Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Dia calon istriku


__ADS_3

"Biru."


Aku menegakkan kepala saat nama mas Biru di sebut oleh seseorang, melihat seorang wanita cantik yang berjalan menghampiri. Aku sedikit terkejut melihat wanita itu menghamburkan pelukannya pada kekasihku, ada rasa marah namun aku masih melihat suasana dan juga tempat.


Sedikit ada rasa sedih di hati, aku dan mas Biru terpaksa menyembunyikan hubungan kami di hadapan publik. 


"Akhirnya kamu sampai juga." 


Aku menoleh ke samping, tampak mas Biru diam membeku juga sama terkejutnya denganku. "Jangan memelukku di depan banyak orang!" kecam nya tegas. Akhirnya pelukan itu terlepas bersamaan wajah cemberut dari nona Indri. 


Dia menatapku sinis karena melihat keberadaanku yang datang bersama mas Biru, namun aku tidak memperdulikan itu, ada hal yang lebih penting daripada ini. Ya, aku melihat keberadaan nyonya Kejora dan tuan Bintang. Aku bergidik ngeri saat pelototan mata langsung tertuju padaku, aku bisa menebak kalau nyonya Kejora memandangku tak suka sama seperti nona Indri. 


"Dia ikut bersamamu, Biru?" tanya Indri menatap Biru intens dan sesekali melirik ku. 


"Memangnya kenapa?" 


"Gak pantas seorang pembantu berada dalam acara ulang tahunku." 


Awalnya aku terkejut saat mas Biru menggenggam tanganku, lalu tatapan kami bertemu sepersekian detik. 


"Kalau kehadiran Luna membuatmu tidak suka, aku akan pergi dari acara ini." 

__ADS_1


Mendengar pembelaan dari mas Biru membuat hatiku luluh, begitu cintanya dia padaku? 


"Nona Indri benar Mas, sebaiknya aku pergi saja." 


"Kamu tidak boleh pergi tanpa ku, Luna!" 


Mendengar hal itu menyulut emosi nyonya Kejora, Indri, dan nyonya Mehta karena mereka sudah merancang acara pertunangan dengan sangat apik. 


"Biarkan saja pembantu itu di sini." Ucap Mehta tak ingin acara putrinya menjadi kacau. 


Di saat semua orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun, tiba-tiba tanganku di tarik paksa tanpa di ketahui oleh mas Biru. 


"Kamu pakai pelet apa pada putraku, hah?" bisik nyonya Kejora membuatku kaget.


"Benarkah? Mengapa Biru selalu membelamu, hah? Kamu tahu acara ulang tahun ini?"


"Apa maksud Nyonya?" Aku menyerngitkan dahi sambil menatapnya bingung. 


"Mulai sekarang kamu jauhi Biru, karena malam ini adalah acara pertunangannya dengan Indri. Dia gadis yang cantik dan juga berpendidikan tinggi, level kasta kami sama dan kamu jangan berandai-andai bisa menikahi Biru anakku." 


Aku menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, inilah saatnya aku membela cinta dan berjuang bersama mas Biru. "Sepertinya aku tidak bisa menjauh dari anak Nyonya."

__ADS_1


"Seorang pembantu jangan memiliki impian menjadi nyonya." 


Aku melihat keangkuhan di diri Nyonya Kejora, tapi hal itu tidak akan membuatku mundur karena mas Biru juga memperjuangkan hubungan ini.


Aku mengangkat tangan dengan sengaja memperlihatkan cincin putih yang terselip di jari manis, senyuman tipis di wajahku melihatnya begitu terkejut karena mengerti arti dari maksudku.


"Nyonya bisa melihat ada cincin yang terselip di jari manisku, ini pemberian dari anakmu yang telah melamarku." 


"Dasar pembantu tidak tahu di untung." 


Plak


Aku terkejut merasakan tamparan begitu keras mengenai pipiku, rasa panas dingin di wajahku tak sebanding dengan rasa malu yang aku terima saat orang-orang mengalihkan perhatiannya pada kami. 


"Apa yang Bunda lakukan?" 


Mas Biru menghampiriku dan memelukku di hadapan semua orang, membuat tiga orang yang merencanakan pertunangan itu menjadi shock. 


"Biru, lepaskan wanita itu!" tegas nyonya Kejora yang meninggikan suaranya. 


"Dia calon istriku, dan tidak akan pernah aku melepaskannya." 

__ADS_1


Ungkapan dari mas Biru membuat semua orang tercengang tak percaya, tapi tidak bagi tuan Bintang yang ku lihat wajahnya tak terkejut sama sekali. 


__ADS_2