
Aku menatap rumah yang pernah aku tempati, dimana tempat itu sangatlah nyaman dipenuhi cinta dan kasih dari suamiku. Dalam sekejap semua berubah, kedatangan pembantu yang di bawa ibu mertuaku ternyata istri kedua dari mas Adam.
Aku menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, perlahan tapi pasti aku melangkah maju. Aku mengetuk pintu sambil menyiapkan mental, serangan kata-kata pedas nan tajam sebentar lagi pasti terdengar.
Aku tidak berekspresi apapun saat melihat sosok pria yang sangat aku kenali pria yang pernah singgah di hatiku sekaligus menorehkan luka. "Hai Mas, apa kabar?"
"Berani juga kamu kembali ke sini."
Entah itu kalimat pujian atau kalimat cibiran, aku tetap memasang senyuman di wajahku. "Aku harus berani untuk kembali."
"Heh, aku sangat yakin kalau kamu tidak bisa hidup tanpa uangku, apa jadinya kamu tanpa aku … ya sudah pasti tidur di jalanan."
Aku hanya tersenyum mendengar celaannya itu, walau setengah dari ucapannya itu benar, tapi aku masih beruntung mendapatkan seorang penyelamat di kala masa sulit. "Alhamdulillah aku hidup dengan baik, Mas tidak pwrlu khawatir lagi."
"Lalu, mengapa kau kembali?"
"Aku ingin mengambil dokumen penting, dan tujuan kedua ku untuk bercerai darimu."
Deg
Aku melihat mas Adam terkejut, dia diam membisu entah apa yang sekarang dia pikirkan. Mungkin saja dia meminta pisah karena ada pria lain yang jauh di atasnya, tapi itu semua salah karena bagiku pernikahan ini sudah membuatnya trauma menjalin hubungan baru dengan pria lain.
"Ternyata aku benar, wanita sepertimu itu hanya tahu kabur dengan pria lain. Dimana letak harga mu? Kau bahkan menyeret keluargaku dalam hinaan para warga."
Itu suara ibu mertuaku, aku menoleh dan ternyata dugaanku benar. Ibu datang bersama Mawar, seketika gejolak di hatiku seakan mendidih dan hendak memberi wanita ular itu pelajaran yang tidak bisa di lupakan.
"Heh, ternyata bayi itu masih hidup." Batin Mawar disaat melirik Kanaya.
__ADS_1
"Cukup Bu, jangan merendahkanku hanya karena aku ini diam saja. Ibu pasti tahu apa maksudku," aku memberikan ancaman, tersenyum miring mengingat dirinya tak bisa melawan saat permainan fisik di lakukan.
"Apa yang ibu katakan itu benar, kamu wanita murahan yang kabur bersama pria lain."
"Terserah kalau kamu mau mikirin apa, aku tidak peduli pendapatmu, Mas." Aku sangat-sangat muak melihat mas Adam yang menyalahkan aku, apa dia lupa dengan kesalahannya sendiri? Benar perkataan orang, mengkaji kesalahan orang lain namun lupa kesalahannya sendiri.
Aku berekspresi datar saat Mawar dan ibu mertua menatapku sinis, mereka sangat menyukai suasana dimana aku tersudutkan tanpa di bela oleh mas Adam.
"Aku tidak mau berlama-lama disini, aku datang untuk mengambil dokumen penting identitas dan juga meminta Mas untuk segera jatuhkan talak."
Lama ku lihat mas Adam terdiam, aku tersenyum miring tak mengerti pola pikirnya. Bukankah dia ingin anak laki-laki dari istri kedua atas perintah ibunya? Lalu, mengapa dia berpikir cukup lama? Heh, mungkinkah mas Adam ingin memilih kami berdua, tapi itu termasuk egois tanpa memikirkan perasaan yang terluka.
"Biarkan dia masuk dan mengambil dokumen identitasnya, jangan banyak berpikir Mas." Mawar geram dengan sikap suaminya yang diam bagai orang bisu, dia melirik ibu mertuanya berharap membantu kesulitannya.
