
Dona memandang Gilang penuh kebencian. Ia tak habis pikir, kenapa Gilang harus melakukan semua ini. Sudah dua tahun mereka tak pernah bertemu apalagi bertegur sapa, dan kini tiba-tiba Gilang malah menculiknya. Dona pikir, Aditya sudah melupakan dirinya.
"Lihat dirimu sekarang!" Ucap Gilang. "Kau semakin cantik saja setelah menikah. Aku jadi semakin tergila-gila padamu."
"Kau benar-benar tidak waras."
Gilang terbahak.
"Apa sebenarnya mau mu? Kenapa kau lakukan semua ini?" Tanya Dona.
"Inilah yang kau dapatkan dari penolakan yang kau lakukan padaku di masa lalu." Ucap Gilang dengan menyeringai.
Gilang berjalan mendekati Dona dan memegang dagu Dona. Dona tak bisa melakukan apapun karena tangannya masih dalam posisi terikat. Gilang kemudian berusaha mencium Dona, namun dengan cepat Dona memalingkan wajahnya.
"Lepaskan aku." Ucap Dona lirih.
"Tidak akan. Aku mau mengulang semua yang pernah kita lakukan malam itu. Tapi kali ini dengan kondisi kamu yang sadar."
'Apa dia mau melakukan hal itu padaku?'
Wajah Dona sontak berubah. Ia menjadi sangat takut.
"Jangan seperti itu." Ucap Dona lirih saat Gilang berusaha memegang bahunya.
Saat Gilang menunduk dan hendak memegang bagian dada Dona, dengan sigap Dona tiba-tiba berdiri dan berusaha menjauh dari Gilang. Dona sadar, ia tak mungkin bisa keluar dari ruangan itu. Selain kerena tangannya masih terikat, diluar sana juga pasti ada banyak anak buah Gilang yang berjaga.
Dona hanya berharap bahwa Gilang akan berubah pikiran setelah ia berbicara baik-baik dengannya.
Gilang menyeringai, berjalan mendekati Dona lali mengunci tubuh Dona yang berdiri tersandar, dengan merapatkan kedua tangannya ke dinding. Matanya liar, menatap wajah Dona yang sangat ketakutan. Terlebih ketika tangan lelaki itu mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Dona hingga terlepas semua.
"Lang tolong, jangan seperti ini. Aku tahu kamu orang baik Lang. Kamu gak akan melakukan hal yang merendahkan seperti ini." Dona berusaha menyadarkan Gilang agar tak melanjutkan perbuatannya.
"Aku ini Gilang, Dona. Lelaki yang punya harga diri!" Teriak Gilang. "Hari ini, aku akan memberimu pelajaran karena sudah menolak ku."
Wajah Gilang terlihat begitu marah. Ia mengingat setiap hari yang ia lewati dengan selalu menginginkan Dona menjadi miliknya. Ia terus berusaha meyakinkan Dona untuk bisa kembali padanya, tapi Dona tetap menolak. Kali ini, Gilang benar-benar sudah dikuasai nafsu dan amarah yang bergejolak tinggi. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil apa yang ia inginkan, yaitu Dona.
"Lihat ke arah sana." Gilang menunjuk ke arah sebuah kamera yang terpasang. "Aku akan merekam adegan ranjang kita, sayang. Setelah itu aku akan lebih dulu memberikan videonya kepada suamimu. Coba pikirkan, apa yang akan dikatakannya saat melihat isterinya beradegan panas dengan mantan kekasihnya sendiri."
Berkata begitu, Gilang lalu melepas rok hitam yang dikenakan perempuan didepannya. Membuat Dona nampak sangat ketakutan. Hal itu membuat nafsu bejat Gilang malah makin menjadi dan Dona hanya bisa duduk jongkok setelah pakaian yang dikenakannya dari pinggang ke bawah telah terlepas.
Ia tak bisa melawan kekuatan Gilang yang begitu besar. Mengingat dirinya yang tengah hamil, fisik Dona memang menjadi lebih lemah dan sangat cepat untuk lelah.
Dona hanya memejamkan mata saat melihat Gilang membuka resleting celananya. Dimata Dona hanya terbayang wajah Aditya yang akan kecewa mendapatkan istrinya nanti sudah dinodai laki-laki lain.
__ADS_1
Gilang sudah tak mengenakan apa-apa lagi, kini ia mulai menjamah tubuh Dona dan melucuti semua kain yang tersisa di tubuh Dona hingga tak ada satu helai benangpun yang menempel.
Dona benar-benar tak mampu untuk melawan, karena tangannya yang masih terikat.
"Jangan lakukan ini." Isak Dona. "Aku tengah hamil. Tolong...."
Gilang sontak termenung, ia menatap Dona dalam-dalam.
"Lepaskan aku Lang. Setidaknya kau bisa berempati pada wanita hamil sepertiku. Tolong lepaskan aku." Dona mulai terisak lagi.
"Apa kau pikir dengan mengatakan bahwa kau tengah hamil bisa membuatku menghentikan apa yang ingin aku lakukan? Tidak Dona." Balas Gilang. "Aku tidak perduli kau tengah hamil atau tidak. Aku hanya ingin kau kembali padaku. Untuk anak yang ada di dalam perutmu itu, aku bisa saja membuatmu menggugurkannya atau, aku juga bisa menerimanya. Asalkan kau mau kembali padaku."
