
Aku melihat wajah mas Biru yang sangat panik, berjalan mondar-mandir di depan pintu bangsal tempat kedua mertuaku di tangani. Aku tahu kalau sekarang pikirannya kalut, apalagi keadaan kedua mertuaku sangat parah. Kecelakaan itu membuat suamiku tak bisa tenang sampai dokter keluar dan mengatakan kalau semuanya baik-baik saja.
Aku berdiri dari duduk ku, menghampiri mas Biru dan memegang pundaknya. "Mas, duduk dulu yuk!" ajak ku yang menatap matanya, hanya doa yang bisa di lakukan saat ini. "Kita berdoa untuk kesehatan ayah dan juga bunda."
"Kamu benar, Lun."
Aku memegang kedua tangan suamiku dengan lembut, memberikan kenyamanan juga ketenangan padanya, sesekali aku mengusap pundaknya.
"Aku gak bisa tenang Luna, ini semua salahku. Andai saja aku mendengarkan perkataanmu dan berpikir lebih tenang, mungkin ini semua tidak akan terjadi." Ucapnya membuatku memahaminya.
Aku melihat jelas raut wajahnya penuh penyesalan mas Biru, nasi sudah menjadi bubur dan penyesalan selalu datang di akhir. Pergi dalam kemarahan tidak selamanya benar, memang fakta pahit itu membuat ayah Bintang dan bunda Kejora kecelakaan.
"Tidak ada yang perlu disesalkan Mas, semua sudah terjadi. Kita doakan ayah dan juga bunda!"
"Tapi aku tetap bersalah, aku … aku terlalu cepat marah dan melupakan segalanya."
Mas Biru menatapku, matanya yang sendu menyimpan kesedihan mendalam. Aku tertegun saat mas Biru memelukku, dia menangis di dalam pelukanku. Merasa bersalah mengenai apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Aku membalasnya dengan pelukan juga, menepuk punggungnya pelan layaknya seorang anak kecil.
"Sabar Mas, kita pasti bisa melewati semua ini."
Mas Biru saat ini sangat rapuh, aku menghubungi Putih untuk memberitahukan masalah ini. Ku lihat banyak panggilan tak terjawab darinya, segera aku menelepon adik mertuaku itu.
Tak lama telepon terputus, dokter keluar dari ruangan itu dan membuat kami mengerubungi nya. Berharap ada kabar baik yang di dengar, karena aku tak sanggup bila mas Biru menyalahkan dirinya.
"Bagaimana keadaan kedua orang tua saya, Dok?"
Pertanyaanku yang sudah di wakilkan oleh mas Biru, aku melihat dokter menghela nafas berat seraya menggelengkan kepala.
"Apa?" lirih mas Biru yang sudah lemas mendengarnya. "Bagaimana dengan bunda, Dok?"
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya. Dia sudah meninggal saat di dalam perjalanan."
Aku segera menangkap tubuh mas Biru tapi sayangnya terlambat. Aku mencoba untuk menyadarkan suamiku yang tiba-tiba pingsan setelah mendengar pernyataan dokter.
__ADS_1
Keadaan semakin kacau, aku menangis mengetahui bunda Kejora sudah tiada, ayah Bintang lumpuh, sementara mas Biru pingsan tak sadarkan diri.
Beruntung dokter dengan cepat membantuku dan menyadarkan suamiku, aku memeluknya sangat erat dan menangis.
"Ini semua salahku, aku anak pembawa sial." Lirih mas Biru yang terus menyalahkan dirinya.
"Ini sudah suratan takdir, Mas."
"Bunda … bunda, aku ingin melihat bunda."
Aku mendapatkan izin dari dokter yang masih berada di sana, aku membawanya sesuai arahan suster.
"Jangan di paksakan Mas." Ucapku saat membantunya berjalan, karena shock membuat kedua kaki mas Biru lemas tak berdaya.
Di kamar mayat
Terlihat mas Biru berjalan sendiri karena dia tak ingin aku menemaninya, ku lihat dari daun pintu sambil menangis. Tatapan penuh penyesalan dan juga kesedihan di saat dia membuka kain yang menutupi tubuh bunda Kejora.
__ADS_1
"Bundaa …." Biru menangis sambil memeluk bundanya, berharap ada keajaiban menghampiri.