
"Maaf Mas, aku pulang terlambat." Lirih pelan ku seraya melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
"Tidak masalah. Boleh aku tahu alasannya?"
"Iya Mas." Aku duduk di sofa, suasana seperti ini membuatku tak nyaman saat di tatap oleh semua orang.
"Kenapa kamu terlambat? Kanaya sampai menangis, untung baby sitter nya lihai." Sambung bunda Kejora.
"Maaf, tadi ada hal yang sangat mendesak. Gadis yang pernah menyelamatkanku dari pencopet mengalami kecelakaan."
"Siapa dia?"
"Dia temanku, Iren."
Deg
Dua orang diam membeku di saat nama itu di sebutkan, keduanya saling melirik ketakutan mengenai insiden yang terjadi.
"Nama Iren bukan hanya satu orang saja." Batin bunda Kejora.
"Pasti Iren anakku, aku harus menemuinya." Gumam ayah Bintang di dalam hati. "Bagaimana kondisinya, Nak?"
__ADS_1
"Kondisinya sudah berangsur membaik, hanya cedera di bagian tangan juga di kepalanya dan dokter mengatakan itu bukanlah masalah serius. Aku mengantarkannya di rumah sakit terdekat, lebih tepatnya rumah sakit X."
"Malang sekali dia." Celetuk Putih.
"Semoga dia lekas membaik." Sambung Biru.
"Iya Mas, besok aku ingin menemuinya."
"Aku ikut."
"Iya Mas."
****
"Sah." Jawab serempak oleh para saksi dan tamu undangan.
Mawar menyeka air matanya dengan cepat, melihat suaminya yang telah resmi menikahi wanita lain. Tatapan menusuk dan tajam, ada amarah di dalam hatinya sebab tak terima dengan suaminya yang memilih menikah lagi.
Tampak senyum terpancar di wajah kedua mempelai, terutama istri baru Adam yang tersenyum mencibir Mawar.
"Wanita mandul tak berguna, apa pantasnya mas Adam mempertahankan wanita pembawa sial itu." Batin wanita itu yang mencibir.
__ADS_1
"Akhirnya pernikahan kalian sudah resmi."
"Iya Bu."
"Ibu berharap kalian segera berikan ibu cucu laki-laki, yang tidak bisa di berikan istri-istri Adam sebelumnya." Sindir ibu mertua yang melirik Mawar sinis, semenjak insiden itu rasa sayangnya sirna bersamaan hilangnya janin dan rahim sang menantu.
"Ibu dan mas Adam tenang saja, aku penuhi keinginan kalian, asal kalian juga mengabulkan keinginanku." Senyum licik terpancar di wajah Mutia, hanya saja tidak ada yang melihat secara jelas. "Sasaran yang empuk," batin nya licik. Bukan tanpa alasan dia menikahi Adam, hanya menginginkan harta membuatnya gelap mata.
Prank … prank!
"Tega kamu Mas." Pekik Mawar yang melempar semua barang-barang yang dekat dari jangkauan, hendak masuk ke dalam kamarnya yang dulu di tempati oleh Luna dan Adam. Tapi sekarang kamar itu malah di tempati oleh suaminya bersama si pelakor.
"Gak perlu drama, masih untung Adam mau menerimamu jadi istrinya. Gak usah banyak menuntut, toh kamu cuma wanita pembawa sial." Sewot ibu mertua yang semakin memperkeruh suasana hati Mawar.
"Gak usah lebay deh Mba, Mba dulu kan juga pelakor. Pelakor sesama pelakor tak perlu berteriak, buang-buang waktu." Sambung Mutia.
"Diam kamu, dasar wanita perebut!" pekik Mawar.
"Berlebihan, kita itu gak ada bedanya Mba. Seharusnya Mba paham dong dan berterima kasih sama aku, sudah membantu Mba untuk memberikan anak laki-laki, itu kan yang di inginkan ibu mertua dan suami kita."
Mawar sangat marah dan semakin hilang akal, dia tak terkendali tidak menerima kenyataan kalau suaminya menikah lagi.
__ADS_1
Mawar melirik gunting kecil dan meraihnya, langsung berlari menghampiri Mutia hendak menikamnya. Bukan kepuasan pembalasan yang di dapat melainkan aksinya itu langsung di patahkan oleh Adam.
Guncangan penderitaan mental dari Mawar tak bisa lagi di sembuhkan, Adam dengan terpaksa memasung Mawar, takut istrinya itu menyakiti sang istri muda.