
Biru tersenyum di saat dia mendapatkan pesan singkat dari bawahannya mengenai persiapan untuk kencan romantis, sesuai yang diharapkan. Tatapannya terpaku pada layar ponsel dan melihat foto Luna yang diambil secara diam-diam, mana mungkin wanita itu mau difoto, tentunya dia mengambil kesempatan di saat Luna lengah.
Pertemuan masa lalu meninggalkan serpihan cinta yang tumbuh di dalam hati, mencari wanita itu namun dia sangat patah hati mengetahui Luna sudah menikah dengan Adam. Saat itu dia hampir frustasi dan mencoba untuk menyendiri yang berada dekat dengan sang wanita pujaan hati, tidak ada yang bisa menggambarkan cintanya yang begitu dalam, karena hanya dirinya yang bisa mengukur kedalaman itu.
"Aku sangat mencintaimu dan semoga bunda Kejora merestui hubungan kita, karena restu orang tua merupakan suatu hal yang penting dalam membina rumah tangga." Gumam Biru seraya mengecup foto yang ada di layar ponselnya dengan sangat lembut.
****
Dan pekerjaanku hari ini ditambah sesuai keinginan dari nyonya Kejora, membuat tubuhku seperti dihantam oleh balok kayu, kedua bahuku sangat pegal dan juga bagian pinggang. Namun, aku tidak akan berkeluh kesah karena ingat nya tujuan awal untuk menghidupi Kanaya.
Bayangan Iren masih tersentuh di dalam ingatan saat dia menolongku melawan pencopet, tatapan matanya sangatlah unik tapi di dalamnya aku melihat sebuah penderitaan dan penyesalan di dalam hidup, entah apa masalahnya.
"Mengapa aku penasaran pada Iren? Padahal kami hanya sekali bertemu."
Buru-buru aku menepis perasaan itu dan kembali melanjutkan pekerjaanku, dengan cepat aku menyelesaikan menjemur pakaian agar kembali kepada Kanaya yang masih tertidur pulas.
"Apa aku boleh ikut?"
Suara yang sudah sangat aku kenali itu sedikit membuatku terkejut, buru-buru aku menoleh dan tersenyum ke arah mas Biru yang juga tersenyum. Aku merasakan sebuah getaran setiap kali pria itu dekat denganku, dan aku yakin ini adalah cinta. Aku bahagia, bisa melupakan mas Adam dengan sangat cepat berkat kehadiran sosok pria yang selalu ada untuk membelaku.
"Mas."
__ADS_1
"Ada yang ingin aku sampaikan."
"Katakan saja!"
"Aku ingin mengajakmu dan juga Kanaya keluar malam ini, bagaimana?"
Aku melihat paper bag yang di pegang oleh mas Biru dan menyerahkannya padaku. "Apa ini, Mas?"
"Buka saja setelah aku pergi nanti!"
Aku mengambil paper bag yang tidak tahu apa isinya itu, rasa sungkan menerima itu tetap ada tapi aku tidak mungkin menolak pemberian orang lain.
"Bagaimana? Aku ingin mengajakmu keluar malam ini."
"Nyonya tidak akan setuju Mas."
"Jangan pikirkan itu, ini sangat penting dan juga darurat."
"Seberapa pentingnya?" tanyaku penasaran.
"Sangat-sangat penting, ini menyangkut hidup dan mati."
__ADS_1
"Akan aku usahakan."
Aku melihat kepergian mas Biru, dan menghela nafas kemudian kembali melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.
****
"Biru." Panggil bunda Kejora.
"Iya Bun, ada apa?"
"Ada Indri di depan, dia ingin bertemu denganmu."
"Ck, suruh saja dia pulang. Aku tidak mau bertemu dengannya," tolak Biru membuat sang ibunda merasa geram.
"Temui dia!"
Biru yang tak bisa berkutik berjalan menuju ruang tamu, melihat sosok wanita cantik bergaun putih dan rambut tergerai indah.
"Indri sangat cantikkan." Bisik bunda Kejora yang berusaha membuat anaknya menyukai wanita yang tengah duduk di sofa empuk miliknya.
Secantik apapun seseorang, di hati Biru tetaplah Luna. Dia tahu ini akal-akalan bunda nya agar dirinya tertarik pada Indri, tapi sayangnya dia tak akan tergoda karena janda lebih menggoda daripada seorang gadis seperti Indri.
__ADS_1
"Heh, apanya yang cantik. Gaun putih dan rambut tergerai persis seperti kuntilanak." Gumam Biru yang berhasil membuat kedua mata bunda Kejora berkedut tak percaya.