Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 60: Rencana Ayu


__ADS_3

Kejujuran dalam suatu hubungan berarti selalu mengatakan yang sebenarnya kepada pasangan dan benar-benar terbuka baik dalam hal besar maupun kecil. Menjadi jujur berarti menjadi diri sendiri di sekitar pasangan tanpa menyembunyikan apapun.


Namun yang dirasakan Ayu pada Billy saat ini adalah, Billy yang tengah menyimpan rahasia tentang apa yang menimpa Dona dan tidak diketahui oleh Ayu, isterinya sendiri.


Ayu tengah berpikir keras, bagaimana caranya untuk membuat suaminya agar bisa bicara jujur. Ia terus saja berjalan mondar-mandir sambil menggendong Baby Kenzo. Otaknya begitu buntu, ia benar-benar ingin membantu Dona namun tak tahu bagaimana caranya.


Jika bertanya begitu saja, tentu Billy tidak akan 0ernah berkata jujur padanya. Begitu lama mondar-mandir, Baby Kenzo akhirnya tidur. Ayu pun meletakkan bayinya ke tempat tidurnya. Saat Kenzo sudah sangat lelap, Ayu mulai mengambil ponselnya kemudian masuk ke halaman pencarian untuk browsing sesuatu.


"Cara membuat pasangan agar bicara jujur." Ucap Ayu.


Setelah itu, muncullah beberapa artikel yang sesuai dengan apa yang dicari Ayu. Ayu pun mulai membaca satu persatu artikel yang tersedia. Namun apa yang dibaca Ayu tak sesuai dengan apa yang ia inginkan.


"Apa-apaan ini? Hadeeeh... Tanya pasangan secara langsung agar dia lebih jujur dan terbuka padamu." Ayu membaca teks yang tampil di layar ponselnya. "Ungkapkan kerapuhan, ketakutan, dan perasaanmu pada pasangan. Tentukan waktu spesifik untuk curhat. Lakukan aktivitas yang mempererat hubungan, dan jangan abaikan perasaan pasangan." Ayu menggelengkan kepalanya. "Ini bukan cara membuat pasangan untuk jujur, tapi lebih cocoknya cara untuk jujur pada pasangan. Haishh benar-benar."


Ayu lalu meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas dan beralih menatap Kenzo yang terdengar suaranya. Ayu pikir Kenzo terbangun, ternyata hanya bergerak sedikit saja sambil tertidur.


"Hufftt.... Mama pikir kamu bangun sayang." Ayu mengelus pipi bayinya yang mungil. "Gak kerasa ya, kamu cepat banget tumbuhnya. Perasaan baru kemarin Mama melahirkan kamu." Lanjut Ayu.


Ayu memutuskan untuk keluar dari kamar Kenzo dan hendak menemui Billy.


'Apa salahnya aku mencoba bertanya secara langsung.' pikir Ayu.


"Lihatin Kenzo ya. Saya mau ke kamar dulu." Ucap Ayu pada pengasuh Kenzo yang tengah mengambil jemuran pakaian Kenzo samping rumah.


"Baik Bu."


Ayu berjalan ke arah kamarnya dan mendapati sang suami tengah bermain game. Tak ada yang berubah pada Billy setelah menikah dengan Ayu. Hanya ia jadi lebih giat bekerja demi menghidupi keluarga kecilnya. Namun, di waktu luangnya sama saja seperti saat ia masih bujangan. Yakni bermain game dan sekedar berolahraga dengan bermain basket atau futsal.


"Sayang." Panggil Ayu seraya memeluk Billy dari belakang.


Billy yang tengah mengenakan earphone lantas segera membukanya.


"Kenapa?" Tanya Billy dengan mata yang masih fokus pada layar televisi berukuran besar.


"Aku mau tanya sesuatu."


"Bisa nanti gak sayang. Nanggung nih." Balas Billy.


"Ini penting."


"Ya udah, tanya aja." Meski berkata begitu, namun Billy tetap saja fokus pada permainannya.


"Kamu bisa fokus ke aku dulu gak sih? Nanti giliran aku tanya, kamu malah jawabnya gak serius." Protes Ayu.


"Aduuuhh. Kamu tuh bawel banget ya. Udah nanya aja. Aku bakalan jawab kok." Suara Billy meninggi.


Ayu yang kesal langsung memilih keluar kamar menuju ruang keluarga. Ia tahu benar bahwa Billy jika sedang bermain tidak akan pernah bisa fokus pada hal lain kecuali permainannya. Ia lalu memilih menonton televisi yang tengah menampilkan sebuah film.