"Dam, jangan halangi Luna dan segera jatuhkan talak. Percaya pada Ibu, wanita itu tak akan mampu memberimu anak laki-laki. Ibu butuh pewaris, yang hanya akan di dapat dari Mawar. Ibu yakin dia hamil anak laki-laki, setelah menelusuri ciri-cirinya."
"Jatuhkan talak padaku, Mas." Aku mendorong mas Adam membuatnya tak punya pilihan lain, dalam artian egois.
Ku lihat mas Adam mengangguk pelan, dan aku siap mendengarkan kata-kata itu dengan seksama.
"Luna, hari ini kau bukan lagi istriku. Aku talak kamu."
Tes … tes.
Air mataku menetes saat mendengar kata-kata pisah yang keluar dari mulut mas Adam, memang aku yang memintanya tapi aku sangat sedih bila akhir dari pernikahan adalah sebuah perpisahan. Teringat janji kami dahulu yang akan menjalani pernikahan sampai rambut memutih, tapi jodoh kami hanya sampai di sini.
Mawar dan ibu tersenyum kemenangan, aku yakin mereka akan berpesta setelah aku pergi. Aku menatap mas Adam yang tidak berani menatap mata ku, selalu menundukkan kepala menyembunyikan sesuatu. Ya, aku tahu kalau mas Adam tengah menyembunyikan raut wajah sedihnya, tekanan dari ibu yang memisahkan pernikahan juga orang ketiga.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas." Aku tersenyum dan masuk ke dalam rumahnya, ku ambil dokumen penting. Setelah aku dapatkan apa yang di cari, segera aku menyeka air mata, ku tatap Kanaya dan mengelua wajahnya yang mungil.
"Ibu janji, akan membesarkanmu sebagai ibu dan juga ayah." Ucapku pelan, mengecup kening Kanaya dengan sangat lembut.
Sebelum aku pergi, aku berpamitan untuk terakhir kalinya pada mereka. Walau ibu mertuaku dalang di balik semua ini, tapi aku tetap menghormatinya karena wanita itu pernah menyayangiku dulu walau itu hanya pura-pura saja.
"Ibu, aku pergi. Jaga diri Ibu baik-baik," ku raih tangannya dan menciumnya, walau sangat terkesan dia langsung menarik tangannya. Aku hanya tersenyum, tapi hatiku sedang tidak baik-baik saja.
"Mas, terima kasih sudah melepaskan aku." Aku tersenyum dan melirik Mawar. "Urusan kita masih belum selesai, aku tetap membawa masalah Kanaya ke meja hijau. Tunggu saja." Kecam ku tak main-main, aku pasti mendapatkan keadilan untuk anakku yang hampir saja mati di tangan si wanita perebut.
Aku menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, melangkahkan kaki dan terasa beban itu menghilang. Aku pergi meninggalkan mereka dengan membawa Kanaya bersamaku, aku tidak akan menoleh apapun yang terjadi.
Mawar yang tadinya senang karena dia menjadi istri satu-satunya, seketika senyuman berubah saat perkataan Luna sangatlah serius. Dia menatap suaminya, malah di acuhkan dan pergi. Sekarang tersisa dirinya dan juga ibu mertua, langsung menghampiri untuk mengadu.
"Ibu dengar apa yang dikatakan oleh Luna barusan, dia mengancamku untuk memenjarakanku tolong bantu aku, Bu." Mawar memohon bagi anak kecil, berharap dirinya mendapat bantuan.
"Itu urusanmu sendiri, Ibu tidak mau ikut campur."
"Ibu kok begitu? Ibu lupa kalau aku ini hamil? Bagaimana nanti kalau aku berada di penjara?" Mawar sengaja menggunakan kehamilannya untuk membuat ibu mertua mau menuruti perkataannya.
"Kamu tenang saja, dia tidak akan berani."
"Tapi perkataan Luna terlihat serius, Bu."
"Memangnya dia punya uang? Anggap saja perkataannya angin lalu alias kentut."
"Benar juga yang di katakan ibu, kenapa harus takut." Mawar akhirnya bernafas lega karena dirinya tidak akan di penjara atas tuduhan penganiayaan dan aksi pembunuhan pada Kanaya. Tapi dia tidak tahu ada sosok di belakang Luna yang siap membantu.
__ADS_1