Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 28: New Year


__ADS_3

Dona akhirnya tiba di rumah setelah beberapa hari mengikuti kegiatan camping bersama teman-temannya. Libur sekolah masih menyisakan waktu satu minggu lagi. Dan tepat minggu depan adalah momen tahun baru.


Bu Nir dan Pak Edi menyabut Dona penuh suka cita. Keduanya memeluk Dona dengan erat, seperti orang tua yang telah berpisah dengan jangka waktu yang lam dan kini baru saja bertemu dengan anak mereka saat ini. Keduanya benar-benar merindukan kehadiran Dona di dalam rumah.


"Gimana keadaan kamu Nak? Kamu baik-baik saja kan? Tidak ada yang lecet kan?" Bu Nir mencecar Dona dengan berbagai pertanyaan.


"Nah ini apa? Kenapa ada plester obat di kaki kamu?" Kali ini giliran Pak Edi yang menjadi cerewet.


"Aduuuhh. Bapak sama Ibu gak usah khawatir gini dong. Aku baik-baik aja. Aku malah sangat baik-baik saja." Dona menampilkan senyum sumringahnya.


Bu Nir dan Pak Edi menatap wajah Dona yang memang terlihat lebih fresh dan tampak begitu berbeda. Dona tampak begitu bahagia dari sebelumnya.


"Kamu lagi jatuh cinta ya?" Ucap Bu Nir yang membuat pipi Dona langsung memerah.


"Ibu ada-ada aja." Balas Dona.


"Sepertinya Ibu benar. Lihat Pak! Wajah anak Bapak ini sudah seperti udang rebus. Merah Pak!" Goda Bu Nir.


"Udah ah. Bapak sama Ibu aneh." Pekik Dona seraya berlarian masuk ke kamarnya.


Dona merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Beberapa hari tidur hanya beralaskan tikar, membuat punggung Dona terasa begitu nyaman saat menyentuh kasur nan empuk yang selalu menemani setiap tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamar dan malah yang tampak dalam pandangannya adalah wajah Gilang yang tengah tersenyum dan mengerlingkan mata padanya.


'Ah, aku pasti sudah gila.'


Dona mengalihkan pandangannya dan kemudian mencoba menutup matanya. Namun, lagi-lagi wajah Gilang yang selalu terbayang dihadapannya.


'Ada apa denganku?'


Dona bangun dan mencoba duduk. Ia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan mengeluarkan isi tasnya yang merupakan pakaian kotor yang ia pernah kenakan saat camping. Sebuah benda yang pagi tadi diberikan Gilang kembali menjadi fokus Dona. Benda berbentuk hati yang dibuat dari bambu. Senyum mengembang kembali terukir dibibir Dona.


'Apa aku memang benar-benar sedang jatuh cinta?'

__ADS_1


"Ah, gak mungkin." Ucap Dona sambil menggeleng dan tertawa.


Dona memang belum menyadari apa yang terjadi pada hatinya saat ini. Semua itu wajar saja terjadi, sebab di kehidupannya yang terdahulu, Dona diusianya yang sampai menginjak 25 tahun memang belum pernah sama sekali merasakan yang namanya jatuh cinta.


Katanya, jatuh cinta berjuta rasanya. Nah, mungkin kata-kata tersebut memang benar adanya. Campur aduk nggak karuan, memang biasanya muncul beragam perasaan unik saat jatuh cinta.


Cinta memang menjadi sebuah perasaan yang tidak mudah diungkapkan melalui kata-kata. Kita tidak akan tahu, kapan dan dengan siapa akan jatuh cinta. Semuanya rahasia Tuhan. Dan hal itu sekarang berlaku pada Dona.


Kadang cinta bisa memberikan kebahagiaan yang tak terhingga. Namun, konon katanya kalau sudah siap jatuh cinta harus siap sakit hati juga. Jadi, cinta juga membawa luka dan mengajarkan rasanya sakit hati.


Ketika jatuh cinta, tentu ada banyak perasaan yang muncul di dalam diri tanpa disadari dan dirasakan sebelumnya. Perasaan-perasaan itu bahkan muncul secara tiba-tiba dan sering membuat bingung sendiri. Persis seperti yang Dona alami saat ini. Butuh waktu bagi Dona untuk memahami semuanya.


************


Malam tahun baru akan segera datang. Dona dan Ayu berencana merayakan tahun baru mereka dengan bakar-bakar di rumah Dona. Ayu yang memang tengah dekat dengan Billy mengundang Billy untuk bergabung. Dan seperti biasanya, jika ada Billy, maka ketiga pria lainnya sudah pasti akan bergabung.