"Kayaknya seru." Ucap Ayu.


5 menit kemudian, Billy malah keluar untuk menemuinya. Billy langsung duduk disamping Ayu dan memeluk pinggangnya.


"Maaf sayang. Tadi kamu mau nanya apaan?" Tanya Billy.


"Aku mau nanya masalah Dona dan Gilang." Jawab Ayu dengan mata yang fokus pada adegan film.


"Apaan?"


"Kamu tahu gak, gimana ceritanya Gilang bisa tidur sama Dona sampai dia hamil gitu?" Tanya Ayu to the point.


Sesaat Billy terdiam. Ia terlihat terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Ayu padanya.


"Ya mana aku tahu." Jawab Billy. "Ku pikir kamu mau nanya apa tadi. Haaah buang-buang waktu saja. Lebih baik aku lanjut nge-game aja."


Billy kemudian kembali masuk ke dalam kamar. Sementara Ayu, tahu benar bahwa Billy tengah berbohong padanya.


Berbohong adalah salah satu penyakit hati yang paling banyak diidap oleh manusia di dunia ini. Hampir semua orang pernah berbohong. Sampai-sampai ada julukan 'tukang bohong' bagi orang yang doyan berkata tidak jujur. Dan bagi Ayu, ia harus mendapatkan cara untuk membongkar semua kebohongan suaminya.


Saat menonton adegan film yang tengah berlangsung, Ayu akhirnya memiliki ide bagaimana caranya untuk membuat Billy berkata jujur.


'Aku punya ide.' ucap Ayu dalam hati.

__ADS_1


****************


Malam harinya, Ayu sudah menyiapkan semua yang ia butuhkan untuk melancarkan rencananya. Kenzo sudah tertidur dan dijaga oleh pengasuhnya. Sementara Billy masih berada di luar rumah, bermain futsal sejak jam 5 sore tadi.


Ayu mengenakan pakaian seksi berwarna merah menyala. Di dalam kamar, ia sudah mempersiapkan dua buah kursi dengan meja yang dihiasi dengan lilin dan vas berisi mawar merah. Terdapat kue dengan potongan stroberi yang banyak dan dua buah gelas serta sebotol wine yang dipesan Ayu lewat temannya.


'Aku harap rencana ini berhasil.' ucap Ayu dalam hati.


Ia mulai memadamkan lampu kamar setelah menyalakan lilin setelah mendengar suara deru mobil dari depan rumah. Ayu lalu menaburkan bunga dari pintu kamar hingga ke tempat tidurnya. Ia kemudian duduk dengan pose yang sengaja dibuat agar tampak seksi saat dilihat oleh sang suami.


Suara pintu kamar terbuka menampilkan sosok Billy yang dengan masih mengenakan baju bolanya. Ia tampak terkejut melihat suasana kamar dengan lampu temaram dan cahaya lilin yang memperlihatkan wajah Ayu yang tampak cantik dilihatnya.


Billy berjalan mendekat ke arah Ayu. Ayu langsung menyambutnya dengan mengulurkan tangannya dan menuntun Billy untuk duduk di kursi yang sudah ia sediakan.


"Sayang. Ada apa dengan semua ini? Apa kita tengah merayakan sesuatu?" Tanya Billy. "Kau tampak sangat cantik dan seksi." Lanjutnya.


Ayu tersenyum dan mulai menuang wine ke gelas dan memberikan kepada Billy.


"Wine?" Tanya Billy saat mencium aromanya dari dalam gelas.


"Iya." Balas Ayu.


"Sebenarnya untuk apa semua ini?" Tanya Billy lagi.


"Sayang.... Malam ini aku akan memanjakan mu. Bukankah setelah melahirkan kau sudah tidak pernah menyentuh aku lagi, karena menunggu aku pulih dulu." Ucap Ayu.


Billy tersenyum. Ia memang belum pernah lagi berhubungan dengan Ayu semenjak melahirkan karena menunggu Ayu pulih pasca caesar.


Ayu lalu mulai memotong kue dan memberikan potongan stroberi pada Billy. Ia menyuapi Billy dengan penuh mesra, membuat Billy merasa begitu bersemangat. Ayu kembali menuang wine ke dalam gelas Billy yang sudah tandas.


"Cukup sayang, aku sudah lama tidak minum banyak. Aku takut mabuk."


'Justru hal itu yang aku inginkan terjadi.'


Ayu menyeringai dan mulai melancarkan aksinya. Ia duduk dipangkuan Billy dan memberikan stroberi pada Billy dengan mulutnya.


