
Hari H pun sudah tiba, aku sangat deg-degan dan tak menyangka kalau ini adalah pernikahan kedua ku. Kegagalan pernikahan pertama memang menimbulkan trauma, namun itu akan menghilang dengan sendirinya jika menemukan pria yang tepat.
Bulir bening menetes di pipi, sekarang Kanaya mendapatkan ayah sambung yang bahkan anakku itu tidak di inginkan nenek dan juga ayah kandungnya.
"Kak, kenapa Kakak menangis di hari yang bahagia ini? Apa kak Biru yang memaksa Kakak?"
Aku menoleh ke sumber suara, ku tatap wajah Putih yang kebingungan mengapa aku meneteskan air mata. Aku tertawa kecil dan menggelengkan kepala dengan cepat, jangan sampai dia salah paham pada hubungan tanpa paksaan ini.
"Aku menangis bahagia, dan merasa beruntung mendapatkan keluarga yang mau menerima kekuranganku."
Putih masuk ke dalam kamar dan melihat sekeliling dekorasi kamar pengantin yang terlihat sederhana, di sanalah dia merasa kalau kakaknya tidak romantis.
"Pasti kamar ini juga di rancang kak Biru."
"Ya begitulah, kakakmu terlalu bersemangat."
"Ya, memang aku akui kalau dia sangat bersemangat. Hanya saja rancangan kamar yang dia buat ini terlalu banyak warna hijau, jadi mataku menjadi sakit, benar-benar di buat seperti tidur di dalam hutan belantara."
"Aku menghargainya, bukankah warna hijau warna favoritnya?"
__ADS_1
"Memang. Apa boleh aku rombak sedikit?"
"Biarkan saja seperti ini."
"Sedikit saja, ayolah!" rengek Putih seperti anak kecil, mau tak mau aku menganggukkan kepala. "Jangan merombak secara besar-besaran atau kakak mu bisa marah."
"Siap Bos, serahkan padaku."
Aku terkekeh melihat sikap Putih yang hormat seperti upacara bendera.
Acara akan segera di mulai dalam hitungan menit, aku menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Aku ingin sekali menggendong Kanaya, tapi bunda Kejora tak memberikanku izin karena dia yang terlalu semangat menggendong anakku, dia tidak ingin aku capek di hari spesial ini.
"Sah?"
"Sah."
Aku meneteskan air mata saat mas Biru mengucapkan ijab qabul satu kali tarikan nafas dengan sangat lancar, aku mencium tangan mas Biru yang sudah resmi menjadi suamiku dan dia menyentuh ubun-ubun ku dengan sebelah tangannya dan sebelahnya lagi menadahkan tangan sambil berdoa.
"Sekarang kalian sudah resmi menikah, tanda tangan pada buku nikah."
__ADS_1
Aku dan mas Biru berpose tersenyum saat di foto oleh fotografer, tak lupa Kanaya ikut serta setiap kali pemotretan sesuai keinginanku.
"Persiapkan nanti malam, Sayang."
Bisikan mas Biru membuat bulu kuduk ku merinding, tapi ku beranikan diri untuk menjawabnya setelah resmi menjadi istrinya. "Aku akan memberikan yang terbaik." Balasku berbisik.
"Wow, ternyata istriku punya sisi liar saja. Tapi mengapa tidak mempan saat aku menggodanya?" gumam Biru di dalam hati yang tengah berpikir keras.
"Aduh … perutku tiba-tiba mulas ya." Batinku yang segera permisi menuju toilet.
Di malam pertama, Biru sudah tidak sabar masuk ke dalam kamarnya. Suasana dan keromantisan hanya untuk mereka berdua, dia menginginkan hal yang lebih daripada itu.
Biru mengetuk pintu dan perlahan masuk ke dalam kamar pengantin, tersenyum ramah berubah liar saat melihat istrinya sudah berada di atas ranjang. Dia berjalan menghampiri dan mengutarakan niatnya.
"Kita sudah halal, aku ingin menjalankan kewajibanku. Pasti kamu sudah mempersiapkannya dengan sangat baik, aku sangat-sangat mencintaimu Luna." Biru yang hendak menyosor bibirnya terhalang oleh telapak tangan.
"Maaf mas, malam pertamanya kita tunda dulu ya. Aku lagi datang bulan."
"APA?" Biru meringis sekaligus kecewa karena malam yang di nantikan olehnya tertunda untuk seminggu ke depan.
__ADS_1