
Setelah membenahi semuanya, aku memutuskan untuk beristirahat di sebelah Kanaya yang sudah tertidur sambil mengusap pelan pangkal pahanya agar tidur lebih nyenyak. Aku baru ingat mengenai perlakuan Mawar pada anakku yang hampir meregang nyawa, berpikir apakah mas Biru mau menolongku untuk meminta keadilan.
****
Aku berkutat di dapur memasak makanan untuk semua orang seorang diri, aku mengerjakanya sendirian dan sengaja membawa Kanaya agar aku lebih lega. Aku tersenyum sekilas saat melihat anakku tak menangis, kembali menyambung memasak agar semuanya cepat selesai.
Keadaanku yang menuju bangkit dari kesedihan membuatku sangat kesulitan merawat Kanaya seorang diri, mana mungkin aku merepotkan orang lain.
Setelah beberapa macam masakan siap di hidangkan, tiba-tiba saja Kanaya menangis dan aku cepat-cepat mencuci tangan dengan sabun karena sebelumnya menyentuh cabai dan bawang. Hampir saja aku menggendong anakku yang lebih dulu berada di gendongan mas Biru, sedikit terkejut kehadirannya yang tiba-tiba.
"Eh, Mas Biru?"
"Sudah, Kanaya aman bersama ku. Kamu lanjutkan pekerjaanmu saja!"
"Apa tidak merepotkan Mas?"
"Tidak kok, aku lagi free."
__ADS_1
Kedekatan keduanya tak sengaja di lihat oleh bunda Kejora yang kebetulan lewat, dia sangat tidak suka dan berjalan menghampiri.
"Kenapa kamu yang menggendong anaknya Luna?"
"Eh, Biru. Kebetulan Biru tidak ada pekerjaan jadi gak masalah buat jagain Kanaya."
"Kan ada ibunya, kenapa harus kamu?"
Perkataan dari nyonya Kejora sedikit berkesan di hati, segera aku menghampiri mas Biru hendak mengambil alih Kanaya. "Sini Mas, biar aku saja." Pintaku seraya mengulurkan kedua tangan hendak meraihnya, tapi dengan cepat mas Biru menjauhkan anakku bersikukuh.
"Gak apa-apa, aku saja."
Biru tahu kalau bundanya masih belum menyukai Luna, bukan berarti tidak menutup kemungkinan perasaan itu bisa berbalik kapanpun tanpa tahu waktu. Tatapannya bertemu pada ayah Bintang yang ternyata juga berada di dapur karena perut yang lapar sudah tidak sabar untuk makan.
"Eh, apa Biru cacingan?" pikir ayah Bintang menyipitkan kedua matanya, mencoba memahami isyarat yang di berikan oleh anak sulungnya.
Sudah berulang kali Biru memberikan isyarat dan akhirnya di tangkap oleh ayah Bintang yang sudah memahami apa yang harus di lakukan.
__ADS_1
"Bunda sayangnya Ayah," ayah Bintang berjalan menghampiri, dengan sengaja menggoda istrinya.
"Ayah, malu di lihat anak perjaka." Cetus bunda Kejora yang sebenarnya menyukai hal itu.
Ayah Bintang dengan sengaja mencolek pinggang istrinya sembari berbisik. "Ke kamar yuk! Ayah rindu Bunda."
Biru hanya menahan rasa menggelitik di hatinya melihat sikap absurd dari ayahnya, dia mengakui keharmonisan rumah tangga kedua orang tuanya bahkan masih hangat dan romantis sampai sekarang.
"Jangan di pikirkan, lanjutkan saja pekerjaanmu?"
"Iya Mas."
Pandangan Biru tak teralihkan dari Luna, dia tersenyum sambil membayangkan kalau mereka sudah sah menikah. "Apa begini rasanya menjadi suami? Sangat terpesona melihat istri tercinta tengah sibuk di dapur." Batinnya yang tertawa di dalam hati.
"Duh, kenapa mas Biru melihatku seperti itu ya?" jujur saja aku merasa takut melakukan kesalahan, apalagi salah tingkah yang hanya membuatku malu.
Pikiranku yang tidak menyatu dalam pekerjaan membuatku tidak sadar jari tangan yang menyentuh panci yang berisi air.
__ADS_1
"Auh." Aku meringis setelah menarik cepat. Namun aku terkejut saat mas Biru yang sigap mengobati luka lepuh yang tidak seberapa, tapi jantung seakan ingin copot.