
"Aku harap dia benar-benar pergi dari kehidupan Luna dan Kanaya, dan akhirnya akulah yang menang. Apa yang tidak bisa di beli dengan uang? Hanya nyawa saja yang tidak bisa di beli." Batin Biru yang tersenyum kemenangan tanpa di ketahui oleh orang lain.
Kepintaran dan kelicikan adalah dua hal yang sangat berbeda, tapi jika dua kata itu di gabung sangat menggambarkan sosok Biru. Demi cinta dia rela melakukan apapun, termasuk menunggu Luna yang sekarang sudah menjadi janda.
Aku, Kanaya, dan mas Biru sudah sampai ke rumah mewah. Kami masuk ke dalam dan aku melihat nyonya Kejora bersama suaminya tengah bersantai di ruangan keluarga.
"Assalamu'alaikum." Ucap kami kompak.
"Wa'alaikumsalam."
"Bagaimana? Kamu memenangkan kasusnya?"
"Tanpa aku katakan Ayah pasti sudah tahu, dia tidak akan bisa melawanku." Jawab Biru tersenyum sumringah, sangat berbeda dengan raut wajah yang di perlihatkan oleh bunda Kejora.
__ADS_1
"Sombong sekali kau, wahai anak muda."
Aku ikut tertawa mendengar lelucon receh dari Tuan Bintang, ayah dan anak itu memiliki hubungan yang sangat dekat. Interaksi dari keluarga yang cukup hangat dan juga harmonis, ketika aku mengingat nasibku yang tidak mempunyai keluarga. Kemudian aku menatap Kanaya yang hanya memiliki aku sebagai ibunya. Tak terasa air mata menetes, aku segera menyekanya agar tidak di ketahui orang lain, jika sekarang aku tengah bersedih.
Aku melamun untuk beberapa saat memikirkan bagaimana nasib dari Kanaya jika aku pergi dari dunia ini, apakah mas Adam mau merawat dan membesarkannya. Aku yang mulai tersadar itu menepis semua praduga buruk dengan pikiran positif.
"Kenapa kamu melamun saja? Cepat selesaikan pekerjaanmu." Perintah nyonya Kejora sedikit membuatku terkejut, nadanya terdengar ketus.
Aku menganggukkan kepala, dan pergi dari sana dan membawa Kanaya menuju kamar. Seperti biasa aku menidurkan anakku terlebih dulu, barulah aku beberes rumah seperti pembantu pada umumnya. Entah mengapa nyonya Kejora tidak menyukaiku, mungkin karena aku yang sekarang telah menyandang status janda.
"Dia memang wanita yang baik, tapi aku tetap tidak bisa menyukainya."
"Bunda." Rengek Biru.
__ADS_1
"Stop. Walaupun dia sudah janda, mana mungkin aku merestui anak perjakaku padanya."
Biru hendak protes tapi di tahan oleh ayahnya, memberikan isyarat agar dirinya tidak memaksakan keadaan itu sekarang.
Kepergian Bunda Kejora membuat Biru menghela nafas berat, menatap ayahnya dengan raut wajah sedih. "Ayah lihat sendiri, bagaimana Bunda. Apa masalahnya sekarang? Luna sudah lepas dari suaminya dan hanya menunggu masa iddah selesai."
"Kita tidak bisa menyepelekan hal ini, Bunda tidak menyukai Luna. Kamu pasti sangat mengenal Bunda mu itu, cukup sulit mengubah keputusan."
"Lalu, Biru harus apa?"
"Yakinkan bunda mu dengan memperlihatkan sisi Luna, berharap bunda terkesan dan menerimanya."
Aku yang tak sengaja mendengar hak itu diam di tempat seakan terpaku, aku sedih karena wanita paruh baya itu masih belum bisa menerimaku. "Sepertinya aku harus pergi dari sini. Aku tidak ingin merusak keluarga harmonis ini." Gumamku di dalam hati.
__ADS_1
Aku ingin hidup mandiri bersama Kanaya, sudah banyak mas Biru dan keluarganya membantuku setiap aku kesulitan. Aku akan pergi dan mengemasi semua barang-barang ku dan membawa Kanaya bersama setelah menyelesaikan pekerjaanku ini.