Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Memutuskan untuk pindah ke Paris


__ADS_3

Banyak orang memandang rendah seorang janda yang menikahi perjaka yang kaya raya, tapi mas Biru menguatkan aku dan sesekali membalas perkataan ibu-ibu komplek. Aku sudah biasa mendengarkan hal itu, tetap saja mengganggu. 


Aku tidak peduli karena sejatinya aku memiliki suami yang sangat menyayangi aku, menjadikan aku sebagai ratu di dalam hati juga singgasananya. Kami mulai merancang program kehamilan, aku sangat ingin memberikannya seorang anak untuk mas Biru. 


Ya, mas Biru membawaku untuk honeymoon ke luar kota, sebenarnya aku mempertimbangkan rencana itu, biar bagaimana pun juga Kanaya tidak mungkin bisa aku tinggalkan. 


"Apa yang kamu cemaskan itu bukanlah alasan, kita bawa saja Kanaya."


"Eh, memangnya Mas tidak keberatan membawa Kanaya?" 


"Kanaya juga anakku, mana mungkin aku meninggalkannya pada baby sitter atau menitipkannya pada Putih."


Kedua mataku berbinar cerah, mas Biru mengerti suasana hatiku dan sekali lagi membuktikan kalau dirinya juga ayah Kanaya walaupun posisinya cuma ayah sambung. 


Tangan lembut mas Biru mengangkat Daguku, tatapan kami saling bertemu untuk waktu yang cukup lama. Perlahan kepalanya mulai mendekat, dengan sengaja mencium bibirku. Kami hanyut dalam permainan yang semakin lama semakin panas, semakin jauh menikmati surga dunia yang di kenikmatannya di gapai berdua. 


Dunia serasa berdua, bahkan tak bisa mendengar suara ketukan pintu dan teriakan dari luar kamar.

__ADS_1


Satu jam kemudian, akhirnya pergerumulan panas yang tidak akan mungkin di ceritakan hanya bisa di rasakan oleh ku dan mas Biru. Setelah kembali bersiap-siap, kami keluar dari kamar dan mendapati Putih dengan mukanya yang jutek dan cemberut. 


"Aku menunggu lebih satu jam," dengan sengaja Putih memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan stop watch, tentu saja dia menghitung berapa lama kakak dan kakak iparnya berada di dalam kamar. 


Mas Biru terkekeh seraya mengacak-acak rambut adiknya yang sudah rapi, membuat sang empunya merasa kesal. 


"Kak, aku bukan anak kecil lagi, jadi hentikan!" cetus Putih semakin cemberut. 


"Tapi di mataku kamu masih adikku yang paling kecil, juga manis." 


"Ingat! Aku ini sudah lulus kuliah, yang itu artinya aku sudah dewasa." 


****


Aku terkejut ternyata mas Biru malam membawaku honeymoon ke luar negeri, aku bingung sekaligus heran mengapa dia tiba-tiba mengubah keputusan di saat-saat terakhir. 


"Loh Mas, bukannya kita mau ke luar kota ya? Kok malah ke luar negeri?" 

__ADS_1


"Mas mau suasana baru, dimana kita bisa mengenal orang baru dan lingkungan baru."


Aku semakin tidak mengerti arah pembicaraan mas Biru. 


"Mas berencana untuk mengembangkan bisnis keluarga ke luar negeri, jadi Mas … ingin kita pindah."


"Kenapa mendadak Mas?" 


"Maaf Sayang, usaha kita yang semakin berkembang mengharuskannya."


Aku menghela nafas panjang karena tak tahu kalau honeymoon ke Paris sekaligus melihat tempat tinggal kami di sana. "Aku gak masalah Mas, aku ikut kemana Mas membawa kami. Bagaimana dengan Putih?" 


"Mas gak bisa melarangnya, mau dia ikut kita atau tinggal di Indonesia itu terserah padanya." 


"Hem." 


Aku sangat senang karena ini kali pertama ku naik pesawat, duduk di bagian jendela adalah impianku sejak dulu dan kebetulan mas Biru mengabulkannya. 

__ADS_1


"Selamat datang Paris." Gumamku yang sungguh tak mengerti bahasa asing, semoga saja ke depannya aku bisa berbaur. 


__ADS_2