
Seperti biasa, aku mengerjakan semua pekerjaan rumah dan menyelesaikan dengan sangat cepat. Setelah semua selesai, aku langsung menuju dapur untuk membuat sarapan semua orang, hal yang biasa aku lakukan dan tentunya tidak akan sulit. Kali ini aku ingin membuat lontong sayur, makanan yang sudah ada di dalam list yang di berikan nyonya Kejora tadi malam.
Biasanya aku masak sekali sampai dua kali sehari, dan sekarang adalah tiga kali sesuai permintaan sang nyonya. Semenjak hubungannya dengan mas Biru renggang, semenjak itulah tenagaku di forsir dua kali lipat dari biasanya. Entah itu di sengaja atau memang nyonya Kejora menginginkan yang terbaik saja, tapi kalimat itu malah terdengar sama saja.
"Auh." Aku meringis dan segera menarik tanganku, lamunan terpecah saat tanganku tak sengaja menyentuh wajan panas. Baru saja aku mengobatinya, tapi lebih dulu tanganku di tarik seseorang. Aku merasa hangat di jariku yang tadi tak sengaja menyentuh wajan, perhatian ku alihkan pada seseorang yang hampir membuatku terlena.
"Kalau memasak jangan sambil melamun, bahaya. Ini nih akibatnya!"
Aku menatap mata mas Biru dalam, mengurangi luka bakar dan mengolesi nya dengan salep. "Hem, kapan mas Biru di sini?" tanyaku yang bingung, tidak menyadari kedatangannya.
Mas Biru tersenyum padaku dan mengelus rambutku dengan sangat lembut. "Dari tadi, tapi kamu tidak menyadarinya di sebabkan melamun. Apa yang kamu lamunkan?"
"Tidak ada. Mau aku buatkan sarapan apa Mas?"
"Memangnya kamu mau buat menu apa?"
__ADS_1
Aku tersenyum tipis berhasil mengubah topik dengan sangat cepat. "Lontong sayur sesuai permintaan nyonya Kejora."
"Hem, kalau begitu buatkan aku roti panggang saja."
"Mas yakin?"
"Tentu saja, aku butuh makanan yang manis untuk saat ini. Sepertinya lontong sayur sangat tidak cocok untukku!"
"Baiklah. Tunggu sebentar lagi, aku antarkan sekalian tehnya."
"Ehem, perhatian sama calon suami."
"Kamu malu, Lun."
"Tidak Mas."
__ADS_1
"Hem."
Aku sangat malu sampai tidak bisa menuntup karena merah yang ada di pipi, semoga saja mas Biru tidak melihatnya, tapi dari caranya agar ekspresi dan tersenyum itu meluruhkan spektakulasi sementara.
"Ternyata Luna sudah mencintaiku, ternyata menyenangkan juga menggoda calon istri yang terlihat sangat menggemaskan." batin biru di dalam hatinya.
Perasaan dari keduanya sudah berkembang membuat seseorang yang tidak menyukainya yaitu Bunda Kejora, dia masih beranggapan kalau Luna adalah salah satu penyebab hubungan antara suami dan juga putranya padanya menjadi dingin.
Dia mempunyai motto tersendiri, di mana suami dan juga putranya semakin dingin maka dia akan semakin memberi pekerjaan dua kali lipat pada Luna.
byiru yang sudah mendapatkan sinyal hijau dari Luna mampu melakukan langkah selanjutnya, apalagi masa iddah itu sudah selesai. dia menghubungi bawahannya untuk menyiapkan sebuah kencan romantis tentu saja dia ingin melamar sang pujaan hati.
"Bos ingin konsep yang seperti apa? Mulai dari kencan romantis sederhana menengah, dan atas?"
Seketika Biru mengerutkan kening karena tidak mengerti dengan ketiga pilihan itu, karena ini kali pertamanya untuk berkencan dan tak lupa juga menyiapkan cincin berlian.
__ADS_1
"Tidak ada pilihanku dari ketiganya, aku inginkan yang paling romantis!"
"Baiklah, kalau begitu Bos sudah menerima berkencan di pilihan ketiga, aku akan siapkan semuanya!"