
"Sudah baikan Mas, terima kasih." Aku tak berani menatap matanya yang mampu menghipnotisku, perhatian kecil itu berhasil membuat sebuah getaran yang aku sendiri belum memastikannya. Apakah aku mulai mencintainya atau sekedar ketertarikan biasa, perasaan itu sangat berbeda saat bersama mas Adam dulu.
"Pasti hal ini membuatmu tertekan, bagaimana kalau kita jalan-jalan?"
Sebelah alis ku terangkat, menatap mas Biru yang tiba-tiba saja mengajakku. "Jalan-jalan?"
"Iya. Aku akui perkataan bunda membuatmu merasa terbebani, untuk itulah aku mengajakmu jalan-jalan."
Aku berpikir beberapa saat, apakah nyonya Kejora memperbolehkanku untuk pergi dengan anaknya, mas Biru? Aku takut malah menimbulkan masalah baru yang aku semakin di benci.
"Bunda gak marah kok, aku jamin." Ujar Biru yang meyakinkan, dia tersenyum santai menghadapi masalah sepele. Pastinya dia melibatkan ayah Bintang untuk mencegah hal buruk terjadi. "Wow Biru, ternyata kamu pintar dan juga licik. Hah, sebuah prestasi yang menurun dari ayah sangatlah berguna." Ucapnya di dalam hati.
"Iya Mas, aku mau."
"Bagus."
****
Aku sangat malu dengan penampilanku yang sangat jauh dari mas Biru, pasalnya dia merubah penampilan sederhana itu menjadi sangat berkelas semenjak mulai bergabung dengan bisnis keluarganya secara turun-temurun.
__ADS_1
Aku yang menggendong Kanaya dan mas Biru di sebelahku membuat orang lain merendahkanku, mereka berbisik-bisik dan aku mendengarnya samar. Penampilanku yang lusuh itu semakin membuat aku minder dan sengaja berjalan di belakang mas Biru. Namun aku terkejut saat dia memegang tanganku di hadapan publik membuat orang lain sama terkejutnya denganku, pasalnya mereka tidak percaya kalau cerita Cinderella benar ada di dunia nyata.
"Mas, ini tidak perlu."
"Apa yang tidak perlu? Sepanjang perjalanan mereka selalu saja meremehkanmu. Ayo ikut aku!"
Tanganku di tarik mas Biru dan membawaku ke salah satu toko di pusat perbelanjaan, aku yang tidak enakan berusaha untuk menghentikannya. "Mas, kita mau apa?"
"Merubah penampilanmu. Aku ingin lihat bagaimana mereka memuji kecantikanmu dan semakin iri."
Aku hanya pasrah dengan perkataan mas Biru, dia mengambil alih Kanaya dan memintaku mencoba satu persatu gaun. Aku sangat shock melihat harga yang tertera, membuatku tak bisa berkedip.
"Ada apa? Mengapa gaun itu belum kamu coba?"
Aku datang menghampiri mas Biru, mungkin saja dia lupa melihat harga gaun. Salah satu karyawan toko melihatku yang sedikit gugup, segera aku berbisik di telinga mas Biru.
"Mas pasti lupa lihat harga gaunnya."
"Harganya? Aku tidak peduli harganya, kamu coba saja dulu."
__ADS_1
"Tapi Mas …."
"Hari ini aku mentraktirmu sebagai bentuk permintaan bunda yang susah menyinggung perasaan mu."
"Baik Mas, tapi jangan salahkan aku kalau kamu rugi nantinya."
Seketika itu pula tawa mas Biru pecah, aku tersenyum dan kembali masuk ke ruang ganti.
"Dia sangat unik, sangat sempurna menjadi istriku." Batin Biru menatap punggung Luna yang sudah menghilang dari pandangan.
"Bagaimana Mas?"
Setelah beberapa saat, Biru yang tengah menggendong Kanaya langsung menoleh ke sumber suara.
"Ya Tuhan, dia sangat cantik menggunakan gaun itu, bahkan wajahnya saja belum di riaa tipis." Biru menatap Lun penuh kekaguman, bahkan dia tak berkedip sedikitpun.
"Mas?"
"Eh, kamu sangat cantik Luna. Bagaimana kalau kamu mencoba pakaian pengantin?"
__ADS_1
"Hah?" kedua dahiku berkerut mendengar lelucon mas Biru. "Mas, bisa saja."