Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Hasrat mas Adam


__ADS_3

Keputusan mas Adam benar-benar membuat semua orang gelisah termasuk aku dan juga Mawar, tinggal di satu atap yang sama sangatlah tidak nyaman bagi dua orang istri. 


"Coba Mas perhitungkan lagi, mana mungkin kami tinggal di satu atap yang sama." Bujuk mawar berusaha merubah pikiran Adam. 


"Aku sudah memperhitungkan semua dan ini adalah keputusan mutlak tidak ada yang boleh mengganggu gugatnya."


Aku hanya terdiam mendengar keputusan yang sangat-sangat egois dari mas Adam, percuma aku memberikan pendapatku kalau akhirnya tidak terima yang ujung-ujungnya menjadikan Kanaya sebagai taruhan. 


Mawar melirik dengan sinis membuatku semakin tidak nyaman dalam suasana itu. 


"Kalau ada yang ingin disampaikan cepat katakan, karena aku tidak punya banyak waktu." 


"Wajah Mba terlihat lugu, tapi sangat munafik. Pasti ini karena Mba yang sudah menghasut mas Adam," tuduh Mawar padaku. 


"Apa kamu pikir aku ingin di posisi ini? Mintalah padanya agar segera menceraikan aku tanpa mengancam merebut Kanaya dariku." 


"Mas, untuk apa kamu menahannya dan juga Kanaya? Kamu sendiri yang mengatakan tidak menyukai keberadaan anak itu." 


Deg


Perkataan Mawar berhasil membuatku terkejut, tidak menyangka kalau suami ku itu tidak menyukai kehadiran Kanaya. Aku kembali berpikir, mengapa jenis kelamin anak menjadi patokan untuk keegoisan seseorang? Bukankah anak adalah titipan? Apalagi kami menunggu kehadiran sang buah hati selama lima tahun, lantas mengapa mas Adam menjadikan jenis kelamis sebagai tolak ukur. 


"Heh, mengapa Mas tidak mengatakannya langsung padaku?" Aku tersenyum mengenaskan melihat mas Adam menatapku tanpa rasa bersalah sedikitpun di benaknya, dia mencintaiku tapi tidak menginginkan kehadiran Kanaya. Oh Tuhan, mengapa Engkau mempermainkan permainan takdir padaku? Aku rapuh … benar-benar sangat rapuh.


"Ibu benar, aku butuh anak laki-laki yang menjadi pewaris ku nanti." 

__ADS_1


"Jadi karena ibu? Memangnya siapa yang bisa menolak takdir, Mas? Lagipula penentu jenis kelamin dari kromosom ayahnya, antara kromosom X dan kromosom Y. Jangan berpikiran kuno, bukankah guru pernah menjelaskan bahwa laki-laki lah penentu jenis kelamin anaknya? Apa pikiranmu sekarang terlalu sempit?" cibir ku yang tidak peduli pandangan mas Adam ataupun Mawar. 


"Mana ada yang seperti itu," Mawar tergelak mender penjelasanku, namun mas Adam diam terpaku entah apa yang dia pikirkan. "Katakan saja kalau Mba tidak bisa memberikan anak laki-laki."


"Silahkan tertawa, aku tidak peduli." Luna tersenyum tipis saat lawannya meremehkannya, itu berarti tingkat wanita perebut suaminya ada di bawahnya. "Dan untukmu, Mas. Semakin menahanku, semakin aku membencimu." Sekilas aku menatap dua orang pengkhianat di hadapanku dan berlalu pergi menyusul Kanaya. 


Saat aku memberikan Kanaya ASI terdengar jelas kalau mereka sedang bertengkar, aku hanya diam saja dan tidak akan berpengaruh pada mereka.  


Aku terdiam memikirkan bagaimana keluar dari rumah ini, rumah yang memberikan aku banyak cinta juga rasa sakit pengkhianatan dari suamiku. Aku merasa kalau suamiku memiliki kepribadian ganda, sifat yang berbeda saling bertolak belakang dari satu orang.


Pintu kamar terbuka paksa, aku melihat mas Adam menatapku dengan pandangan aneh. Aku sedikit takut, memeluk Kanaya erat dan mengambil ancang-ancang kalau dia sampai macam-macam pada kami. 


"Mengapa kamu di sini, Mas?" tanyaku yang gugup. 


