Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Namanya juga cinta, Bun!


__ADS_3

Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega saat dokter mengatakan kalau Kanaya sudah di perbolehkan pulang, aku menyentuh keningnya untuk memeriksa suhu tubuh yang panasnya sudah berkurang. Aku tersenyum saat mas Biru datang menghampiri, mengelus pipi Kanaya dan menciumnya dengan sangat lembut. 


"Kalau bukan karena Mas, entah apa yang terjadi padaku." 


"Aku tidak mempermasalahkannya, malahan aku senang membantumu juga Kanaya." 


Aku terdiam beberapa saat, memikirkan mengenai perasaan mas Biru padaku. "Mas, masalah itu aku__."


"Tidak perlu di jawab sekarang, aku bisa menunggunya." 


"Terima kasih sudah mau mengerti." 


"Hem, tentu." 


Kami memutuskan untuk keluar dari rumah sakit, aku melihat beberapa pasang mata yang menatap kami dan mereka iri. Terdengar samar orang-orang mengira kalau aku dan mas Biru sepasang suami istri, menggendong bayi menjadi penyempurna penglihatan dari jauh. 


Aku risih dengan tatapan orang-orang, sengaja menyenggol lengan mas Biru.


"Ada apa?" 


"Heran aja Mas, dari tadi kita di jadikan pusat perhatian oleh orang-orang di sini." Bisikku, aku mengerutkan dahi melihat mas Biru yang tertawa kecil. Namun aku terkejut dia mengambil alih menggendong Kanaya, lengkap sudah ghibahan orang-orang. 


"Aku saja menggendong Kanaya." 


"Apa aku tidak boleh menggendongnya?" 


Raut wajah sedih di perlihatkan padaku, aku merasa tak tega kalau sampai merebut Kanaya yang sekarang sudah berada di dalam gendongan mas Biru. 


"Jangan tersinggung Mas, aku tidak ingin merepotkan." 


Mas Biru mendelik kesal saat aku kembali mengatakan kalimat itu lagi. "Entah berapa kali kamu mengatakan kalimat itu, jangan mengulangnya. Aku membantumu ikhlas dan__."


Perkataan mas Biru terhenti saat dia menatapku lebih dalam beberapa saat. "Dan apa Mas?" tanya ku penasaran. Bukannya menjawab dia malah tersenyum dan melangkah lebih dulu pergi meninggalkan aku. 


Aku sedikit jengkel dn mengikutinya dari belakang. "Dan apa Mas?" tanyaku sekali lagi, kalau dia tidak mau menjawabnya … maka aku berhenti menanyakan hal yang sama. 

__ADS_1


Tiba-tiba langkah mas Biru terhenti, aku yang kurang fokus tak sengaja menabrak punggungnya. Dia menoleh serius, malah aku di buat canggung olehnya. 


"Karena aku mencintaimu. Berikan aku satu kesempatan untuk membuktikan diri." 


"Tapi Mas, aku … aku." 


"Sudahlah. Aku sudah menemukan jawabannya." 


"Pria yang aneh." Gumamku sembari mengikutinya lagi. 


Sesampainya di rumah orang tua mas Biru, aku segera turun dari mobilnya dengan menggendong Kanaya, katanya dia tidak ingin membuat kondisi anakku demam lagi karena menggunakan motor dan itu sebabnya dia memakai mobil. 


Aku berjalan empat langkah masuk ke dalam rumah, tapi kepulangan kami malah di sambut oleh nyonya Kejora. Dia menatapku tajam, tidak suka saat aku pulang bersama anaknya. 


"Kamu gak mau kerja di sini? Pergi seenaknya tanpa memberi kabar." 


"Maaf Nyonya, aku tadi sangat panik akibat kondisi Kanaya yang demam tinggi."


"Baru sebentar kamu bekerja sudah berbuat ulah, kamu niat kerja gak sih?" 


"Ya sudah, kamu bawa anakmu masuk ke dalam." 


"Baik Nyonya." Aku berlalu pergi meninggalkan tempat itu menuju kamar, dan meletakkan Kanaya di atas tempat tidur. 


Aku melamun cukup lama mengingat kejadian di rumah sakit, perkelahian mas Adam dan juga mas Biru masih terngiang sampai sekarang. 


