
Adam tertawa dengan sangat keras, dia tidak percaya apa yang baru saja didengar oleh telinganya. Setahunya pria yang bernama Biru merupakan pria miskin karena penampilannya begitu sederhana, mungkin saja pria yang mengenakan kemeja putih di hadapannya itu tengah berbohong.
Bukan hanya Adam saja yang tidak percaya melainkan Mawar, karena dia tidak yakin kalau Biru yang dimaksud ternyata orang kaya yang bahkan melebihi suaminya.
"Apa ada yang lucu sampai kalian tertawa?" pria itu mengangkat sebelah alisnya dengan bingung.
"Anda jangan bercanda, Biru yang kami kenal itu pria miskin."
"Pasti anda salah orang," sambung Mawar yang tertawa tidak percaya.
"Terserah apapun pendapat kalian." Pria itu segera memasukkan berkas yang sudah ditandatangani oleh Adam ke dalam tas berwarna hitam, dia segera beranjak dari duduknya dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Pasangan suami istri menatap dengan melongo karena jika dilihat pria itu tidak mungkin berbohong, dan terkejut menyadari kalau Biru bukanlah pria sembarangan.
"Kenapa Luna begitu beruntung? Terlepas dari mas Adam dia mendapatkan Biru, ternyata pria di belakangnya itu berasal dari kolomerat." Batin Mawar yang merasa sesak di dadanya, keberuntungan dari rivalnya itu sangatlah mujur. Bahkan dia mulai menyesal mengejar Adam yang ternyata tidak sebanding. "Jika tahu begini tidak perlu aku bersaing dengannya, tapi mengapa Biru menyembunyikan identitasnya?"
Sementara Mawar yang bergelut dengan pikirannya, lain halnya dengan Adam yang sangat marah mengetahui identitas dari rivalnya itu bukan orang sembarangan, itu tandanya cukup sulit untuk mendapatkan Luna kembali dalam pelukannya.
"Sial. Mana mungkin aku bisa melawan Biru kalau bawahannya saja membuat bulu kudukku merinding," ucap Adam di dalam hatinya menelan saliva bersusah payah seakan tersangkut di tenggorokan, lawannya kali ini tidak sebanding bahkan jauh di atasnya.
"Ck, ternyata usahaku selama ini sia-sia merebut mas Adam dari Luna. Kalau tahu begitu sudah lama aku dekati Biru, ternyata penampilan seseorang tidak bisa diprediksi kalau orang itu kaya atau miskin." Ucap Mawar di dalam hatinya seraya berlalu pergi tanpa mengucapkan satu kata pun, wajah penyesalan tak bisa disembunyikan.
Pria yang mengenakan kemeja putih masuk dalam mobil dan mengeluarkan ponsel dari saku, tentu saja memberikan laporan.
"Halo bos, saya sudah menyelesaikan tugas."
"Kerja yang bagus, Tomi."
__ADS_1
"Terima kasih pujiannya bos."
Setelah sambungan telepon telah terputus, Biru tersenyum karena anak buahnya bekerja dengan sangat baik, hal yang paling ditunggu-tunggu sebentar lagi akan dimulai.
"Sekarang tinggal meyakinkan Luna untuk berpisah dari Adam, dua langkah ke depan maka dia akan menjadi istriku." Biru tersenyum membayangkan dirinya yang tengah bersanding di atas pelaminan bersama wanita yang dia cintai, berharap tidak ada kendala saat minta tanda tangan dari Luna.
****
Aku menghela nafas, beristirahat untuk melepaskan rumah mewah Itu tampak rapi dan juga bersih. Perutku berbunyi, sejak tadi pagi aku belum makan apapun. Karena tidak ingin memforsir tenaga, aku memutuskan untuk makan. Kulangkahkan kaki menuju dapur, karena rasa lapar yang tak tertahan aku memutuskan untuk memasak yang praktis seperti dadar telur dan tumis sayur kangkung. Walaupun aku memasak hal sederhana, tapi rasanya itu sudah sangat mewah.
Aku menyentap dadar telur dan juga tumis kangkung dengan sangat lahap, menikmati setiap gigitan yang dimaksud ke dalam mulutku, tapi aku tak bisa makan terlalu bermain-main karena Kanaya bisa kapan saja bangun dari tidurnya.
Saat nasi yang tersisa di dalam piring tinggal separuh aku melihat mas Biru yang menghampiriku. "Mari makan, Mas." Ucapku yang menawarkan.
"Lanjut."
"Ada hal yang ingin aku tanyakan cuma waktunya belum tepat, habiskan saja dulu makananmu dan temui aku di ruang tengah."
"Baiklah."
Setelah aku menyelesaikan makan siang yang sudah kesorean itu, segera ku hampiri mas Biru sesuai dengan perkataannya.
"Ada perlu apa Mas?"
"Duduklah dulu, ini hal yang penting."
Aku mengangguk pelan dan duduk tak jauh darinya kami saling berhadapan, tatapan kami saling bertemu satu sama lain.
__ADS_1
"Maafkan aku sudah mencampuri urusanmu, tapi aku tidak tega melihatmu yang seperti ini. Apa kamu masih mencintai suamimu?"
Aku terdiam beberapa saat, mengapa tiba-tiba mas Biru mengungkit hal yang tidak ingin aku bahas sekarang. "Tidak ada rasa yang tersisa di hatiku untuk mas Adam, mengapa tiba-tiba kita membahas hal ini?"
"Aku tahu kamu tidak menyukainya. ada memberikan sesuatu untukmu," ucap Biru yang berbohong, dia tidak ingin kalau Luna masih terikat dengan Adam.
"Apa itu?" langsung saja mas biru menyerahkan sebuah berkas yang tidak aku mengerti, aku meraih dan masih menatapnya bingung. "Ini apa?"
"Kamu baca sendiri."
Perlahan aku membuka berkas itu secara perlahan, awalnya aku biasa saja tapi sedikit terkejut melihat surat perceraian yang sudah ditandatangani oleh mas Adam. Sungguh aku tidak menyangka, kemarahannya langsung mengirimkan surat perpisahan padaku.
"Cepat sekali dia mengirim surat perpisahan."
"Apa kamu menyesal?"
Aku menggeleng dengan cepat, bukan karena menyesal melainkan aku sedikit kecewa karena dialah yang mengirimkan surat itu lebih dulu. "Di mana pulpennya?" aku meminta benda kecil yang memiliki tinta yang langsung diberikan oleh mas Biru, yang ternyata sudah mempersiapkannya.
Tanpa menunggu lama lagi, aku langsung menandatangani surat itu. Aku tidak pernah menyangka akhir dari sebuah pernikahanku, dulu kami bersanding di atas pelaminan dan sekarang tanda tangan kami yang bersanding di surat perceraian.
"Kamu tidak perlu khawatir dan urus saja Kanaya, serahkan semuanya padaku, aku akan menyelesaikannya."
"Iya Mas, aku percayakan semuanya padamu."
Biru melihat punggung Luna yang menjauh, berkas yang ada di tangannya dan membuka lembaran yang sudah ditandatangani oleh kedua belah, senyum lebar di wajahnya walau dia harus berbohong.
"Selesai. Tugas keduaku adalah membuat bunda terkesan kepada Luna dan bisa menerimanya, dan tugas ketiga aku akan menikahi setelah mendapatkan restu dari bunda Kejora." gumam Biru di dalam hati, dia sangat bahagia yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
__ADS_1