
Aku mengelilingi pandangan menyusuri ruangan, menghela nafas berat seraya memikirkan langkah yang akan aku ambil untuk kedepannya. Aku belum memutuskan untuk masa depanku bersama Kanaya, tapi aku menginginkan anakku bahagia bersama denganku sampai dia tidak mengingat ayahnya lagi. Egois, aku memang egois. Rasa sakit di khianati tak bisa ku toleransi, untuk saat ini aku tak akan membiarkan mas Adam mendekati putriku, entah beberapa tahun setelahnya, aku juga tidak tahu.
Perut yang lapar saat menangis tadi, aku melangkahkan kaki menuju dapur setelah memastikan Kanaya tertidur. Sebagai ibu tunggal aku harus merawatnya dengan sangat baik, tidak peduli apa yang akan terjadi padaku. Ya, impianku pada putriku dan berharap dia akan menjadi orang sukses suatu hari nanti.
Aku memasak makanan seadanya, dan menyantapnya untuk mengisi perut yang keroncongan. "Alhamdulillah." Aku bersyukur kali ini masih bisa makan, teringat itu adalah bantuan dari mas Biru. Aku sungguh tidak menyangka, masih ada seorang pria yang katanya mencintaiku sejak lama. Aku tertawa kemudian terdiam setelahnya, mana mungkin aku menerima perasaan tulusnya. Untuk membuka hati cukup berat aku rasakan, apalagi dia pria yang baik dan aku sangat takut kalau dia terbebani dengan traumaku pada seorang laki-laki.
Suara Kanaya yang menangis mengalihkan duniaku, aku segera menghampirinya dan menggendongnya. Berusaha menenangkan anakku itu, aku melirik dokumen identitas diriku di atas nakas. Ku raih dokumen itu dan menatap yakin akan langkahku untuk bercerai dengan mas Adam, walau dia baru mengatakan kata perpisahan yang masih jatuh talak satu untukku.
"Apa aku bisa?" gumamku bermonolog.
Aku berpikir apakah nanti akan ada pekerjaan yang sesuai untukku, tentunya yang bisa membawa Kanaya bersamaku. Kepada siapa aku menitipkan anakku selagi aku bekerja? Aku tidak mengenal siapapun dan tidak punya kerabat. Aku tidak ingin memikirkannya sekarang, yang terpenting mencari pekerjaan demi kelangsungan hidupku dan juga Kanaya.
Sementara di tempat lain, seorang pria selalu tersenyum membuat keluarga merasa bingung akan sikapnya tak biasa. Mereka berpikir kalau pria itu kerasukan jin di pohon cempedak yang tumbuh di kuburan tak jauh dari rumah.
"Bun, anak kita kerasukan kuntilanak ya." Bisik pria paruh baya setelah menyenggol lengan istrinya.
"Bunda juga gak tau, Ayah. Pulang ke rumah modelan nya sudah begitu."
"Wah, ada yang gak beres, Bun. Panggilin ustadz sana, biar Biru di ruqyah."
"Astaghfirullah, masa anak kita kesambet sih."
"Lihat aja tuh, dari tadi Ayah perhatikan Biru senyam-senyum. Apalagi kalau bukan kesambet jin cempedak."
"Ayah ada-ada aja deh. Apa mungkin karena Bunda?"
"Hah?"
"Iya Ayah, Bunda melarang keras Biru untuk tidak merebut istri orang." Terlihat raut wajah cemas memikirkan nasib si anak sulung, dia membingkai wajahnya dengan perasaan was-was. "Ayah, apa mungkin anak kita gila?"
Pletak
__ADS_1
"Sakit Ayah, kebiasaan main sentil kening Bunda." Ujar wanita paruh baya yang cemberut.
"Habisnya Bunda mikirnya aneh-aneh, masa Biru di katain gila."
"Ya Bunda membicarakan apa yang terlihat."
"Gak usah aneh-aneh, Bun."
Seketika telinga Biru merasa memanas mendengar perkataan samar itu, menatap kedua orang tuanya dengan intens. "Ayah … Bunda bicara apa?"
"Apanya?" sahut pria paruh baya yang mengakhiri praduganya dengan sang istri.
"Biru dengar tadi, Ayah dan bunda membicarakan Biru."