Semakin ke sini semakin aku mengetahui sifat asli dari mas Adam, sangat-sangat berbeda waktu pertama kali dia menjadi suamiku. Bahkan di lima tahun pernikahan kami, dia tidak pernah dia menunjukkan sifat aslinya. Kemudian aku juga hampir melupakan untuk menuntut Mawar yang dulu hampir mencelakai Kanaya, masalah ini tak akan aku biarkan semakin larut hingga wanita perebut itu terbebas dari kesalahan. 


"Secepatnya aku mengurus perceraian itu, tapi aku tidak punya uang. Bagaimana kalau mas Adam melakukan tolak banding dengan mengalahkanku di meja hijau? Dia pasti tidak tinggal diam dan memanfaatkan kelemahanku." Ucapku di dalam hati, permasalahan yang membuatku tidak punya pilihan.


Aku merasa tidak mengenal mas Adam sama sekali, apalagi dia juga tidak peduli pada Kanaya yang notabene darah dagingnya sendiri dan itu sangat menyakiti hatiku. Perkataan dari ibunya membuat mas Adam mudah terhasut, lebih tepatnya ibunya adalah segalanya.


Aku menggigit kuku di jemari ku, begitu banyak yang aku pikirkan sampai kepalaku terasa pusing. Mas Adam meminta untuk rujuk, jujur saja aku tidak akan menerimanya lagi setelah apa yang dia lakukan. Perlakuannya di saat aku selesai melahirkan tidak satupun dia ikut membantu merawat Kanaya, bahkan menggendongnya hanya sekali saja. Apakah itu masih bisa aku maafkan, dan bahkan dia memperlakukan Kanaya sebagai anak orang lain. 


Sementara di sisi lain, Biru menundukkan kepala saat tetapan sang ibunda mengintrogasinya,nterlihat jelas kalau bunda Kejora tidak menyukai tindakannya tadi. 

__ADS_1


"Bukankah Bunda sudah katakan untuk menjauh dari Luna, apa kamu tidak mengerti berbahasa?"


"Bahkan aku mengingat jelas perkataan Bunda. Aku melakukan itu sesuai dengan yang Bunda ajarkan." Sekarang Biru mendapatkan alasan untuk meredakan emosi juga pikiran bundanya mengenai wanita yang sangat dia cintai. 


Jawaban yang diberikan Biru berhasil membuat bunda Kejora menyempitkan kedua mata penasaran dengan maksud perkataan itu. "Apa?"


"Bahkan bunda sendiri lupa dengan kata-kata yang Bunda ajarkan dulu, Biru melakukan itu murni demi anaknya yang sedang sakit, kasihan Luna karena dia tidak mempunyai siapapun lagi bahkan ayah dari bayi itu juga tidak membantunya. Bunda sendiri yang mengajarkan kepada Biru bahwa kita harus saling tolong-menolong tanpa pandang bulu, apalagi ini menyangkut nyawa seorang bayi. Bagaimana perasaan Bunda kalau Bunda ada di posisi Luna? Apa yang akan Bunda lakukan jika Biru di posisi bayi, sementara Bunda tidak mempunyai seorang pun untuk dimintai tolong? Di saat itulah hatinya hancur, dan Biru datang murni untuk menolong Kanaya." 


Penjelasan dari Biru berhasil membuka sudut pandang yang berbeda dari bundanya, kecurigaan itu tertepiskan dengan sangat mudah. 


"Ingat ya … jauhi Luna, dia belum berpisah sepenuhnya dari suaminya." 


"Bunda tidak bisa melarang Biru." 


"Kenapa bisa begitu?" 


"Tentun saja karena Biru sudah mempersiapkan segalanya, Bunda sangat tahu persis kalau anak Bunda yang tampan ini mencintainya."


"Jangan gila kamu." 


"Itu benar Bunda, Biru tergila-gila pada Luna."


Bunda kejora semakin manyun mendengar anaknya yang berambisi mendapatkan seorang wanita, tidak bisa di bayangkan kalau anak perjakanya mendapatkan seorang janda.


"Bunda tidak akan merestuinya."


"Biru mengerti kalau Bunda tidak menyukai status Luna bukan orangnya, dan tidak akan lama lagi dia akan jadi janda."


"Jangan katakan kalau kamu__."


"Yap, benar. Biru sudah mengurus surat perceraian dan tinggal minta persetujuan tanda tangan dari kedua belah pihak." 


"Kamu nekat sekali," bunda Kejora memegang kepalanya yang pusing. 


"Namanya juga cinta Bun, seperti Bunda dan Ayah." 

__ADS_1


__ADS_2