Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Kacang lupa kulitnya


__ADS_3

"Apa? Bagaimana dan kapan kamu melamarnya?" tanya bunda Kejora saking tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Dua hari sebelum acara ini dilaksanakan." 


Aku merasakan pelukan dari mas Biru sedikit merenggang yang perlahan melepaskan ku, dia menggenggam tanganku mengartikan jika dia ada bersamaku. Aku melihat tatapannya yang sangat serius menatap semua orang yang hadir. 


"Dengarkan semuanya, aku dan Luna akan menikah." 


Aku sangat terkejut kalau mas Biru mempublish hubungan kami, ada rasa haru dan khawatir bercampur menjadi satu. 


Sontak hal itu membuat ketiga orang yang merencanakan pertunangan menjadi calon terutama Indri yang sudah mempersiapkan segalanya bahkan impiannya bergantung kepada Biru, namun semua itu pupus di saat semangat membara setelah mendengar klaim hubungan secara langsung. 


Merasa tak terima dan juga di tipu, Indri buru-buru berjalan menghampiri Biru dan menampar keras di pipi karena rasa sakit tamparan itu tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. 


"Tega kamu, Biru." 


Dari nada bicaranya dan ekspresi di wajah mengatakan kalau dia sangat-sangat kecewa, di hari spesial dia malah di permalukan padahal sudah memberitahu teman-teman yang hadir dalam acara itu mengenai pertunangannya dengan Biru sang anak dari Bintang, penguasa di bidang tekstil. Dia menarik tangan Luna akan tetapi ditahan oleh Biru, tatapan tajam yang di perlihatkan membuatnya sedikit takut

__ADS_1


"Aku sudah mengatakannya, dan tidak akan ku ulangi lagi." Tegas Biru menatapnya tajam.


"Apa kurangnya aku? Aku seorang gadis yang sangat pintar, berpendidikan tinggi dan juga cantik. Apa kurangnya aku, Biru. JAWAB!" sentak Indri mencengkram kerah leher Biru.


"Kami memang wanita sempurna, tapi cinta tidak bisa di paksakan. Di mataku Luna adalah wanita terbaik dan juga cinta sejatiku." 


Hatiku merasa tersentuh, mas Biru memujiku di hadapan semua orang. Hal yang tidak pernah aku dapatkan dari mantan suamiku, pria yang sangat mencintaiku melebihi dirinya sendiri. 


"Apa yang kamu bicarakan, hah?" 


"Bunda sendiri juga tahu, kalau aku sangat-sangat mencintai Luna. Jadi, jangan paksakan aku bersama yang lain, karena aku bisa gila tanpa kehadiran Luna." 


"Jeng, bagaimana ini? Bagaimana kekacauan ini bisa terjadi?" tanya Mehta yang menginterogasi, tidak terima bila putrinya dipermalukan di acara spesial.


"Aduh Jeng, ini di luar kendaliku."


"Saya gak mau tahu ya Jeng, ini sama saja Jeng telah mencoreng wajah saya di hadapan semua orang. Jika tahu begini, saya tidak akan sudi memberikan Putri tercintaku kepada keluargamu."

__ADS_1


"Jangan begitu dong Jeng, kita selesaikan masalah ini secara kekeluargaan ya," bujuk Kejora. "Biru, cepat cabut kata-kata mu tadi dan bertunanganlah dengan Indri." 


"Maaf Bun, aku tidak akan mencabut apa yang sudah aku katakan. Aku mencintai Luna, berharap Bunda mengerti." 


"Durhaka kamu, Biru. Kamu lupa, siapa yang mengandungmu selama sembilan bulan sepuluh hari, merawatmu dan menyusuimu. Begini caramu membalasnya?" 


"Biru minta maaf sudah membuat Bunda kecewa, Biru berharap kalau Bunda dapat menerima calon istri pilihan Biru sendiri." 


"Kenapa Ayah diam saja, hah? Nasehati anakmu, Yah." Kejora menghampiri suaminya, memohon agar bisa memutuskan hubungan Biru dan Luna. 


"Alasan Bunda menolak Luna sungguh keterlaluan, seperti kacang yang lupa pada kulitnya." 


"AYAH. Ayah sengaja mempermalukan Bunda demi pembantu itu?" 


"Bukan mempermalukan, tapi sikap Bunda sangat keterlaluan. Biarkan Biru memilih, yang menjalani kehidupan dia bukannya Bunda. Ingatlah jati diri Bunda dulu." 


"Ayah tega." 

__ADS_1


__ADS_2