
Aku terpaku menatap cermin yang ada di hadapanku saat ini, gaun yang melekaat di tubuh pemberian dari mas Biru sangat pas dan membuatku menjadi lebih cantik. Tak puas-puasnya aku memandang penampilanku yang sangat luar biasa, baru pertama kali aku mendapatkan hadiah karena sebelumnya mas Adam si mantan suamiku itu jarang sekali memberikan pemberian gaun indah, paling dia hanya memberiku gelang dan juga makan di pinggir jalan sebagai hadiah.
Aku mulai berpikir mengapa mas Biru mengundangku dan repot-repot menyiapkan gaun yang sangat indah ini, hal itu membuatku langsung memegang dada yang berdegup kencang. Tanpa sadar aku tersenyum, kedua pipiku bersemu merah hanya dengan membayangkan keberadaan dari mas Biru.
Malam ini aku tidak membawa Kanaya bersamaku, karena mas Biru sudah menyiapkan seorang baby sitter. Aku bahkan juga menyiapkan ASI, bila anakku haus bisa di berikan oleh baby sitter.
Aku celingukan mencari keberadaan nyonya Kejora, tumben sekali dia tidak terlihat dimana pun. "Kemana nyonya Kejora?" gumamku yang memutuskan untuk pergi, merasa heran tapi aku menepis perasaan itu.
Kedua mataku tak berkedip saat melihat mas Biru yang lebih dulu duduk, aku celingukan karena hanya ada satu meja dan dua kursi saja. Aku juga melihat beberapa dekorasi yang sangat indah, mewah, dan elegan, persis seperti kencan ala kelas atas.
"Mas, apa semua ini?" tanyaku yang ingin tahu tujuannya membawaku kemari.
"Kita nikmati suasana disini dulu, simpan saja pertanyaanmu untuk nanti." Tegas Biru.
Aku mengangguk dan tak banyak bertanya, suasana malam romantis yang persis seperti kencan. Tunggu dulu, apa ini kencan? Jadi mas Biru menyiapkan semua ini dan juga gaun yang aku pakai.
"Kamu sangat cantik di malam ini."
__ADS_1
"Mas juga."
"Apa? Jadi maksudmu aku juga cantik, begitu?"
Dengan cepat aku menggerakkan kedua tanganku. "Mas salah paham, maksudku mas juga sangat tampan. Mana ada pria cantik, yang ada hanya wanita cantik." Ralat ku.
"Aku hanya bercanda, jangan di bawa serius."
Aku tertawa yang di terdengar kaku, lebih tepatnya di paksakan. "Mas bisa saja."
"Apa itu?" tanyaku penasaran, walau hati ini sudah deg-degan sedari tadi.
Aku melihat sebelah tangan mas Biru merogoh saku di jas nya, sebuah kotak kecil berwarna merah menyilaukan mata. Sinar bulan menghiasi memantulkan cahayanya yang seakan masuk ke dalam kotak kecil itu.
"Maukah kamu menikah denganku, Luna."
Kedua mataku dan indra mendengarku seakan tak percaya dengan apa yang terjadi, ternyata mas Biru hendak melamarku di malam ini, pantas saja dia menyiapkan semuanya dengan sangat baik.
__ADS_1
Waktu seakan berhenti, tatapanku mengarah pada cincin putih bermata dengan warna yang senada. Aku tidak bisa memprediksi harga cincin itu, tapi jika melihatnya membuat perhatianku teralihkan.
"A-apa?" aku sangat gugup, meremas jari-jemari yang berkeringat setelah mendengar kalimat yang sangat sakral.
"Luna, aku sangat-sangat mencintaimu dan bahkan rela menunggumu. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan cintaku tulus dengan cara menikahimu, aku berjanji dari hatiku yang paling dalam untuk menjadikanmu ratu ku di dalam singgasanaku."
Aku sungguh meleleh mendengar kalimat panjang dari mas Biru, apa dia berlatih hingga kemampuannya tak di ragukan lagi? Ah, aku tidak tahu berkata apa.
"Aku ingin kamu menjawabnya sekarang."
"Aku … aku."
Aku sangat terkejut di buatnya, belum sempat aku mengutarakan perasaanku, mas Biru lebih dulu menyelipkan cincin putih di jari manisku.
"Terima kasih sudah memberiku kesempatan." Ucap mas Biru tersenyum sembari menghampiriku dan memelukku.
"Eh, kapan aku menjawabnya?" batinku sedikit bingung dengan aksi yang mengejutkan ini, tapi aku menikmati pelukannya.
__ADS_1