
Aku mencoba untuk menghentikan langkah mas Biru, tapi itu hnaya percuma saja karena hatinya yang tidak mempercayai ayah dan bunda. Mas Biru mengambil koper yang ada di atas lemari dan mengambil pakaian untuk di kemas, aku menjadi panik saat suamiku juga mengemasi semua pakaianku juga pakaian Kanaya.
"Mas, kamu mau apa Mas?"
Mas Biru memegang kedua bahuku dan menatap mataku dalam. "Dengarkan aku, kita pergi dari sini. Bantu aku kemasi keperluan kita, juga Kanaya."
"Tapi Mas, ini tidak benar." Aku mencoba untuk menghalanginya pergi, bukan seperti ini menyelesaikan masalah dengan cara menghindarinya.
"Jadi kamu tidak ingin ikut denganku, begitu?"
"Bukan begitu Mas, kita bisa bicarakan baik-baik."
"Gak ada lagi yang perlu di jelaskan lagi, ayah dan bunda sudah menghancurkan hidup orang lain. Kemasi semua barang-barang mu, sekarang juga!"
Aku tak bisa mencegah niat mas Biru, terpaksa aku mengikuti kemana suamiku ingin pergi, walau ini tidak benar.
Aku menggendong Kanaya, sementara mas Biru membawa tas dan juga koper menuruni tangga.
"Loh … loh, kok kalian pergi gak bilang sama Bunda sih?" tutur bunda Kejora menghadang mas Biru.
"Sudah di putuskan, kami akan pergi dari rumah ini."
__ADS_1
"Tapi mengapa? Kenapa mendadak begini."
"Mendadak setelah mendengarkan rahasia selama puluhan tahun ayah dan Bunda tutupi."
Deg
Perkataan dari Biru berhasil membuat tubuh bunda Kejora gemetar, bagaimana mungkin rahasia yang sudah dikubur bersama sang suami terkuak begitu saja, hingga terlintas sesaat pada perkataan Luna mengenai temannya yang bernama Iren.
"Apa maksudmu? Bunda tidak mengerti."
"Jangan mencoba untuk menghindar lagi, aku bertemu dengan ayah berada di rumah anaknya dari istri pertama. Tidak aku sangka kalau selama ini Bunda wanita perebut dan menghancurkan kebahagiaan wanita lain. Biarkan aku pergi dari rumah ini dan menenangkan pikiranku!"
Aku tidak tahu berkata apa, keputusan dari mas Biru yang ingin meninggalkan rumah tak bisa aku tentang, karena hatinya saat ini masih panas, aku akan mengatakan saat suasananya dingin.
"Bunda harusnya minta maaf sama wanita itu, Bunda tahu? Wanita yang Bunda sakiti berada di rumah sakit jiwa. Itu karena siapa? Karena Bunda yang merebut suaminya."
"Bunda tahu, tapi jangan pergi!"
"Ini sudah keputusan final, tolong di hargai!"
"Tidak akan ada yang pergi dari sini!" ucap seseorang membuat semua orang diam membisu.
__ADS_1
Suasana semakin panas, aku mencoba membujuk mas Biru sekali lagi berharap dia pergi tidak dalam kemarahan.
"Apa hakku di rumah ini? Seharusnya semua harta yang aku dan Putih nikmati adalah milik anak Ayah dari istri pertama."
Kedua pasangan paruh baya itu membujuk anak mereka untuk tidak meninggalkan rumah, mereka berusaha mengejar menggunakan mobil.
"Mas, bahaya mengendarai mobil dalam keadaan marah." Pekikku yang sedari tadi menangis, seakan mas Biru tidak mendengarkan ucapanku.
Aku menoleh ke belakang melihat mobil putih yang di tumpangi oleh mertuaku, aku memohon ada mas Biru sebab ini sangat berbahaya.
Kedua mataku terbelalak kaget melihat mobil putih kehilangan kendali saat terserempet mobil muatan besar.
"Mas, pinggirkan mobilnya!" pekik ku histeris.
"Ada apa?" tanya Mas Biru ikut cemas melihatku bereaksi berlebihan.
Mulutku terasa keluh, dengan tubuh yang gemetaran aku menunjuk ke belakang.
"Ayah … Bunda!" Pekik mas Biru yang segera keluar dari mobil menuju kecelakaan terjadi.
__ADS_1