Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Ayah Bintang mulai beraksi


__ADS_3

"Kamu ingin menemuiku, ada perlu apa?" tanya Biru tanpa berbasa-basi.


Indri tersenyum dan langsung berdiri saat pria tampan yang sedari tadi di tunggunya telah tiba. "Silahkan duduk," ucapnya mempersilahkan selayaknya rumah sendiri. 


"Ini rumahku, terserah aku mau duduk atau tidak." Cetus Biru seraya melirik jam yang melingkar di tangannya, menghitung mundur dan berharap kalau waktu segera malam, mengingat dirinya sudah mempersiapkan segalanya. 


Indri tersenyum kecut dan seketika berubah ceria seperti semula. "Aku ingin mengundangmu ke acara ulang tahunku."


"Kapan itu?" 


"Dua hari lagi." 


Biru mengangguk menyetujuinya, mengambil undangan yang di berikan Indri padanya. 


"Aku ingin kamu datang, ini acara spesial ku. Sekaligus__."


"Sekaligus apa?" tanya Biru penasaran.


"Nanti kamu juga akan tahu. Aku permisi dulu!" Indri kembali menyandang tas kecil yang tadi tergeletak di sebelahnya, dan berlalu pergi dengan senyuman manis di wajahnya. 


"Mengapa dia menyembunyikannya? Memangnya ada apa di pesta ulangnya?" Biru bertanya-tanya dan sangat penasaran, tapi dia segera menepisnya sembari melempar undangan itu sembarang arah. Dipikirannya saat ini hanya ada Luna seorang, malam ini dia akan melamarnya. 


Perubahan di wajah Biru terlihat jelas di mata ayah Bintang yang sedari tadi mengamatinya, penasaran berhasil mengganggu pikirannya dan bertanya langsung. 


Tok … tok … tok


"Apa Ayah boleh masuk?" 

__ADS_1


Biru yang sedari tadi melamunkan masa depan yang hidup bersama Luna buyar saat terdengar suara ketukan pintu kamarnya. 


"Ah, Ayah mengganggu khayalan Biru." Ucapnya merungut kesal.


"Kalau tak ingin di ganggu, katakan mengapa kamu sangat berbeda?" 


Biru menyerngitkan keningnya. "Berbeda? Aku masih Biru yang sama." 


"Berbeda dalam artian raut wajahmu, Ayah lihat kamu sangat senang hari ini dan selalu melihat ke jam dinding juga arlojimu. Sebenarnya, ada apa ini? Berbagilah sedikit pada Ayah." 


"Ayah ingin tahu?" 


"Iya."


"Mendekatlah, Biru akan bisikkan sebuah rahasia." 


Ayah Bintang yang merasa penasaran hanya mengangguk di perbodoh oleh putranya sendiri. Mendekatkan telinga untuk mendengar bisikan Biru. 


"Apa kamu bercanda?" 


"Ck, tidak perlu terkejut Ayah. Ayah juga tahu kalau aku mencintai Luna, dan ingin menikahinya."


"Apa bunda tahu masalah ini?" tanya ayah Bintang sedikit cemas, dia tahu kalau istrinya sangat menentang hubungan itu. 


"Untuk sekarang Bunda tidak tahu kalau aku ingin melamar Luna, tapi pasti aku memberitahunya nanti, setuju maupun tidak setuju bunda harus setuju dengan pilihanku." 


"Ayah suka dengan pendirian mu, pertahankan." Ayah Bintang menepuk pelan pundak anaknya. 

__ADS_1


"Eh, jadi Ayah memberi ku restu?" 


"Iya, aku mendukungmu selama itu baik dan tidak menyimpang."


"Terima kasih, Ayah." Biru sangat terharu dan memeluk ayahnya erat. 


Setelah ayah Bintang berhasil menyusut niat putranya itu, segera dia keluar dari dalam kamar karena seseorang menelponnya. Tak ingin kalau sampai ada orang yang mendengar pembicaraannya. 


"Ya, katakan!" 


"Bos, aku berhasil menemukan alamatnya." 


"Bagus. Kamu pantau dia dan ikuti kemana saja dia pergi!" 


"Baik bos. Ada satu hal yang ingin saya beritahukan." 


"Apa itu?" 


"Menurut penelusuranku mencari jejaknya, saya menemukan bahwa nona Iren pernah menyelamatkan wanita yang membawa anak bayi yang bernama Luna terkena copet." 


"Apa ada lagi?" 


"Ada bos. Nona Iren adalah sahabat dari Mawar." 


"Mawar? Siapa dia?" 


"Mantan adik madu Luna, istri kedua Adam." 

__ADS_1


"Kerja yang bagus, selidiki semua tentang Iren dan jangan ada yang tahu mengenai masalah ini!" 


"Siap bos." 


__ADS_2