"Kau nakal." Ucap Billy yang kemudian mengambil stroberi itu juga dengan bibirnya.


Keduanya lalu berciuman mesra, setelah itu Ayu mengambil gelas berisi wine dan memberikannya pada Billy.


"Dari mana kau belajar hal seperti ini sayang?" Tanya Billy yang mulai meraba tubuh Ayu.


Ayu menggeliat, membuat Billy semakin bergairah dan bersemangat. Sementara Ayu mulai kewalahan karena Billy tak kunjung mabuk juga. Ia kembali menuangkan wine ke dalam gelas dan berharap dengan gelas wine terakhir ini dapat membuat Billy mabuk.


"Sayang, ayo pindah ke tempat tidur. Aku sudah tidak tahan." Ucap Billy.


Saat Billy mencoba berdiri, ia tiba-tiba oleng. Untungnya Ayu segera menahan tubuhnya hingga tak sampai terjatuh ke lantai.


'Kena kau, akhirnya mulai teler.'


"Bisa bantu aku sayang, kepalaku mulai pusing. Sepertinya aku mabuk." Ucap Billy.


Ayu memapah tubuh Billy hingga ke tempat tidur mereka.


"Sayang, aku harap kau bisa melayaniku malam ini. Aku serahkan semua kendalinya padamu. Karena aku tidak akan sanggup." Ucap Billy.


"Tentu saja sayang." Balas Ayu.


Kemudian Ayu mulai membuka satu persatu atribut yang dikenakan suaminya. Mulai dari sepatu, hingga pakaian dan celana sang suami. Meski Billy mabuk, nyatanya gelora asmaranya dalam bercinta tak main-main. Ayu bahkan kaget melihat kejantanan sang suami yang mengeras.


'Terpaksa dengan cara seperti ini.'


Ayu pun memulai aksinya, ia memegang penuh kendali permainan ranjang mereka kali ini. Billy yang hanya bisa berbaring dan menerima perlakuan sang isteri sesekali mendesah.


"Sayang...." Ayu berbisik ditelinga sang suami.


"Apa sayang?" Tanya Billy.


"Apa Dona dan Gilang saling mencintai seperti hingga mereka bisa melakukan hal yang sama seperti yang kita lakukan saat ini?" Tanya Ayu.


Billy terdiam sesaat, Ayu mengambil kesempatan untuk menyalakan perekam suara dari ponselnya yang sempat ia ambil dari atas nakas.

__ADS_1


"Aku tidak tahu dengan Dona sayang. Tapi Gilang, benar-benar mencintai Dona. Dia bahkan bakal ngelakuin apapun untuk mendapatkan Dona kembali padanya. Ya seperti yang sudah ia lakukan, yaitu meniduri Dona."


"Kalau mereka tidak saling mencintai, gimana ceritanya Dona bisa ditiduri Gilang?"


Ayu benar-benar berharap, apa yang akan dikatakan Billy bisa menjadi bukti yang kuat untuk Dona bisa melawan Gilang.


Billy tertawa.


'Kok malah ketawa?'


"Sayang..... Aku yang sudah memberikan saran pada Gilang untuk melakukan semua itu, karena aku kasihan padanya. Gilang terlihat seperti orang gila karena berpisah dengan Dona. Jadi aku pun menyarankan hal satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah yaitu dengan menghamili Dona. Tapi, karena aku tidak bisa memastikan bahwa Dona bisa hamil hanya dengan sekali percobaan, maka aku memintanya untuk lebih dulu menyuntikkan Dona dengan cairan yang bisa membuat Dona tidak datang bulan. Mmmm apa itu namanya?" Billy bertanya pada Ayu, tapi Ayu terdiam dan hanya ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan Billy. "Aaahh, aku ingat. Cairan suntik KB yang otomatis kan bisa membuat Dona berhenti datang bulan dalam jangka waktu 3 bulan. Jadi....." Nada bicara Billy terdengar aneh ditelinga Ayu karena pengaruh mabuknya. "Dona pasti akan mengira dirinya hamil, dan dia akan setuju menikah dengan Gilang."


Ayu merasa hatinya semakin kecewa mendengar apa yang dikatakan sang suami. Ia tak menyangka sang suami bisa begitu tega pada sahabatnya. Ayu lalu turun dari atas tempat tidur dan tak melanjutkan adegan panas yang baru saja dilakukannya.


"Sayang mau kemana? Kenapa tidak dilanjutkan?" Rengek Billy.


