
Aku sangat bahagia karena semua permasalahan sudah di selesaikan, masa sulit telah di lewati bersama. Walaupun kami masih berduka atas kepergian bunda Kejora, tapi setidaknya ada pelajaran yang di petik.
Aku tersenyum saat memandang wajah suamiku yang ceria kembali, hubungan baru mulai terbentuk antara anak satu ayah. Kenikmatan setelah ujian yang aku terima, kini aku memetik buah dari kesabaranku.
"Kamu sudah siap Mas?"
"Aku sudah siap, bagaimana dengan ayah? Apa ayah sudah siap?"
"Sudah." Aku mengangguk dan berjalan keluar dari kamar, tentu saja menjemput ayah mertuaku menggunakan kursi roda. Sementara mas Biru menggendong Kanaya yang sekarang sudah bisa tengkurap, waktu berlalu dengan cepat dan tidak terasa kalau usia anakku sudah lima bulan.
Aku memegang gagang pintu dan ku singkap sedikit, terlihat ayah Bintang buru-buru menyeka air matanya. Aku pura-pura tak melihatnya, mungkin rasa bersalah membuatnya begitu. Sekilas dia tersentak saat mendapatiku sudah berada di depan pintu, namun segera berpikir positif kalau aku tak melihatnya menangis.
"Kapan kamu di sana?"
"Baru saja kok, Ayah sudah siap?"
"Sudah."
Aku merasa sangat kasihan dengan keluarga suamiku, kehilangan Bunda Kejora meninggalkan luka di hati setiap orang. Aku hanya bisa berdoa semoga saja ibu mertuaku di tempatkan ke sisi-Nya yang paling baik, setiap doa yang baik akan kembali pada diri sendiri.
__ADS_1
Semua orang menatap pusara yang mulai di tumbuhi rumput, Putih dan mas Biru membersihkannya sedangkan aku menggendong Kanaya yang sekarang semakin aktif bergerak.
"Bunda, Biru minta maaf. Sungguh, saat itu pikiran Biru di kuasai amarah hingga lupa berpikir jernih. Semoga bunda tenang disana."
Kami meneteskan air mata, berada di sana hanya beberapa menit saja karena kasihan kondisi ayah bintang dan juga Kanaya.
Lalu, kami juga bersilaturahmi ke rumah Iren yang sekarang menjadi kakak iparku. Waktu berjalan sangat cepat hingga dendam itu sudah pudar dan yang tinggal hanyalah kasih sayang.
"Bagaimana kondisi ibu Desi?" aku sengaja bertanya langsung, mau menjenguk tapi tidak di bolehkan mengingat trauma dan depresi berat yang tidak memungkinkan orang asing datang membesuk.
"Alhamdulillah, sudah lebih membaik."
"Iya. Oh ya, kapan kamu kasih Kanaya adik?"
Uhuk
Aku terbatuk mendengar pertanyaan Iren. "Kanaya masih kecil." Jawabku yang tersipu malu. "Mba kapan menikah?"
Uhuk
__ADS_1
Sekarang gantian Iren yang terbatuk, kemudian kami tertawa bersama membuat orang lain penasaran.
"Aku masih betah sendiri."
Aku tahu, walaupun Iren sudah berdamai dengan masa lalunya yang buruk tetap tak rasa sakit itu masih saja membekas. Dia trauma yang namanya pernikahan, tapi siapa yang akan menerimanya kalau dia memutuskan tak menikah.
"Mau sampai kapan Mba jomblo?" celetuk mas Biru yang ternyata menghampiri kami dan mendengar obrolan kami.
"Suka-suka Mba dong, kok kamu yang sewot." Cetus Iren.
"Mau aku kenalin sama teman ku gak Mba?" goda Biru yang tersenyum jahil pada Iren.
"Gak deh, terakhir kali kamu ngenalin Mba sama teman mu itu, buat Mba lebih milih jadi jomblo."
Aku terkekeh melihat interaksi mereka, sikap jahil dan ceria suamiku sudah kembali lagi. Aku tak bisa menahan tawa saat mas Biru berulang kali membujuk Mba Iren menikah.
"Ayolah Mba, masa kalah sama aku."
"Kalah? Kamu sendiri belum punya anak kok, kalah dari mananya."
__ADS_1
"Itu Kanaya kan anakku."