Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Peluang


__ADS_3

Baru saja aku menyelesaikan pekerjaanku dengan membersihkan rumah yang sekarang aku tempati, semua sudah bersih dan rapi. Aku mengecek Kanaya yang masih tidur dengan pulasnya, kesempatan itu tak aku sia-siakan dan segera membersihkan diri.


Beberapa menit cukup bagiku untuk mandi dan bersiap-siap, tidak mungkin selamanya aku tinggal di sini. Dengan terpaksa aku membawa Kanaya ikut bersamaku, tidak ada yang menjaga membuatku sedikit kesulitan. 


Baru saja aku melangkahkan kaki keluar dari rumah, aku melihat mas biru yang datang menggunakan motor. Merasa tidak enak aku pun menyambut kedatangannya, sambil berpikir mengapa pagi-pagi dia sudah ada di sini. Aku sedikit curiga dan merasa heran karena pria itu selalu memiliki waktu luang yang banyak, seperti seorang pengangguran. 


"Kamu sudah rapi, mau ke mana pagi-pagi bersama Kanaya?" 


Kku tidak menjawab pertanyaannya dan langsung mempersilahkannya untuk duduk, menatap mas biru yang sudah rapi. 


"Kamu mau ke mana?" 


Mas biru begitu penasaran melihat penampilanku yang rapi, aku tidak langsung menjawabnya dan mencari kata-kata yang tepat agar dia tidak tersinggung. Aku tidak mungkin bergantung kepadanya, apalagi sudah aku putuskan untuk bekerja keras demi putriku. 


"Itu mas … aku mau cari pekerjaan." Jawabku yang menundukkan kepala, aku berharap semoga mas biru memahami situasiku.


"Kamu yakin bekerja membawa bayi? Kasihan Kanaya."


"Ya … mau gimana lagi, aku tidak punya pilihan lain selain membawa Kanaya ikut bersamaku."


Tatapan kami bertemu, aku lihat mas biru menghela nafas berat, tapi mau sampai kapan aku terus menyusahkannya? Apalagi perasaan canggung itu masih ada saat pria itu menyatakan perasaannya, aku tentu menolak karena masih trauma yang namanya pernikahan juga laki-laki. 


"Apa kamu punya gambaran bekerja di mana?"


"Aku tidak memilih pekerjaan, yang penting halal dan bisa menghidupi putriku." 


"Begini saja, daripada kamu bersusah payah mencari pekerjaan lebih baik kamu bekerja di rumahku."


"Wah gimana ya, Mas biru sudah banyak menolongku. Aku jadi sungkan, takut tidak bisa membalas budi." 


"Demi Kanaya, lagi pula bekerja di tempat lain belum tentu diizinkan membawa anak."


Apa yang dikatakan oleh mas biru itu benar, mana ada di zaman sekarang yang menerima karyawan ataupun jasa pembantu membawa bayi, tawaran yang begitu menggiurkan ada di hadapan mata. Sejujurnya aku sangat senang mendapatkan peluang itu, tapi hatiku merasa tidak enak karena mas biru sudah banyak membantuku. 

__ADS_1


"Sudahlah kamu tidak perlu sungkan, dan kamu juga tidak perlu membalas budi." 


Seakan mas Biru mengerti dengan jalan pikiranku, aku tersenyum dan menganggukkan kepala setuju. "Aku setuju Mas."


Tanpa disadari Luna, diam-diam Biru tersenyum karena rencananya berhasil membujuk wanita yang dia cintai untuk bekerja di rumahnya, ya hitung-hitung sebagai calon menantu dan merebut hati bunda Kejora. 


"Jangan melamun, naiklah cepat!"


Aku naik ke atas motor mas Biru dengan hati-hati sambil menggendong Kanaya, di sepanjang perjalanan aku terdiam dan sesekali menjawab perkataan darinya. Sifat dari mas biru yang ceria juga humoris membuatku betah, dan perlahan rasa canggung yang tadi menyelinap di dalam hatiku perlahan menghilang, sesekali aku tertawa mendengar leluconnya. aku tertawa? hah, bahkan aku lupa kapan terakhir aku tertawa semenjak penghianatan yang dilakukan oleh mas Adam dan juga ibu mertuaku yang sebentar lagi menjadi mantan. 


Saking keasyikan mengobrol hingga mas biru lupa mengerem di jalanan yang ada polisi tidur, tanpa sengaja aku melingkarkan tangan di pinggangnya takut terjatuh. Dengan cepat aku menarik kembali tanganku, entah apa yang dia pikirkan dan semoga saja itu hal yang positif.