"Mungkin kamu salah dengar."
"Bunda dan ayah melihat kamu senyum terus, apa kamu kesambet jin cempedak?" sela sang istri yang menatap anaknya, tentu saja untuk mengakhiri penasarannya.
Seketika kedua mata Biru berkedut mendengar perkataan dari bundanya, padahal dia tersenyum karena mengetahui kalau Luna sudah menjadi janda tapi belum lepas sepenuhnya. "Andai sudah talak tiga, langsung aku nikahi setelah masa iddahnya selesai." Begitulah yang ada di pikirannya.
"Bunda tega ngatain Biru gila, Biru masih waraslah."
"Terus, kenapa kamu senyam-senyum gitu? Bunda dan ayah malah pikir yang lain."
Biru tersenyum lebar semakin membuat kedua orang tuanya penasaran. "Karena suami Luna menjatuhkan talak satu, itu yang membuat Biru bahagia."
"Astaghfirullah … ya Allah, orang pisah kok kamu malah senang."
"Luna wanita yang Biru cintai, Bunda. Wajar kalau Biru bahagia menunggu jandanya."
Plak
__ADS_1
Suara tamparan yang begitu nyaring terdengar, sedikit menggema di ruangan itu. Biru sangat terkejut bukan kepalang, melihat bunda yang sangat dia sayangi menamparnya tanpa memperhitungkan terlebih dahulu. Tidak ada amarah di hati melainkan rasa jengkel, mengusap pipinya yang terasa sakit juga meninggalkan bekas.
"Bunda." Rengek Biru seperti seorang anak kecil, namun rengekannya itu tak di dengarkan.
Wanita paruh baya yang bernama Kejora itu mengangkat kelima jarinya sebagai bahasa isyarat agar anaknya berhenti protes. "Apa didikan Bunda selama ini kurang? Bisa-bisa nya kamu bahagia di atas penderitaan orang lain."
"Bukan begitu Bun, Luna bahkan lebih menderita kalau pernikahan itu tetap berlangsung. Suaminya yang sebentar menjadi mantan suami itu membawa wanita lain ke dalam rumah tangga yang ternyata istri keduanya, pernikahan kedua itu di rahasiakan. Naas, ibu mertua Luna mengenalkan wanita yang bernama Mawar sebagai pembantu empat puluh hari selama nifas." Jelas Biru bersemangat.
Seketika pandangan Kejora berubah mengenai Luna, seorang wanita yang membuat putranya tergila-gila bahkan rela menunggu wanita itu menjadi janda.
"Apa?" gumam Kejora.
"Luna wanita yang dulu pernah menyelamatkan Biru dari penculikan, wanita yang selama ini Biru nantikan."
"Sudahlah Bun, Biru sudah dewasa dan biarkan dia menentukan jalan hidupnya sendiri." Ucap pria paruh baya yang bernama Bintang, memegang pundak sang istri dengan sangat lembut.
"Apa kata orang-orang Yah, anak kita merebut istri orang."
"Suami Luna sudah menjatuhkan talak."
"Ya, tapi itu masih talak satu yang bisa rujuk kapan saja." Cetus Kejora yang tetap tidak setuju dengan hubungan anaknya, bukan tidak menyukai Luna tapi dia tidak sanggup melihat putranya sendiri akan di cap sebagai perebut istri orang.
Hanya tersisa Bintang dan juga putranya yang bernama Biru, melihat kepergian sang ibunda tercinta.
"Bunda marah, Yah." Biru terlihat lesu, berpikir bundanya tak memberikan restu.
"Bunda tak masalah dengan wanita pilihanmu, hanya saja status Luna belum lepas dari suaminya."
"Terus Biru harus apa?"
"Yakinkan bunda mu dan juga wanita itu."
__ADS_1
Seketika senyum kembali merekah di wajah tampan milik Biru. "Ide yang bagus, aku akan memaksa Adam menceraikan Luna sampai talak tiga." Ujarnya begitu bersemangat, melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu.
Seketika itu pula kedua mata Bintang berkedut, tidak menyangka putranya begitu pintar sampai dia sendiri tak bisa memprediksi. "Dia sangat pintar, lebih tepatnya bodoh. Mengapa aku bisa mempunyai putra sebodoh Biru?"