Ayu tak menjawab apa-apa dan memilih menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Billy berusaha bangun, namun kepalanya terasa begitu berat hingga membuatnya memilih untuk tetap berbaring dan memejamkan matanya. Sementara Ayu, setelah selesai membersihkan dirinya ia kemudian mengirimkan hasil rekaman suara Billy pada Dona dan juga Aditya.


*************


Pagi menjelang, Ayu sudah bersiap-siap untuk keluar rumah. Ia memutuskan untuk mengunjungi orang tuanya hari ini. Kejadian semalam, membuat hatinya terluka setelah mendengar pengakuan sang suami. Ia berdiri disamping tempat tidur dan menatap wajah Billy yang masih terlelap dengan tubuh yang ditutupi selimut.


"Aku mencintaimu, namun hatiku sangat terluka dengan apa yang sudah kau lakukan pada sahabat baikku."


Saat Ayu berbalik dan hendak berjalan, tiba-tiba tangannya ditarik dan Billy membekap tubuhnya dari belakang.


"Mau kemana pagi-pagi begini?" Tanya Billy menciumi telinga Ayu.


"Lepaskan aku. Aku mau pergi mengunjungi orang tuaku." Jawab Dona.


"Kenapa mendadak sekali? Terus semalam sepertinya kamu tidak menyelesaikan tugasmu dengan baik, lihat saja dia masih bangun dan...."


Tangan Ayu yang diarahkan pada benda sensitif milik Billy yang tegang membuat Ayu terlonjak kaget hingga segera menarik tangannya.


"Kenapa?" Tanya Billy. "Bukankah semalam kau begitu bersemangat? Tapi sepertinya semuanya tidak tuntas karena aku merasakan ada sesuatu yang tertahan dalam diriku dan ingin dikeluarkan."


"Sudah ku bilang, aku harus pergi."


Billy menarik paksa tubuh Ayu dan menjatuhkannya di tempat tidur. Sekali gerakan saja membuat tubuh Ayu tak bisa bergerak hingga membuat Billy leluasa membuka kemeja yang Ayu kenakan.


"Lepaskan aku." Teriak Ayu.


"Tuntaskan apa yang sudah kau perbuat semalam." Bentak Billy.


Ia memaksa Ayu, sekuat tenaga Ayu berusaha untuk melawannya. Billy terus saja mencium Ayu dan berusaha membuka celana yang dikenakan Ayu.


"Kau masih punya muka untuk melakukan hal ini. Apa kau lupa dengan apa yang kau katakan semalam?" Entah mengapa Ayu ingin menangis.


"Memangnya apa yang sudah aku katakan?" Billy menghentikan aksinya dan menatap wajah Ayu yang berbaring dibawahnya.


"Kau mengakui semua yang kau perbuat pada sahabatku."


"Maksudmu?" Wajah Billy tampak bingung.


"Kau mengatakan bahwa kau lah yang memberi ide pada Gilang untuk meniduri Dona. Bahkan kau sampai memikirkan cara bagaimana untuk meyakinkan Dona supaya mengira bahwa dirinya tengah hamil." Ayu refleks mendorong tubuh Billy hingga membuatnya terjatuh ke samping.


Ayu lalu duduk dan memperbaiki kancing kemeja yang ia kenakan.


"Aku gak nyangka kamu bisa berbuat seperti itu pada sahabatku. Pada Dona... Kau tahu Dona kan? Dona...." Ayu bicara dengan emosional. "Dona yang selama ini selalu mendukung hubungan kita. Dona yang selalu ada untuk membantu isteri mu ini. Dona yang bahkan rela pasang badan demi menutupi aib kita. Dia bahkan menerima ejekan dan hinaan dari orang-orang yang berpikir bahwa dia yang hamil kala itu. Padahal kenyataannya dia tengah menutupi kehamilanku." Ayu mulai terisak. "Kamu tega Bill."


"Maafkan aku sayang. Tapi semua ini aku lakukan karena aku juga memikirkan sahabatku."


"Kau memikirkan sahabatmu si Gilang itu tanpa memikirkan bagaimana dengan sahabatku. Bagaimana dengan Aditya? Bukankah Aditya juga temanmu? Apakah kau membencinya? Apakah kau menyimpan dendam padanya? Atau kau bahkan...."


"Bukan begitu...." Billy berteriak.


"Terserah kau mau beralasan apa. Aku sudah....."


"Maafkan aku."

__ADS_1


"Jangan minta maaf padaku." Ayu lalu berjalan keluar kamar meninggalkan Billy yang tertunduk dalam penyesalan.


Bersambung....


__ADS_2