Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Tumbuhnya getaran cinta


__ADS_3

"Kamu mau kemana, Luna?" 


Aku tertegun mendengar suara mas Biru yang bertanya, segera aku menoleh ke belakang. Benar saja, aku melihat jelas sosok tampan itu berdiri di ambang pintu sambil menatapku menyelidik. Aku berkeringat dingin saat dia datang menghampiri, apa kah ini kegagalan ku selanjutnya? Aku heran mengapa bisa terikat dengannya, apa karena dia mencintaiku? 


"Kamu mau pergi kemana membawa koper?" 


"Emm anu Mas … Anu, saya mau ke__." Tatapan mas Biru sungguh luar biasa, apalagi setelah melihat koper. 


"Kamu mau pergi lagi, apa alasannya kali ini?" 


"Bukan apa-apa Mas. Hanya ingin__."


"Hanya ingin apa?" 


Belum sempat aku menjawabnya, mas Biru lebih dulu mendorong tubuhku yang sekarang terpojok di dinding. Aku menelan saliva karena tidak ada jarak di antara kami, aku mencoba untuk terlepas dari kungkungannya. 


"Mas, apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku." Pintaku memohon padanya. 


Kami saling menatap satu sama lainnya, tatapan mas Biru begitu dalam membuatku langsung mengalihkan pandangan ke samping. 

__ADS_1


"Mengapa kamu suka sekali kabur-kaburan?" 


"Hah?" 


"Kamu ingin kabur lagi kan?" 


"Bukan kabur Mas, tapi aku ingin mandiri." 


"Mandiri? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana nasib Kanaya?" 


Benar juga apa yang dikatakan oleh mas Biru, tapi tetap saja. Bagaimana aku bisa tinggal di saat majikanku sendiri tidak menyukai keberadaanku? aku kembali terserang dilema yang berkepanjangan. Langkah maju dan mundur yang aku pilih tetap saja berimbas kepada kesialan, tapi yang ada di benakku untuk mencari alasan yang tepat.


"Kamu diam karena memikirkan alasan yang tepat 'bukan?" 


"Kenapa kamu memutuskan pergi?" 


Aku menghela nafas berat. "Aku mendengar pembicaraan kalian, maaf karena aku lancang." 


Seketika Biru tersentak kaget, namun segera memulihkan ekspresi wajahnya seperti semula. Aku menundukkan kepala, merasa kalau aku hanya beban orang lain dan tidak akan pernah sama. 

__ADS_1


"Jadi kamu mendengarnya?" 


Aku mengangguk. "Iya Mas, nyonya tidak menyukaiku. 


"Berikan bunda waktu untuk mengenalmu, itu saja." 


"Tapi Mas, aku tidak mau menjadi alasan keluarga ini terpisah." 


Aku yang khawatir sangat berbeda dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh mas Biru, pria itu malah tersenyum membuatku terpesona. Perlahan kedua tangan yang mengunci tubuhku terlepas, mendapat kesempatan membuat aku buru-buru menjauh darinya. 


"Bunda itu orang nya sangat baik kok, hanya belum mengenalmu dari dalam aja." 


Entah mengapa perlakuan yang di tunjukkan mas Biru membuat pipiku bersemu merah. Bagaimana tidak? Senyuman manis yang di dalamnya dipenuhi oleh cinta. Aku hanya mengganggu tanpa mengucapkan sepatah kata, tentu saja mengontrol jantungku yang berdetak lebih cepat. 


"Apa kamu masih ingin pergi?"


"Bagaimana kalau nyonya Kejora tidak menyukaiku? Walaupun aku sudah bersih berusaha keras untuk mendapatkan hatinya."


Bukannya menjawab Mas Biru malah tersenyum membuat aku bingung, mengapa dia memberikan respon yang berbeda. "Kenapa Mas menatap aku seperti itu?"

__ADS_1


"Bukan apa-apa." Jawabnya seraya pergi meninggalkan aku yang sangat penasaran. 


Aku menghela nafas berat, karena aku selalu mengambil keputusan secara cepat tanpa berpikir panjang membuatku harus kembali merapikan semua pakaian dan keperluan lainnya dari dalam koper. Ya, aku memang tidak konsisten dan juga cepat mengambil keputusan semenjak bercerai dari mas Adam, kenangan yang pernah kami buat berdua masih membekas di hati. Aku berupaya untuk melupakan semua ingatan itu, tapi kenangan itu masih tetap ada di dalam otakku.


__ADS_2