Bu Nir dan Pak Edi ikut membantu Dona dan Ayu membuat halaman depan rumah menjadi tempat bakar-bakar untuk merayakan tahun baru. Tiga pria selain Gilang, datang sore hari dengan membawa makanan dan minuman. Meski Pak Edi sudah mengatakan bahwa semuanya akan disiapkan, tapi baik Billy, Raka dan Aditya tetap membawa buah tangan dari rumah mereka.


"Kamu pasti kecewa karena Gilang belum datang ya?"


"Gak, siapa bilang." Kilah Dona.


Raka tersenyum, ia membantu Dona untuk memberi bumbu pada daging yang akan dibakar. Sementara, Ayu, Billy, dan Aditya menyiapkan bara api dan mengatur makanan di meja.


"Kamu suka sama Gilang?" Tanya Raka lagi.


"Gak." Balas Dona singkat lalu memilih masuk ke dalam rumah.


Dona masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri. Kenapa orang lain bisa mengetahui bahwa ia tengah kesal karena ketidakhadiran Gilang.


"Come on Dona. Jangan seperti ini." Dona menatap wajahnya di cermin lalu berusaha tersenyum.

__ADS_1


Dona kembali keluar rumah dan lanjut membantu yang lainnya yang mulai sibuk membakar daging, jagung, sosis dan yang lainnya. Dona berusaha menampilkan senyuman di bibirnya meski terlihat jelas bahwa senyuman itu tampak dipaksakan.


Hingga waktu hampir menunjukkan pukul 12 malam, Gilang tak kunjung menampilkan batang hidungnya. Semua makanan sudah tersaji di atas meja yang tertata rapi. Satu menit lagi, tahun akan berganti. Namun, Dona bukannya bersemangat malah kehilangan semangatnya. Sampai sebuah pesan singkat yang dibacanya membuat matanya berbinar.


'Lihatlah ke langit.' isi pesan dari Gilang.


Dan tepat pukul 12 malam, langit diatas rumah Dona bertaburan kembang api yang begitu indah. Bu Nir bahkan tak dapat menutup mulutnya karena takjub. Dona hanya bisa terdiam dan tak dapat berbicara.


Gilang tiba-tiba muncul dengan membawa banyak kado yang diberikan kepada orang tua Dona dan juga teman-temannya yang lain.


"Kenapa lo terlambat?" Tanya Aditya.


"Untuk menyiapkan semua itu." Jawab Gilang menunjuk kembang api yang masih terus bersinar.


"Cih, orang kaya." Ucap Billy.


Acara pun dilanjutkan dengan makan-makan dan membuka hadiah yang diberikan Gilang. Bu Nir mendapatkan tas bermerk, sementara Pak Edi mendapatkan jam tangan mewah. Billy mendapatkan sepatu yang selama ini diincarnya, Aditya mendapatkan pakaian dan celana jeans yang harganya bisa untuk mendapatkan satu unit ponsel keluaran terbaru, sementara Raka mendapat beberapa buku ensiklopedia langka yang selama ini dia inginkan.


Tak lupa Gilang juga memberikan Ayu sebuah benda yang selama ini selalu dia idam-idamkan. Apalagi kalau bukan sebuah item limited edition dari boyband negeri ginseng favoritnya. Aku memekik kegirangan sampai memeluk Dona dan tak henti-hentinya berterima kasih pada Gilang. Sementara untuk Dona, Gilang menyiapkan sebuah kotak kecil dan memberikannya paling akhir pada Dona.


Saat Dona membuka kotak itu, isinya adalah sebuah liontin dengan inisial D.


"Untukmu, sebagai tanda....."


"Waaaahh terima kasih ya Lang. Lo emang terbaik dari yang paling baik." Aditya menarik tangan Gilang untuk menjauhi Dona dan bergabung dengan dua pria lainnya.


Dona hanya bisa tersenyum bahagia, dan berharap apa yang dilakukan Gilang saat ini memang tulus karena ia menyayangi para sahabatnya dan juga dirinya. Dona tak mau cepat-cepat menafsirkan perasaan Gilang padanya. Dona hanya tak ingin perasaan yang ia miliki saat ini, akan terluka nantinya.


'Aku hanya harus berhati-hati.' ucap Dona dalam hati.


"Happy new year....." Teriak mereka semua.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2