
Pagi pun datang...
Aditya kini tampil dengan kemeja motif bunga berwarna biru dan celana pendek lengkap dengan kacamata hitam. Dona juga sudah berganti pakaian, mengenakan dress pendek berwarna putih dipadukan dengan sepatu sneaker dan topi pantai.
Keduanya sarapan di dalam kamar dengan menu roti panggang dan omelette. Setelah itu, keduanya berjalan keluar hotel menuju pantai yang tepat ada didepan hotel.
Pasir putih pantai membelai lembut telapak kaki Dona. Nyiur pohon kelapa memberikan keduanya naungan dari terik matahari. Dona masih belum sekuat manusia-manusia berkulit putih yang berjemur di tepi pantai itu. Dona masih khawatir kulitnya menghitam, meski mereka justru menginginkan kulit Asia yang eksotis seperti kebanyakan penduduk negeri ini.
Di pinggir pantai, bayangan sepasang lelaki dan perempuan yang tengah berlarian dan bercanda memercikkan air ke tubuh pasangannya, memburam kan pandangan mata Dona. Kemesraan mereka sungguh membuat Dona iri.
"Ayo ikut aku." Ajak Aditya tiba-tiba menyodorkan tangannya pada Dona.
"Kemana?" tanya Dona.
"Naik perahu." balas Aditya sambil menunjuk perahu yang terlihat hanya muat untuk dua orang saja.
Keduanya lalu berjalan menuju perahu kecil kemudian mulai mendayungnya menuju ke tengah laut yang terlihat tenang.
"Sayang, kamu suka gak tempat ini?" Tanya Aditya saat keduanya berada di tengah laut.
"Aku suka banget, makasih ya udah bawa aku kesini." Jawab Dona.
"Kalau kamu mau aku bahkan bisa bawa kamu kemana aja." Balas Aditya. "Paris, London, New York, Swiss, kemana aja." Lanjutnya.
Dona tersenyum, "Ke bulan bisa gak?"
Raut wajah Aditya seketika berubah.
"Apa sih yang gak buat istriku yang tersayang." Balas Aditya dengan mencubit hidung Dona.
"Hahahaha, bisa aja kamu. Aku gak jadi mau ke bulan deh. Nantinya bulannya ngambek karena kalah cantik sama aku."
Aditya kemudian tertawa setelah mendengar ucapan Dona, begitupun Dona. Keduanya lantas tertawa bersamaan.
Lelah bermain perahu, keduanya lalu makan siang di sebuah restoran.
Dona masih dapat merasai aroma khas bumbu daerah tersebut yang menemani sepotong bebek bengil, menu favorit semua orang di restoran itu. Aditya yang memilihkan menu itu, padahal seumur-umur belum pernah Dona memakan daging bebek.
Awalnya Dona menolak untuk memakannya karena geli. Tetapi Aditya, dengan paksaan nya yang menghipnotis, mampu membuat Dona mencicipi daging binatang yang hidup berkelompok dan selalu berisik saat berjalan beriringan itu.
Wajah Aditya begitu puas ketika lidah Dona mau mengecap daging bebek yang lembut itu. Dona bahkan melupakan program dietnya yang sudah dua bulan ia kulakukan demi memperoleh tubuh langsing.
"Bagiku, kau tetap cantik walau pipimu menggelembung.” Ucap Aditya.
Dona tersenyum malu-malu, dan tak terasa sudah memasukkan dua piring nasi ke dalam perutnya.
Setelah makan, keduanya kembali melanjutkan agenda bulan madu, melintasi jalan setapak dari depan restoran menuju ke tepi pantai.
Dari depan restoran itu, keduanya dapat melihat ke arah pantai yang berbeda dengan pantai di depan hotel. Mereka menikmati pemandangan pantai yang romantis. Aditya lah yang memilih tempat ini yang sesuai untuk mengabadikan momen pertama penyatuan cinta mereka.
Aditya mengajak Dona berjalan di tepi pantai, membiarkan deburan ombak yang tenang membelai jemari kaki mereka. Aditya memegang tangan kiri Dona, ia menautkan jemari tangan kanannya ke jemari tangan kiri Dona. Getaran serupa setruman listrik segera menjalari tubuh Dona.
Dona masih saja merasakan setruman itu, meskipun keduanya sudah menjadi suami istri sejak satu minggu yang lalu. Dona masih tak menyangka, seorang lelaki yang ia temui saat terlambat datang ke sekolah itu ditakdirkan untuk menjadi suaminya.
