Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Balas dendam Mawar


__ADS_3

Perlahan aku membuka kedua mataku, melihat tempat yang begitu asing bagiku. Kuedarkan pandanganku ke setiap sudut ruangan itu tanpa ada yang terlewatkan, aku melihat mas Biru di sebelahku. Wajahnya tersenyum saat dia menyambutku siuman, mengkhawatirkan dan juga mencemaskan ku. 


"Syukurlah kamu sudah sadar." 


"Mas, aku dimana? Dimana Kanaya? Aku sudah lama meninggalkannya." Lirihku yang hendak bangun, tapi langsung di cekal oleh mas Biru. 


"Tenanglah, Kanaya baik-baik saja dan sudah tertidur." 


Tetap saja aku tak tenang sebelum melihat anakku, merasa berdosa menitipkan Kanaya pada baby sitter. Aku memaksakan diri untuk bangun dari atas brankar, tapi aku merasakan sakit di bagian kepala. 


"Jangan memaksakan diri, Luna." 


"Tapi aku tidak tenang sebelum melihat Kanaya." Ujarku sembari meringis kesakitan. 


Aku tak ingat kejadian yang menimpaku, mengapa kepala ku terasa berat dan juga sakit. "Apa ini Mas?" tanyaku yang melihat ponsel sudah di sodorkan mas Biru. 


"Aku sedang menghubungi baby sitter yang merawat Kanaya, video call." 


Aku bersemangat dan dengan cepat ku raih ponsel itu sembari melihat keadaan Kanaya yang sangat anteng tertidur pulas, aku mengucapkan terima kasih pada baby sitter dan kembali menyerahkan ponsel mas Biru. 


"Kamu sudah melihat Kanaya, sekarang beristirahat!" 


Segera aku meraih tangan mas Biru yang hampir melangkahkan kaki. 

__ADS_1


"Kamu butuh sesuatu?" 


Aku mengangguk pelan. "Apa yang terjadi padaku, Mas? Kenapa kepalaku terasa di hantam oleh benda keras?" 


"Jangan di pikirkan, nanti juga akan sembuh setelah kamu banyak istirahat. Tidurlah! Aku harus mengurus sesuatu." 


Aku hendak mengajukan pertanyaan lagi, tapi punggung mas Biru sudah tak terlihat karena di halang oleh pintu. Merasa tak nyaman, aku memejamkan mata berharap rasa sakit itu mereda. 


"Halo." 


"Hem."


"Saya sudah memenjarakan nona Indri." 


"Baik bos." 


Biru mematikan ponselnya dan bergegas mengurus masalah Indri yang sudah berani melukai wanita yang sangat dia cintai. 


Selepas kepergian Biru, walaupun terlihat sempurna tentunya memiliki kekurangan. Ya, Biru lupa membuat keamanan di ruang bangsal yang di tempati Luna, karena dia berpikir tak akan ada yang menyakiti wanitanya. 


Seseorang yang menyamar menjadi keluarga pasien dengan sangat mudahnya masuk ke dalam, tersenyum di kala melihat Luna yang berada di atas brankar. 


"Hah, ternyata aku menemukanmu." 

__ADS_1


Wanita itu mengeluarkan suntik dari sakunya, ingin melukai Luna karena rasa dendam. 


"Ternyata kamu di sini!" Seseorang baru saja datang dan mencegah rencana buruk. 


"Lepas Mas, jangan halangi aku!" 


"Jangan gila kamu, Mawar. Kamu mau masuk penjara lagi?" 


"Aku tidak peduli Mas, aku ingin Luna mati." 


Mawar terus memberontak, namun tenaganya tak akan sanggup melawan tenaga seorang laki-laki. 


Adam yang tidak ingin itu terjadi, segera menyeret istrinya keluar dari bangsal dan menampar Mawar dengan sangat keras. 


"Kenapa kamu menamparku, Mas?" 


"Itu karena kamu sudah keterlaluan, jangan lupakan kalau Luna mati bagaimana dengan Kanaya, anakku?" 


"Apa peduliku. Dia sudah memenjarakan aku, sebaiknya Mas menyingkir agar dendam ini terselesaikan." 


Adam sangat geram dengan Mawar dan berusaha untuk menghalanginya, aksi itu membuatnya tak sengaja mendorong tubuh sang istri mengenai kursi tunggu. 


Mawar memegang perutnya dan merasakan sakit yang sangat luar biasa, tak sengaja Adam mendorongnya hingga perut mengenai kursi tunggu dan menyebabkan darah mengalir di kedua kakinya. 

__ADS_1


__ADS_2