
Hari ini adalah jadwal ku dan mas Biru pergi ke butik, mencoba pakaian yang akan dikenakan saat ijab qobul. Semua persiapan sudah hampir selesai, semuanya di atur oleh mas Biru karena ini idenya untuk mempercepat pernikahan kami.
Setelah aku menidurkan Kanaya lebih dulu, hatiku berat meninggalkan putriku satu-satunya itu dan membujuk mas Biru agar anakku juga ikut.
"Sayang, kamu sudah siap?"
"Sudah dari tadi Mas." Balasku tersenyum ke arah pria yang berdiri di daun pintu.
"Ayo, kita harus berangkat sesuai jadwal."
"He'eum. Mas, apa boleh Kanaya ikut? Aku tidak tega selalu meninggalkannya." Tanya ku sedikit ragu, berharap dia mengerti apa yang aku rasakan.
"Aku tidak masalah kalau Kanaya ikut."
"Sungguh?" aku sangat gembira apalagi saat melihat mas Biru yang mengangguk kepalanya.
"Ayo! Masih banyak yang harus aku urus."
"Iya Mas." Aku menggendong Kanaya penuh hati-hati, bayiku yang tertidur membuatku juga tak tega. Tapi lebih tak tega pula kalau sampai menitipkannya kepada babysitter, biar bagaimanapun karena ia adalah putriku satu-satunya yang paling aku cintai.
Sesampainya di butik, aku melihat begitu banyak gaun yang sangat indah yang berjajar tersusun rapi, sekaligus mencuci mata karena sangat jarang sekali aku pergi ke tempat yang seperti ini. Ya, karena selama pernikahanku dengan mas Adam, dia tidak pernah sekalipun membawaku ke tempat-tempat mewah, paling mentok pergi ke pasar malam.
__ADS_1
"Kamu coba beberapa gaun ya, aku duduk di sofa sebelah sana." Tunjuk mas Biru.
"Baik Mas."
Aku sedikit kebingungan di sana, namun seorang karyawan membantuku menyelesaikan masalah. Karyawan itu satu persatu begitu sabarnya memperlihatkan gaun pengantin dan juga beberapa kebaya terbaik mereka, aku yang hanya diminta untuk mencoba beberapa gaun menjadi bersemangat.
Kulangkahkan kaki menuju ruang ganti, kebaya berwarna putih yang ada di tanganku segera aku kenakan dan merasa jatuh hati saat pertama kali melekat di tubuhku. Begitu terpukau melihat aksen di setiap rancangannya, namun aku tak percaya diri mengenakannya.
"Kebayanya sangat indah, pasti mahal. Aku harus hati-hati menggunakannya." Monologku.
Aku memutuskan untuk keluar dan memanggil mas Biru, tapi reaksi terdiamnya membuatku merasa aneh. "Apa kebaya putih ini tidak cocok Mas?"
"Jangan, tetap seperti ini."
"Eh."
Aku terkejut saat mas Biru mengeluarkan ponselnya dan memotret ku yang mengenakan kebaya, sontak aku menutupi wajahku dengan kedua tangan karena merasa malu.
"Mas."
"Iya Sayang, kenapa?"
__ADS_1
Aku merengek agar dia menghentikan aksinya, tapi mas Biru kembali menggodaku dan berjalan ke arahku. Ku perhatikan Kanaya yang terlelap di sofa di sebelah mas Biru tadi, aku tersenyum karena sangat lega.
"Wah, ternyata calon istriku sangat cantik. Yuk ke hotel!"
Aku langsung membulatkan kedua mataku, ku tatap dia tajam. Namun, reaksi yang di tunjukkannya malah berbanding terbalik. Mas Biru terkekeh melihatku yang sedang marah, diam-diam dia kembali memotretku dalam posisi yang belum siap.
"Aku bercanda, mana mungkin aku merusak wanita yang aku cintai."
Aku menghela nafas lega, berada di sisi mas Biru selalu memancing adrenalin rollercoaster.
"Persiapkan dirimu Sayang, di malam pertama kita aku membuatmu terkulai lemas." Bisik mas Biru yang tertawa keras, mengundang perhatian dari orang-orang sekitar.
"Mas," bisikku yang memberikan kode padanya agar tidak membuat perhatian di tempat itu, untung saja jantungku masih aman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sambil menunggu author up bab selanjutnya, mampir juga di karya teman author. Karya islami dan banyak pembelajaran yang di petik dari author Ramanda
Yukk kepoin🥰🥰
__ADS_1