Mas Adam tidak menggubris pertanyaan ku dan malah menutup pintu dan menguncinya, aku sangat takut saat ini dan diam-diam melirik benda yang ada di jangkauan sebagai alat melindungi diri. 


Mas Adam berjalan mendekat dan perlahan membuka kancing bajunya, tidak ada pilihan lain untuk menyelamatkan diri. 


"Jangan gila kamu, Mas. Aku belum lepas empat puluh hari, haram untukmu menyentuhku." Kecamku padanya. 


"Beberapa hari lagi kamu sudah selesai nifas, apa salahnya aku menuntut hak ku." 


"Aku tidak mengizinkanmu menyentuhku, pergilah dari sini!" pekik ku dengan sengaja agar terdengar orang lain, berharap Mawar datang dan mengacaukan rencana mas Adam yang sungguh gila. 


Mas Adam semakin keterlaluan, aku sangat takut melihatnya hanya mengenakan pakaian penutup bagian alat vitalnya. Menelan saliva yang seakan tersangkut ke tenggorokanku, kepada siapa aku meminta tolong. Tidak mungkin aku melayaninya dan juga tidak sudi, melihatnya saja membuatku sangat jijik setelah tahu dia menikah dengan wanita lain.

__ADS_1


"Kamu masih istriku, dan aku suamimu. Durhaka bagi seorang istri yang tidak mau melayani suaminya."


"Sepertinya Mas tidak ingat kalau aku  belum selesai nifas, haram bagimu menyentuhku dan dosa bagiku yang melayanimu." Jelasku yang tidak ingin melayaninya dengan cara itu, bagaimana mas Adam bisa melakukannya? Bagian sensitif ku masih terasa linu karena di obras. 


"Aku tidak peduli, aku sudah tidak bisa menahannya." 


Segera aku meletakkan Kanaya ke baby box tidak ingin anakku itu sampai terluka, saat berbalik mas Adam semakin menggila dan menciumku penuh hasrat. Tangannya mulai menyingkap pakaianku, dan berusaha merobeknya untuk memudahkannya. Aku tidak tinggal diam dan melakukan pemberontakan, beberapa kali berteriak berharap ada yang membantuku.


"Aku mohon, jangan melakukan hal itu padaku." Aku menyatukan kedua tangan dan menangis pasrah. Sekarang mas Adam menindih tubuhku, sia-sia aku melakukan perlawanan karena lawannya tidak seimbang. 


Aku akhirnya bisa bernafas lega saat melihat pintu kamar terbuka lebar, melihat dua orang menatap ke arah kami penuh kemarahan. 


Mawar menarik tangan mas Adam agar menjauh dari ku, aku segera bangkit dan langsung menggendong Kanaya dalam pelukan ku. 


"Apa yang kamu lakukan Dam?" pekik wanita paruh baya yang memarahi anaknya, bahkan sesekali memukul mas Adam. 


"Apa nya yang salah Bu? Luna masih istriku dan aku hanya menginginkan hakku sebagai seorang suami." 


"Dia belum selesai nifas, jangan gila kamu. Hawa n*fsu kok di ikutin, apa hebatnya dia? Lebih baik kamu salurkan pada Mawar, Ibu yakin dia pasti menerimanya dan memberikan yang terbaik untuk memuaskanmu." 


"Tapi Bu__."


"Tidak ada tapi-tapian, lampiaskan hasrat mu pada istri keduamu saja, toh Luna juga menolakmu." 


Ibu mertua menatapku sinis, beberapa kali dia menyindir, menghina dan mencaci maki ku tapi aku tidak sakit hati melainkan sangat berterima kasih, tanpa sadar ibu telah menyelamatkan aku dari anaknya yang buas. 

__ADS_1


Dengan cepat aku mengunci pintu, rasa takut membuat tubuhku bergetar hebat. Bagaimana jadinya kalau mereka tidak datang tepat waktu, mungkin aku sudah di perk*osa oleh suamiku. Sungguh aneh tapi nyata, inilah yang terjadi padaku yang sialnya mempunyai suami pengecut dan bersikap plin-plan. 


"Aku tidak mungkin berada di sini terlalu lama, tapi aku juga takut kalau Kanaya sampai di sakiti oleh mas Adam. Ya Tuhanku, kirimkan orang untuk menyelamatkan kami. Berilah aku kekuatan agar terlepas dari suamiku," ucapku yang berdoa di dalam hati. 


__ADS_2