Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Renggang


__ADS_3

"Kenapa sangat lama?" 


Aku menatap wanita paruh baya seakan mengintrogasiku, tiga kata yang keluar dari mulutnya meninggalkan kekesalan di hati. Bagaimana tidak? Si nyonya tuan rumah tak memberikanku uang ongkos, yang aku yakini di sengaja melakukan agar aku jera dan meninggalkan pekerjaan dan juga rumahnya. 


"Maaf Nyonya, jarak dari rumah ke swalayan A sangatlah jauh, apalagi tidak ada uang lebih untuk naik angkutan umum." Terangku sedikit menekannya, karena itu membuatku hampir melukai Kanaya yang masih bayi. 


"Jangan menatapku begitu." Sang nyonya mengambil minuman segar di atas meja di hadapannya, dan meneguknya dengan cara elegan. Hal itu menggambarkan dia sangat puas berhasil mengerjai Luna, tinggal menunggu langkah selanjutnya agar wanita itu segera mengundurkan dirinya sendiri. Dia sangat benci pada orang yang berusaha menjauhkannya dari anaknya. 


"Aku permisi." Aku tak ingin berdebat dengannya, toh aku tidak akan menang melawannya. Lebih baik aku pergi beristirahat, karena sangat lelah.


Sontak aku terbayang pada seorang wanita yang menolongku dari pencopet, namun wajahnya seperti tidak asing di mataku. 


"Iren, wajahnya sedikit mirip dengan tuan Bintang." Gumamku sembari telentang di atas tempat tidur, melirik ke samping aku langsung tersenyum kepada Kanaya. "Cepatlah besar." Aku mengecup pipinya yang begitu menggemaskan. 


Bunda Kejora merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan suami tercinta, bukan pelukan yang didapatkan melainkan sikap dingin dari sang suami yang melewatinya saja tanpa menoleh sedikitpun. Hal itu menurut emosinya dan menyalahkan Luna, semenjak wanita itu datang keluarganya dari menjadi kacau balau. 


"Ada apa denganmu? Aku sudah bersikap baik dengan menyambutmu selepas pulang kerja." 

__ADS_1


Seketika ayah Bintang langsung menghentikan langkah kakinya, menatap wajah sama istri dengan raut wajah yang datar. 


"Aku tidak ingin berdebat." Ucapnya sembari berlalu pergi. 


"Apa dia sudah menemukan Iren? Hah, semoga saja anak itu tidak mau tinggal di sini. Cukup ibunya saja yang membuatku repot," gumam bunda Kejora yang bersemangat pergi dari sana dan menyambut kedatangan anak sulungnya. 


Bunda Kejora juga kaget saat Biru juga mengabaikannya, dia sangat kesal karena dirinya seperti tak terlihat.


"Apa itu sulit?" pekiknya membuat Biru menoleh. 


"Apa?" 


"Aku yang berubah? Tapi aku rasa Bunda lah yang berubah." Biru melangkah pergi tanpa peduli teriakan sang ibunda terus memanggil namanya. 


Aku yang tengah menyiram tanaman langsung terpanggil saat namaku di sebut dengan sangat keras, aku segera menghentikan aktivitas itu dan bergegas menghampiri asal suara. 


"Iya Nyonya, ada apa?" 

__ADS_1


"Kamu pel ulang lantai dan juga debu yang menempel!" 


"Aku sudah membersihkannya, Nyonya."


"Saya gak mau tahu ya, kamu pel ulang semuanya sampai benar-benar kinclong. Sedikit noda kamu ulang dari awal lagi!" 


"Eh, baik Nyonya." 


Aku bingung, mengapa nyonya Kejora menyuruhku bekerja dua kali, tidak ada noda di lantai karena baru sepuluh menit yang lalu aku menyelesaikannya.


"Lantainya sudah bersih,mengapa kamu pel ulang?" 


Aku mendongakkan kepala dan menatap ke sumber suara, ternyata itu adalah mas Biru yang berdiri di hadapanku.


"Bunda yang menyuruhnya, entah mengapa pekerjaannya mulai tidak beres." 


Aku melihat dengan jelas bagaimana ibu dan anak itu saling menatap sengit, aku segera pamit undur diri karena tak ingin terlibat.

__ADS_1


"Bunda sudah keterlaluan! Biru sangat kecewa." 


"Dia bekerja untuk digaji, lalu apa salahnya itu? Lagi pula dia enak bekerja di sini, membolehkannya mengurus anaknya yang masih bayi."


__ADS_2