
Aku menaburkan bunga di atas pemakaman bunda Kejora, isak tangis yang menemani hari berduka ki, mas Biru dan juga Putih. Kami sangat sedih dengan kepergiannya yang begitu cepat, aku berusaha tegar dan kuat untuk mereka.
"Ayo kita pulang!"
"Hem."
Saat kami pulang, ku edarkan pandangan di setiap sisi ruangan yang masih menyimpan kenangan bunda Kejora. Aku yang baru menjadi bagian keluarga merasa kehilangan, apalagi suami dan juga adik iparku yang sampai saat ini belum berbicara sedikitpun.
Setelah Kanaya ku beri ASI, dia langsung terlelap. Aku menghampiri suamiku agar tidak terlalu menyalahkan diri, berusaha agar dia bisa menerima keadaan ini.
"Mas."
"Tinggalkan aku sendiri, sebentar saja." Pinta mas Biru membuatku menganggukkan kepala.
"Baik Mas."
Aku keluar dari kamar menuju ke kamar Putih, ku ketuk dan memanggil namanya berharap segera keluar dari kamar.
"Iya Kak."
Aku bernafas lega karena Putih mau membukakan pintu, aku memeluknya untuk menguatkannya.
__ADS_1
"Aku gak apa-apa Kak, aku sudah menerima kepergian Bunda."
"Kamu kuat, Dek." Ucapku sembari melepaskan pelukan.
"Bagaimana keadaan kak Biru?"
Aku menggelengkan kepala. "Masih sama, mas Biru menyalahkan dirinya."
"Kakak tenang saja, kak Biru bisa mengatasi hatinya. Berikan saja dia waktu," ucap Putih yang berbalik menenangkan aku.
"Iya."
****
"Kamu siap Mas?" tanyaku menatapnya beberapa detik untuk meyakinkan kesiapannya bertemu dengan saudari beda ibu, tentu saja datang dan meminta maaf demi almarhumah sang ibunda.
Aku menekan bel rumah Iren, berharap dia mau menerima kedatangan kami yang tiba-tiba. Tak butuh waktu lama, akhirnya kami bertemu dan di persilahkan untuk masuk, walau suaranya terdengar ketus.
"Apa tujuan kalian datang kesini?"
"Bagaimana kondisi tangan dan kepalamu?"
__ADS_1
"Gak perlu basa-basi Lun, apa niat kalian datang ke rumahku."
"Kami ingin memberitahukan mengenai kondisi mertuaku."
"Hanya itu, gak penting."
Mas Biru yang awalnya menundukkan kepala memberanikan diri untuk datang meminta maaf dan menjalankan silaturahmi sesama saudara.
"Mereka mengalami kecelakaan seminggu yang lalu, kondisi ayah masih di rawat di rumah sakit. Jenguklah dia bila kamu sempat."
"Heh, apa peduliku. Dia tidak pernah memperdulikan aku." Sarkar Iren.
"Sekaligus … aku ingin minta maaf mengenai perbuatan bundaku pada mu dan juga ibumu." Biru menyatukan kedua tangannya, memohon dan berharap mendapatkan ampunan untuk mengurangi timbangan dosa sang bunda tercinta.
"Kenapa harus kamu yang datang meminta maaf? Bukan dia sendiri."
"Karena Bunda ku sudah meninggal dunia, jadi aku ingin meminta maaf mengenai masa lalu untuknya."
"Tidak akan aku maafkan dia, walaupun sudah mati. Rasa sakit puluhan tahun masih ada sampai sekarang." Balas Iren yang menutup hatinya.
"Apa yang hendak kamu raih di dunia ini Ren? Aku akui bunda selama ini sangat kejam pada mu dan juga ibumu, kesalahannya tak bisa di maafkan. Dendam di hati hanya akan merusak pikiran dan juga hubungan, kita lupakan apa yang terjadi." Tutur mas Biru.
__ADS_1
Iren yang awalnya menolak untuk berdamai merasa simpati dan juga merasakan ketulusan yang diucapkan oleh Biru, apalagi dia dan Luna adalah teman. Masalah dendam tidak akan selesai sampai ada salah satunya yang mengalah. Perlahan dia mencoba untuk melupakan apa yang pernah dilakukan bunda Kejora kepada ibunya, karena karma yang langsung dibayar kontan.