****************
__ADS_1
Malam harinya....
Dona tengah berbaring di kamarnya setelah selesai mandi, dan menunggu kedatangan Aditya yang entah pergi kemana saat dirinya tengah mandi.
Tok! Tok!
Sebuah ketukan di pintu kamar membuat Dona beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu. Namun tidak ada siapapun di depan pintu. Dona mengerutkan dahinya.
Akhirnya ia menyadari didepan pintu kamar ada sebuah mobil remote kontrol yang diatasnya terdapat tanda panah yang bertuliskan 'Follow Me'
Dona celingukan, menatap kanan dan kiri mencoba mencari sosok Aditya, namun tak di temukan nya.
'Apa ini semua ide Aditya?' tanya Dona dalam hati.
Mobil remote control itupun mulai berjalan. Dona menyusulnya di belakang. Melewati beberapa kamar dan terus mencari keberadaan sosok Aditya.
"Iihh kemana sih dia." gerutu Dona kemudian kembali menyusul mobil remote control itu.
Setelah beberapa lama berjalan Dona ternyata digiring menuju pantai yang telah dihiasi lampu-lampu cantik. Lampu tumbler di bentuk menyerupai hati dan terdapat dua buah pasang kursi dan meja yang di atasnya terdapat bunga.
Dona terkesima melihat semua itu. Tiba-tiba tanpa ia sadari seseorang telah menggenggam tangannya dari samping. Dona yang kaget, refleks hendak melepaskan tangan itu. Namun saat ia melihat bahwa itu Aditya, ia lantas jadi tersenyum.
"Ayo duduk." ajak Aditya menggandeng Dona.
Mereka berdua lalu duduk berhadapan.
"Kita mau ngapain disini?" tanya Dona.
"Mau dinner romantis." jawab Aditya.
Aditya menepuk tangannya sekali, seketika beberapa pelayan datang membawa menu makanan mereka. Dona takjub dengan hidangan yang ada di hadapannya.
Sebuah kolam renang besar menjadi latar pemandangan, tetapi saat itu Dona hanya bisa memandang wajah Aditya yang juga tak lepas memandang wajahnya.
Kini Dona menyadari betapa kemesraan itu begitu ia rindukan. Baru 10 hari usia pernikahan, tetapi Dona merasa sudah banyak perubahan yang terjadi kepada dirinya. Aditya telah menghipnotisnya dengan dominasi dirinya. Dona tersadarkan, bahwa ia telah kehilangan banyak hal dari dirinya. Dona merasa menjadi seperti bukan dirinya sendiri. Semua itu karena Aditya.
"Kok bengong? Ayo makan." Ucap Aditya yang melihat Dona hanya memandangi makanan yang ada dihadapannya.
"Aku gak bisa." Balas Dona.
"Kenapa? Kamu alergi seafood?" Tanya Aditya.
Menu makanan yang tersaji memang berbagai jenis seafood. Mulai dari kepiting, cumi-cumi dan juga lobster.
"Aku gak bisa makan yang enak seperti ini, kalau gak disuapin sama kamu." Balas Dona manja.
Aditya tertawa, lalu mulai mengambil sushi dan menyuapi sang isteri tercinta. Agenda makan malam romantis mereka berjalan dengan sangat lancar. Angin malam yang berhembus dan terasa dingin di tepi pantai tak menjadi halangan bagi keduanya untuk berjalan di tepi pantai ditemani deburan ombak dan sinar rembulan yang indah.
Dona belum sempat meredakan emosi bahagianya saat Aditya tiba-tiba menggendongnya dan membawanya ke dalam arus pantai yang tenang. Ini adalah rasa bahagia yang tak dapat diucapkan dengan kata-kata oleh Dona. Menyatu dengan Aditya dalam pelukan ombak pantai nan indah.
“Kita akan punya anak setelah pulang dari sini,” bisik Aditya dengan senyum jahil.
Keduanya kembali ke dalam kamar dengan penuh semangat dan gairah yang menggelora. Bercumbu mesra dan saling membuka pakaian dengan tanpa sabar. Tangan Dona dengan cekatan membuka setiap kancing kemeja yang dikenakan Aditya, lalu beralih pada gesper di celananya.
