Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Karma Adam dan ibunya


__ADS_3

Pengurangan karyawan yang terjadi besar-besaran membuat Adam di PHK dari pekerjaannya, tidak ada keahlian yang dia miliki hingga membuatnya kesulitan mencari pekerjaan. Kebutuhan rumah yang semakin meningkat, di tambah kebutuhan dari istri mudanya yang sangat boros. 


Adam mengusap wajahnya yang kasar, terpaksa dia mengemasi semua barang-barangnya dan pergi dari sana. Dia menengok sekali lagi dan memutuskan untuk pergi, tidak akan kembali karena dia tak di butuhkan lagi. 


Adam memutuskan untuk beristirahat, hari yang masih pagi tak mungkin dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Mencari pekerjaan adalah hal yang tepat untuk saat ini, tapi mendapatkannya sangatlah sulit apalagi pekerjaan yang juga di kantor lain. 


Dia memutuskan untuk pulang dan beristirahat dan mencoba mencari pekerjaan di keesokan harinya. Kepulangannya yang cepat dari biasanya membuat orang rumahnya bertanya-tanya, menghampirinya dan langsung memberikan pertanyaan yang membuat kepalanya pusing. 


"Jawab Mas, mengapa kamu pulang cepat?" tanya Mutia menyelidik. 


"Suami pulang harusnya kamu sediakan teh, ini langsung mengajukan pertanyaan." Tutur Adam menghela nafas berat. 


"Lagian sih, Mas pulang lebih banyak. Ada dua kemungkinan terjadi, katakan padaku Mas." Desak Mutia.


"Mutia, kamu mengerti berbahasa gak? Buatkan aku teh!" 


"Jangan aku Mas, aku lagi malas ke dapur." 


"Kalau bukan kamu siapa lagi?" Adam memijat kepalanya yang terasa sakit, di tambah sang istri yang tidak memahami keinginannya saat ini.

__ADS_1


"Ibu kamu aja." 


"Hah, yang benar aja kamu nyuruh ibu aku." 


Mutia memberikan isyarat mata ancaman pada ibu mertuanya, kalau menolak keinginannya sudah pasti wanita paruh baya itu di siksa olehnya. 


"Biar Ibu saja Dam." Buru-buru wanita paruh baya itu menuju dapur membuatkan secangkir teh untuk anaknya. 


Tak sengaja Adam melihat cara berjalan ibunya yang sedikit pincang, karena sebelumnya dia tak pernah memperhatikan. 


"Ini tehnya." 


Wanita paruh baya itu ingin menangis, namun dia teringat pesan sang menantu muda untuk tutup mulut, tatapannya yang mengarah pada Mutia sebenarnya menunjukkan dialah dalangnya. 


"Ibu terpeleset Mas, aku udah kasih salep kok." 


"Oh begitu, lain kali hati-hati bu. Masa bisa sampai pincang begitu, apa luka?" Adam yang penasaran langsung menyingkap daster panjang yang di pakai oleh ibunya, betapa terkejutnya dia melihat luka itu bernanah. "Kaki ibu bisa sampai parah gini, kita ke dokter yuk!" 


Mutia sangat kesal pada mertuanya, sudah jelas kalau itu disengaja agar sang suami berpihak pada ibunya. "Ibu pasti sengaja melakukannya," batinnya.

__ADS_1


Di klinik


Adam sangat panik dan bertanya apa yang terjadi, hingga terbongkar semua kebusukan Mutia yang memperlakukan ibunya buruk bahkan menyiksanya. 


Plak


"Jadi selama ini kamu menyiksa ibuku, dasar wanita kurang ajar." 


"Iya, memang aku pelakunya, mau protes? Salahin aja ibumu itu. Taunya menyiksa para menantu, tapi sayang kalau aku bukanlah wanita bodoh seperti istri-istri mu sebelumnya, Mas." Pekik Mutia yang langsung pergi dari klinik, tanpa mendengarkan panggilan dari Adam. 


"Aarghh." Adam berteriak karena masalah datang bertubi-tubi, ibunya yang sakit dan dokter mengatakan membutuhkan biaya besar. "Mengapa Ibu tidak mengatakan keburukan Mutia?" 


"Mutia mengancam Ibu, selama ini dia selalu menyiksa Ibu, Nak. Apa kaki Ibu masih bisa di sembuhkan? Ibu gak mau pincang." 


"Ibu tidak perlu memikirkan itu, aku akan mengusahakan pengobatan kaki Ibu." 


Tanpa di ketahui Adam, kalau Mutia sudah melarikan diri membawa sertifikat rumah dan juga semua uangnya. 


"Maaf Mas, tapi aku hanya membutuhkan hartamu saja." Mutia tertawa karena rencana berhasil mengambil seluruh harta Adam dan ibunya. 

__ADS_1


__ADS_2