"Maaf Mas, tadi aku tidak sengaja."


"Tidak perlu meminta maaf, lagi pula aku yang salah karena keasyikan mengobrol sampai lupa ada polisi tidur di jalan."


"Hem."


Biru sedikit terkejut saat tangan Luna ada di pinggangnya, lidahnya terasa keluh untuk mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya. Ada rasa bahagia di hati tapi perlahan menghilang saat tangan yang ada di pinggangnya ditarik oleh sang empunya. "Baru juga tujuh detik, andai saja polisi tidur ada di setiap jalanan yang aku lewati." Gumamnya di dalam hati frustasi, entah doa macam apa yang baru saja terucap. 


"Aman." Sahut Biru yang berkata lain di dalam hatinya. "Semoga saja bunda tidak mengusir Luna, anggap ini sebagai peluang untuk menjadi calon menantu." Batinnya yang tersenyum tipis. 


Aku melamun di sepanjang perjalanan, hingga motornya mas biru berhenti di sebuah bangunan yang mewah dan juga besar, kerutan di dahi ku terlihat jelas karena rasa penasaran. "Apa sudah sampai?"


"Iya, itu rumahku."


Kedua mataku terbelalak kaget saat melihat rumah mewah dan juga besar, bahkan melebihi rumah mas Adam. Aku menelan saliva yang seakan tersangkut di tenggorokan, tidak menyangka kalau mas biru yang dikenal sederhana ternyata orang kaya. Aku mau mundurkan langkah, tapi tanganku langsung ditarik dengan pelan untuk masuk ke dalam rumah mewah itu. 


"Assalamu'alaikum. Bunda … Biru pulang!"


Aku masih tidak percaya kalau mas biru orang kaya, aku yang tadinya su'udzon merasa malu sendiri karena menganggapnya sebagai seorang pengangguran. 


"Wa'alaikumsalam."

__ADS_1


Tatapan wanita paruh baya dengan sangat dalam saat melihatku yang tengah menggendong Kanaya, secepat mungkin aku menundukkan kepala karena berada di lingkup yang salah. 


"Kenapa dia ada di sini?" 


"Bunda pasti mengenalnya, dia adalah Luna dan anaknya yang bernama Kanaya."


"APA?"


Aku melihat jelas bagaimana raut wanita paruh baya yang dipanggil bunda oleh mas Biru, dia menarik tangan anaknya dan membawa menjauh dariku. Aku melihat penampilanku yang sedikit lusuh, mungkin saja dia tidak setuju. Aku cukup sadar diri mana mungkin aku bisa sebanding dengan mereka, bahkan untuk menjadi pembantu pun. 


"Kenapa kamu bawa wanita itu ke rumah?" Bunda Kejora menata biru dengan penuh tanda tanya.


"Aku kasihan Bun, aku yang menghampirinya di rumah peninggalan eyang melihatnya sudah rapi dengan membawa bayi berencana untuk mencari pekerjaan."


"Dadi maksud kamu?"


"Bukankah Bunda selalu mengeluh tidak ada yang membantu, untuk itulah Biru membawa Luna kesini membantu semua pekerjaan Bunda."


"Mana bisa begitu? Apa luna sudah mendapatkan izin dari suaminya?


"Biru kan sudah bilang, kalau Luna sudah ditalak oleh suaminya."


"Baru talak satu, itu artinya dia masih bisa rujuk dengan suaminya, jangan membuat Bunda marah dan berhentilah mengejarnya."


"Hah, ini ternyata lebih sulit dari yang aku bayangkan." Ucap Biru di dalam hatinya, menghela nafas berat saat menatap sang bunda yang masih tidak setuju dengan keputusannya. Namun semua itu tak membuatnya larut, tentu dia menemukan solusi dari permasalahan yang terjadi. 


"Antarkan Luna kembali kepada suaminya, jangan jadi pebinor!"


"Apa Bunda tidak merasa simpati dengan anaknya yang masih bayi bahkan belum sampai usianya dua bulan, pikirkan masa depan anak itu. Bukankah Bunda selalu berkata kalau membantu seseorang harus dengan hati yang tulus, tanpa membeda-bedakan siapa yang akan dibantu tanpa pandang bulu."


"Ya sudah dia boleh bekerja di sini, tapi Bunda tidak mau kamu dekat dengannya."


Biru langsung tersenyum dan memeluk bundanya. "Terima kasih, Bun."

__ADS_1


Biru yang melihat kepergian bunda nya yang menghampiri Luna lebih dulu, dia tersenyum kemenangan karena berhasil membujuk. "Untung bunda tidak menyuruhku berjanji." 


__ADS_2