjung pulang. Hingga ketiga pria lainnya berkunjung ke rumah Dona dan bersamaan dengan Ayu yang juga datang menjenguk Dona.
"Donaaaa....." Teriak Ayu seraya memeluk Dona yang duduk di ruang tamu bersama Gilang. "Maaf ya baru bisa datang. 2 hari kemarin aku juga lagi sakit. Kamu udah gak apa-apa?"
__ADS_1
"Aku udah baikan kok. Besok udah bisa pergi sekolah." Balas Dona. "Semuanya ayo duduk dulu."
Ketiga pria yang datang bersamaan dengan Ayu lalu duduk di sofa ruang tamu Dona.
"Eh, kenapa lo bolos sekolah gak ngajak-ngajak?" Protes Billy pada Gilang.
"Gue gak bakalan ngajak siapa-siapa, karena gue mau berduaan dengan Dona."
"Seharusnya lo gak bolos, karena...."
"Udah deh, ini urusan gue." Gilang menyela ucapan Aditya. "Paling penting itu, gue bisa habisin waktu seharian bareng Dona." Gilang mencoba pamer pada yang lainnya.
Raka hanya bisa menggeleng.
"Don, mulai besok kamu gak perlu khawatir lagi tentang Ratu dan gengnya. Aku bisa jamin, mereka tidak akan berani untuk macam-macam lagi sama kamu." Ucap Raka.
"Makasih ya semuanya." Ucap Dona.
Ayu tampak gugup karena dikelilingi empat pria tampan. Apalagi tepat disampingnya ada Billy. Dona pun mencoba merayunya.
"Eh Yu, mau pilih salah satu dari mereka gak buat jadi cowok kamu." Goda Dona.
"Kamu apaan sih Don." Balas Ayu.
"Gak bisa." Jawab keempat pria kompak.
Dona terbahak dan menepuk tangan Ayu.
"Aku bercanda Yu. Hari ini, aku pengen bilang sama kalian semua. Kita harus menjadi teman yang baik. Gak ada istilah bersaing dalam hal merebut hati. Biarkan semuanya mengalir seperti air. Kita gak tau kedepannya gimana. Apalagi kita masih sangat muda jika membicarakan masalah cinta-cintaan. Kalian gak akan tahu tentang perasaan kalian dimasa depan. Siapa tahu kalian malah menemukan orang yang tepat, atau bahkan salah satu dari kalian malah bisa menjadi kekasih dari sahabatku yang cantik ini." Dona merangkul Ayu. "Siapa yang tahu kan."
"Aku setuju. Akan lebih baik jika kita semua bisa berteman. Untuk urusan cinta, biarlah semuanya indah pada waktunya." Balas Aditya.
"Iya. Biarkan semuanya berjalan sesuai dengan alurnya, dan suatu saat nanti jika salah seorang dari kalian akhirnya bisa membuka hati aku. Maka, aku akan memilih dan berharap, kita semua akan tetap berteman. Apapun keputusan yang aku buat." Ucap Dona sambil tersenyum. "Bagaimana? Apa kalian setuju."
"Setuju..." Balas keempat pria itu.
Dalam hati, Dona masih bertanya pada dirinya sendiri. 'Apa ada yang salah dengan diriku?' Sejak di kehidupannya yang terdahulu, Dona belum pernah merasakan getar-getar rasa didalam dadanya yang bisa disebut sebagai cinta. Memang banyak pria yang selalu mengatakan cinta padanya. Tapi, tan ada satupun yang mampu membuat Dona untuk jatuh cinta.
'Entah bagaimana kehidupanku kali ini? Apa akan sama seperti dulu? Atau bahkan aku malah bertemu dengan seseorang yang tepat.'
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah juga yaa.... 🥰