Gilang mendekati Dona dengan tubuhnya yang sudah b*gil. Ia lalu menarik tubuh Dona dengan kasar dan mendorongnya ke tempat tidur. Dona berusaha untuk bangun, namun dengan cepat Gilang menahan tubuh Dona. Ia menindih Dona dengan kuat.
"Lang to....."
Belum sempat Dona berbicara, mulutnya langsung disambar Gilang. Namun Dona melawan dengan menggigit bibir Gilang dengan keras. Membuat lelaki itu semakin murka.
"Kau yang minta." Ucap Gilang lalu membekap mulut Dona dengan lakban hitam.
Gilang kembali membelai setiap lekuk tubuh Dona membuat Dona hanya bisa mengeluarkan air mata tanpa bersuara.
'Maafkan aku Dit.' Dona semakin terisak dan menutup matanya.
Gilang benar-benar sudah dikuasai nafsu. Ia menciumi setiap lekuk tubuh Dona. Dona yang sejak tadi terus berontak, membuat Gilang geram dan mengikat kedua tangan Dona pada kepala dipan.
'Kenapa semuanya jadi seperti ini.'
"Kau akan menjadi milikku mulai sekarang sayang." Ucap Gilang mencium leher Dona.
'Aku lebih baik mati. Tuhan cabut saja nyawaku saat ini.' ucap Dona dalam hati seraya menutup matanya.
Tepat saat Gilang akan melakukannya....
Braaaak!!!
Mata Dona langsung dibuka ketika terdengar suara pintu didobrak dan dua lelaki tinggi besar langsung menarik tubuh Gilang dengan keras lalu membawanya keluar, kemudian memukuli dan menginjak-injaknya.
"Baj*ngan, set*n kamu!"
Kedua lelaki itu adalah Raka dan Billy. Sementara satu orang lagi, yang tak lain adalah Aditya langsung mendekati Dona dan membuka ikatan di mulut dan dikedua tangan Dona mendekapnya dengan erat dalam pelukannya.
Dona hanya bisa sesenggukan, ia tak menyangka bahwa suaminya akan datang menyelamatkannya dari hal memalukan yang akan terjadi padanya.
__ADS_1
"Pakailah, sayang" Aditya memberikan pakaian yang tadi dibuka paksa oleh Gilang yang langsung dikenakan Dona.
Dona menangis dan kembali memeluk Aditya erat.
"Maafkan aku Dit..." Isak Dona.
"Akulah yang seharusnya minta maaf karena datang terlambat." Balas Aditya membalas pelukan Dona dengan sangat erat.
"Dit... Aku..."
"Sudah jangan dibahas lagi." Potong Aditya.
"Nggak Dit, kamu harus tahu. Dia tidak sampai melakukan itu padaku. Kau datang tepat waktu."
"Dengarkan aku." Ucap Aditya mengangkat wajah Dona agar memandangnya. "Aku bersyukur dapat mencegahnya berbuat lebih jauh padamu. Tapi untuk kau tahu, andaikan hal terburuk sudah terjadi padamu hari ini, aku tidak peduli. Karena aku akan selalu mencintaimu." Kali ini Aditya mencium bibir Dona dengan lembut.
Setelah selesai mengenakan kembali pakaiannya, dengan di gandeng Aditya, Dona berjalan keluar.
"Dit, kita apakan manusia bejat ini?" Tanya Raka dengan wajah penuh emosi.
"Pakai nanya lagi, ya dibawa ke kantor polisi lah." Balas Billy.
Keduanya berdiri disamping Gilang yang sudah babak belur dengan posisi meringkuk. Dona masih nampak ketakutan. Ia melihat wajah Gilang sudah babak belur dan lebam.
"Kamu jahat Lang." Ucap Dona dengan air mata yang jatuh ke pipinya.
"Tolong ma-maafkan aku. Aku..... khilaf." Balas Gilang. "Aku dibutakan oleh cinta."
"Itu bukan cinta begoo. Tapi nafsu." Teriak Raka yang kembali menendang Gilang.
Raka benar-benar emosi, ia tak menyangka bahwa seorang Gilang yang dikenal berwibawa bisa sampai melakukan hal seperti ini.
Aditya berjalan mendekati Gilang dan sekali menendang rusuknya dengan keras.
"Kau sudah berurusan dengan orang yang salah. Hari ini aku akan membuatmu membayar semuanya. Kau bukan hanya akan membusuk dipenjara, tapi kau juga akan kehilangan semuanya." Ucap Aditya.
"Gue kecewa sama lo Lang." Ucap Billy. "Gue kira lo udah berubah, nyatanya...."
"Polisi sudah dalam perjalanan. Kali ini aku tidak akan membiarkan orang yang menyakiti isteri ku terbebas begitu saja. Kau pernah terbebas 1 kali, tapi jangan berharap kali ini kau akan bebas dengan mudah."
Aditya menggandeng tangan Dona untuk berjalan keluar rumah itu, meninggalkan Gilang yang berusaha berdiri sambil memegang tulang rusuk kanannya yang patah di apit oleh Raka dan Billy.
Ternyata di luar rumah itu, anak buah yang dimiliki Gilang, sudah terkapar karena dihajar Billy, Raka dan Aditya.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, polisi datang dan membawa Gilang beserta para anak buahnya.
Bersambung......