Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Hinaan dari mantan ibu mertua


__ADS_3

Hatiku sakit mendengar perkataan mantan ibu mertua yang begitu tajam, dengan sengaja menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Kemarahan yang tergambar jelas di wajahnya masih di tahap normal, namun tetap berwaspada jika dia menyerang secara tiba-tiba.


"Aku sangat bersyukur kamu sudah berpisah dari anakku, Adam. Wanita sepertimu sangatlah tidak cocok di dalam keluargaku dan aku jadi meragukan Kanaya, apa benar dia anak kandung Adam?" 


Jelas aku tak terima dengan tuduhan keji itu, menatap mantan ibu mertua tajam tanpa ada rasa hormat lagi. 


"Jangan menatapku begitu, aku mengatakan secara fakta terlihat." 


"Stop Bu, hina aku sesuka hatimu tapi jangan putriku. Terserah kalau Ibu percaya atau tidak, itu tidak akan berpengaruh padaku." Sengaja aku meninggikan suaraku untuk membela anakku yang di hina, heran mengapa mantan mertuaku itu tega sekali menuduh aku bermain serong dengan pria lain. "Menuduh tanpa bukti adalah fitnah." 


Cuih


Ibu mertuaku langsung meludah, jika saja tidak menghindar aku pasti terkena air liurnya. Mas Biru ingin membelaku, tapi dengan cepat aku menahannya dan memberikan isyarat mata agar dia tidak ikut campur. 

__ADS_1


"Aku yakin kalau Kanaya bukanlah anak Adam, anakku saja yang sial." Tuduhnya menatapku dengan sinis, melirik mas Biru sengit. 


"Apa kita perlu tes DNA untuk memastikan Kanaya itu anak siapa? Apa yang akan aku dapatkan kalau hasilnya adalah anak kandung dari Mas Adam?" Aku membuat negosiasi bukan untuk meraup keuntungan, melainkan memastikan dan membuktikan kepada mantan ibu mertuaku kalau putriku itu adalah cucu kandungnya sendiri.


Aku tersenyum sangat tipis, mantan ibu mertua ku diam terpaku beberapa saat, mungkin mempertimbangkan perkataanku yang tidak main-main. Di saat dia merasa kalah, tentu saja mencari celah untuk membuatku kembali tersudut.


"Aku ingin kamu membebaskan Mawar yang sekarang ada di penjara."


Benar saja, mantan ibu mertuaku mengalihkan topik pembahasannya. Setelah mendengar nama mantan adik maduku di sebutkan, seakan membuatku tertarik. Sedikit terkejut, bagaimana Mawar bisa dipenjara sementara aku belum mengajukan apapun.


"Ck, tidak perlu mengelak."


"Aku tidak melakukan apapun." 

__ADS_1


"Benarkah? Mengapa Mawar sekarang ada di penjara atas kasus menimpa Kanaya. Kamu itu seorang wanita tapi tidak mengerti penderitaan wanita lain, kamu tidak punya hati nurani sedikitpun. Kamu lupa Mawar sedang mengandung? Aku tidak ingin pewaris keluargaku itu sampai kenapa-kenapa. Egois kamu, Luna." 


Aku menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, jujur saja hatiku tergelitik mendengar semua perkataan dari mantan ibu mertuaku. "Demi Allah, aku tidak tahu apapun mengenai Mawar." 


"Gak usah bawa-bawa Tuhan, wanita munafik sepertimu tidak pantas mengatakan itu." 


Biru yang sedari tadi menahan diri, tapi sekarang dia tidak bisa mengendalikannya. "Maaf menyela pembicaraan ini." 


"Kamu siapa? Tidak perlu ikut campur." 


"Luna tidak bersalah, aku yang melaporkan menantumu sesuai ganjaran yang dia perbuat." 


"Wah … Luna, kamu mendapatkan pembelaan dari pria asing bahkan masa iddah mu belum usai. Pelet apa yang kamu berikan padanya?" wanita paruh baya itu bertepuk tangan sambil menatap mantan menantunya seperti mengejek. 

__ADS_1


"Aku heran, bagaimana Luna bisa bertahan hidup di lingkungan keluarga Anda." Sambung Biru. 


"Mas, jangan. Biarkan saja!" ucap Luna menggelengkan kepalanya pelan, semakin membalas maka ibu mertuanya semakin menjadi-jadi.


__ADS_2