Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Sosok Mutia


__ADS_3

Aku membuka kedua mata secara perlahan, merasakan tangan seseorang melingkar di pinggangku. Aku tersenyum saat tahu itu adalah suamiku, Mas Biru. Sungguh, aku merasa tidak tega menyuruhnya untuk berpuasa selama seminggu. 


Aku berbalik dan menatap wajahnya yang tampan, dengkuran halus terdengar jelas. Aku tersenyum mendapatkan seorang pria yang benar-benar tulus, berharap ini menjadi pelabuhan terakhirku. 


"Kamu curang." 


Aku terkejut saat mas Biru mencium keningku, aku pikir dia belum bangun jadi aku puas memandang wajahnya. 


"Maaf Mas, hasratmu tidak bisa terpenuhi." Aku menatapnya dengan raut wajah memelas, ini juga bukan keinginanku. 


Cup


Ciuman itu berakhir di bibirku, merasa kalau aku sangat di cintai.


"Aku bahkan sampai menunggu jandamu, satu minggu tidak akan jadi masalah besar. Hanya saja__."


Perkataan mas Biru terputus membuatku menelan saliva dengan susah payah, terlihat jelas seringaian tipis darinya. "Hanya saja apa Mas?" aku menatapnya curiga. 


"Pelayananku harus VVIP." 


Aku menyerngit kening, berpikir apa yang akan dia lakukan nanti padaku. Aku sedikit terkejut saat tubuhku sudah berada di bawah mas Biru, semakin membuat suasana pagi seperti menaiki roller coaster. Mata kami saling menyatu, terasa getaran yang membuat jantungku berdetak lebih kencang, hal yang sama juga terjadi pada mas Biru. 


Beberapa menit kemudian, mas Biru segera beranjak dari atas tubuhku. Aku tahu penyebabnya, apalagi ku lihat suamiku itu berlari menuju kamar mandi. 

__ADS_1


Walau sekarang aku bukan lagi pembantu, tetap saja sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah terutama memasak untuk semua orang. 


Aku menggendong Kanaya sambil melayani suamiku, mengambilkannya sarapan. Aku tersenyum bahagia, apalagi melihat keluargaku begitu lahap memakan makanan yang aku buat, rasa lelah terbayarkan dengan sempurna.


****


"Dam, rumah kamu kok berantakan sih. Mutia mana?"


"Ada di dalam kamarnya, biarkan sajalah Bu."


"Memangnya kamu gak capek, tiap hari bekerja dan pulangnya langsung membereskan rumah, juga memasak."


Adam mendelik kesal, sejujurnya dia juga tak tahan dengan sikap istri mudanya yang selalu perawatan tanpa pernah membersihkan rumah atau memasak. "Ini kan yang Ibu mau, nanti Mutia juga akan ngasih cucu laki-laki." 


Tiba-tiba terbesit di pikiran Adam mengenai istri pertamanya Luna, entah mengapa wanita yang dia pilih lebih sempurna di bandingkan Mawar juga Mutia. 


"Luna masih yang terbaik, dari sekian istriku tapi dialah yang paling sempurna, hanya satu yang tidak bisa dia berikan, yaitu cucu laki-laki." 


"Memang Ibu akui kalau Luna yang terbaik, dia mengurus semua keperluanmu dengan baik. Tapi tetap saja dia punya kekurangan." 


"Aku dengar dia sudah menikah dengan pria itu." Ucap Adam sedikit sedih mengenai kabar sang mantan istri. 


"Ah, yang benar kamu Dam. Jangan-jangan pria itu di guna-guna lagi sama si Luna, kasihan keluarga pria itu harus mendapatkan menantu janda." 

__ADS_1


"Ya sudahlah, Adam berangkat kerja dulu." 


"Iya, hati-hati!"


Wanita paruh baya itu sangat geram melihat kondisi rumah seperti kapal pecah, sangat berantakan. Dia bergegas menghampiri menantu muda di dalam kamar yang masih tertidur. 


Dengan cepat dia menyentak selimut dan menatap menantunya tajam. 


"Rumah kayak kapal pecah tapi kamu malah enak-enakan tidur, bereskan rumah dan masak!" pekiknya. 


"Apa sih Bu, ganggu aja deh." 


"Lakukan pekerjaan rumah!" 


"Ogah, memangnya aku pembantu apa, kalau mau ibu kerjakan sendiri." 


"Oh … berani kamu ya." 


Keduanya terjadi percekcokan dan tentunya di menangkan Mutia, dia menunjuk mertuanya dengan tatapan membunuh. 


"Aku penguasa di rumah ini, mulai sekarang Ibu yang akan bersih-bersih juga memasak. Jangan coba-coba mengadu pada masa Adam, atau aku akan membunuh Ibu tanpa ragu." Mutia tertawa saat pisau lipat sengaja di mainkannya menyentuh leher sang ibu mertua. 


Tidak ada yang tahu, kalau Mutia wanita yang berbahaya, wanita berdarah dingin.

__ADS_1


 


__ADS_2