Begitu juga dengan Aditya, ia terlihat sangat buru-buru membuka pakaian yang menutup tubuh Dona. Saat tak ada lagi penghalang diantara tubuh keduanya, Aditya membaringkan tubuh Dona diatas temat tidur dengan lembut dan penuh kemesraan. Mulai menciumi setiap inci tubuh Dona dengan lembut, membuat Dona mengeluarkan suara yang selalu dianggapnya menjijikkan.
__ADS_1
Aditya benar-benar memperlakukan Dona dengan sangat romantis. Perlahan Dona mulai terbiasa dengan sentuhan yang Aditya lakukan pada tubuhnya. Napas Aditya terdengar memburu saat ia mulai mencium telinga Dona.
"Bisakah kau mematikan lampu?" Ucap Dona.
"Kenapa?" Tanya Aditya.
"Aku malu." Balas Dona.
"Aku justru suka melihat wajahmu yang malu-malu. Dan jika aku mematikan lampu, maka aku tidak bisa melihat ekspresi mu yang menggemaskan ini." Ucap Aditya.
"Tapi..."
Aditya kembali mencium Dona dengan lembut.
"Untuk apalagi kau malu sayang. Aku suamimu, dan kau bebas mengekpresikan dirimu. Oh ya, jangan menahan suaramu agar tak keluar. Disini tak akan ada yang mendengarkan suaramu. Meski kau berteriak sekalipun." Ucap Aditya lagi. "Satu hal lagi, jangan berpikir bahwa suara yang keluar dari bibirmu itu menjijikkan. Aku justru sangat menyukainya."
'Apa-apaan dia ini? Bagaimana bisa dia mengatakan hal yang semakin membuatku malu.'
Aditya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dan dengan perlahan ia mulai menyatukan tubuh mereka berdua.
Sungguh, Dona tak dapat mengatakan betapa bahagianya ia selama dua malam ini karena akhirnya bisa menyerahkan seluruh raganya kepada pria yang sangat mencintai dirinya. Air mata Dona menetes hingga jatuh ke bantal.
Aditya yang melihat Dona menitikkan air mata, menghentikan aksinya.
"Kenapa menangis? Apa aku terlalu kasar? Kalau kau merasa tidak nyaman, aku hentikan saja." Ucap Aditya.
"Tidak. Bukan begitu, aku hanya begitu bahagia." Balas Dona.
Aditya tersenyum lalu mencium tepat di mata Dona.
"Jangan pernah menitikkan air mata lagi." Ucapnya.
Dona berinisiatif mencium Aditya dan diapun membalas ciuman Dona. Aditya lalu membenamkan wajahnya di dada Dona. Hingga akhirnya mereka mencapai puncak kenikmatan. Tubuh Dona bergetar, Aditya selalu bisa membuatnya merasakan sensasi yang luar biasa. Malam ini Aditya benar-benar membuatnya merasakan kenikmatan itu hingga tubuhnya lemas tak bertenaga.
Setelah beberapa saat, Dona bangun dan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia mematikan lampu kamar mandi yang dari tadi masih dibiarkan menyala. Lalu mematikan lampu kamar tempat mereka memadu cinta. Dona berbaring di tempat tidur, menghela napas, menghirup wangi pengharum ruangan di kamar. Ia bersiap memulai pernikahan yang sesungguhnya. Pernikahan seumur hidup bersama pria yang mencintainya dan juga akan ia cintai selamanya.
“Aditya…” Dona memanggil, seraya mengusap wajah suaminya.
Grook…grooook…
Aditya terdengar mendengkur. Dia tertidur karena kelelahan, membuat Dona tertawa kecil. Dona juga merasa mengantuk. Ia kembali mencium pipi suaminya itu, lalu merebahkan kepala di dada lelaki itu sambil memeluknya. Dengkuran dan detak jantung Aditya terdengar sangat jelas.
Dengkuran dan detak jantung ini yang akan didengar Dona seumur hidup di telinganya. Melodi yang lebih indah dari lagu-lagu yang diputar di bar tadi.
'Dan janji kita pada Tuhan adalah pernikahan yang sesungguhnya.'
"Aku mencintaimu Aditya." Ucap Dona.
Tanpa disangka, Aditya malah membalas ucapannya seraya mencium pucuk kepala Dona.
"Aku juga mencintaimu Sabrina Dona Amelia." Ucap Aditya dengan mata yang terpejam.
Dona memeluk Aditya dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya.
"Tidurlah sayang. Jika tidak, aku akan melakukannya lagi."
__ADS_1
Dona tersenyum, lalu memejamkan matanya dan perlahan tertidur.
Bersambung......