Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Tak tertolong


__ADS_3

Adam sangat panik hingga dia menarik rambutnya keras, mengusap wajah kasar saat mendapati sang istri yang meringis kesakitan sambil memegang perut. 


"Mas, sakit." Mawar meringis kesakitan dan tak mampu merasakannya, ingin rasanya penderitaan itu segera berakhir. 


Pikiran Adam semakin kalut di kala melihat dari yang mengalir di sela kaki sang istri, segera dia mengangkat tubuh Mawar dan berlari mencari bantuan dokter atau suster. 


"Jangan tinggalkan aku sendiri di ruangan ini Mas, kumohon!" bujuk Mawar menggenggam erat tangan Adam, sebelah tangannya lagi memegang perut yang sakitnya seperti terbakar. 


"Dok, biarkan aku menemani istriku." Desak Adam yang ingin menemani Mawar, dia merasa bersalah karena dirinyalah penyebab yang membuat sang istri terluka. 


Dokter tak menggubris permintaannya, tapi salah satu suster menghadang tubuh Adam yang hendak menerobos masuk. 


"Maaf, keluarga pasien mohon tunggu di luar."


Adam sangat khawatir mengenai kondisi Mawar dan juga janin yang di dalam rahim, dia menyatukan kedua tangan memohon agar sang suster mau memberikan kesempatan untuk dia menemani sang istri. 


"Silakan tunggu di luar!" tegar suster yang menutup kedua pintu ruangan. 


Adam begitu kalut, dia mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar, sangat sedih karena tak sengaja membuat calon anaknya terancam. Segera dia menghubungi ibunya, agar menemaninya di saat dia membutuhkan dukungan. 


"Halo Adam, kenapa tiba-tiba kamu menelepon ibu?" 

__ADS_1


"Bu, Mawar … dia …." 


"Mawar? Mawar kenapa? Kenapa suaramu terdengar bergetar? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan di mana kamu sekarang?" 


begitu banyak pertanyaan yang diajukan oleh ibunya Adam yang tidak bisa menjelaskan satu persatu karena situasinya saat ini tidak memungkinkan.


"Aku tidak bisa menjelaskannya lewat telepon Bu, segera datanglah ke rumah sakit yang berada di jalan X."


"Baik, Ibu akan kesana." 


Selang beberapa lama telepon terputus, Adam melihat ibunya yang berlari menghampirinya. Ada sebuah harapan di kala sang ibu menemaninya, beban yang berat tentunya di bagi kepada ibu tercinta.


"Aku bersalah Bu." 


Wanita paruh baya itu menyerngitkan kening, tidak paham maksud dari perkataan anaknya, dia begitu penasaran dan kembali bertanya apa yang terjadi. 


Adam menceritakan apa yang membuat mereka bertengkar, dan menyebabkan Mawar terbaring di atas brankar tak berdaya dan juga menjelaskan secara detail tanpa ada yang terlewatkan. 


"Apa? Terus bagaimana kondisi cucu Ibu?" 


"Ibu lebih mengkhawatirkan cucu Ibu dibandingkan Mawar?" Adam Tak habis pikir, mengapa ibunya itu selalu berambisi pada seorang cucu.

__ADS_1


"Tentu saja Ibu lebih mengkhawatirkan cucu Ibu yang belum lahir itu ketimbang memikirkan Mawar, apa gunanya dia."


"Ibu egois sekali hanya memikirkan cucu yang belum lahir."


"Terserah apa yang kamu pikirkan tentang Ibu, tapi satu hal yang kamu harus ingat, jangan sampai cucu Ibu itu kenapa-napa."


"Ibu egois. Ambisi Ibu kepada cucu laki-laki menghancurkan hubungan ku dan Luna, sekarang Ibu juga ingin menghancurkan hubunganku dan Mawar?"


"Kenapa tidak? Selama itu berhubungan dengan cucu laki-laki."


Ketika mereka berdebat, tiba-tiba seseorang yang mengenalkan jas putih keluar dari bangsa tempat Mawar dirawat. Adam dan ibunya buru-buru mengerubungi dan bertanya mengenai kesehatan pasien. 


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" 


"Bagaimana kondisi janinnya, Dok? Apa tidak ada masalah pada janin yang dikandung menantuku kan?" 


Adam melihat jelas kalau dokter itu menghela nafas berat, pada berita yang buruk harus diterima olehnya dan menguatkan mentalnya terlebih dulu. 


"Pasien baik-baik saja, tapi janinnya tidak bisa tertolong." 


"APA? Kenapa calon cucuku, Dok? Harusnya kau selamatkan cucuku daripada wanita itu." Pekik ibu Adam yang menarik kerah leher sang dokter, tak terima dengan kabar kehilangan cucu laki-laki nya.

__ADS_1


__ADS_2