Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Siapa bosmu?


__ADS_3

Kepulangan Adam di sambut oleh Mawar selaku istri keduanya yang sebentar lagi menjadi istri satu-satunya, senyum merekah saat melihat suaminya. Tapi senyum itu perlahan memudar, begitu banyak bekas di wajah membuatnya datang menghampiri. 


"Ada apa dengan wajahmu, Mas?" tanya Mawar sangat cemas dengan kondisi suaminya. 


"Bukan apa-apa." Adam menepis tangan Mawar yang hendak memeriksa luka lebam di wajahnya, dia masih kesal pada istrinya yang ikut terlibat dalam semua ini. 


"Mas." Rengek Mawar mulai kesal dengan sikap Adam yang mendiaminya, sangat dingin dan mengatakan sesuatu bila seperlunya saja. "Kok kamu gitu sih." 


"Jangan membuat ku semakin pusing, pergilah dan biarkan aku sendiri." Usir Adam, dia sangat kesal dengan Biru yang sudah merebut Luna darinya. Dia tidak akan tinggal diam atas penghinaan itu dan pastinya memanfaatkan kelemahan Luna, sungguh dia tidak rela kalau istri pertama yang sudah dia talak bersama dengan seorang pria yang lebih muda darinya dan memiliki wajah yang tampan. Secara fisik dia kalah, tentu saja menggunakan akal liciknya agar memenangkan semuanya. 


Mawar enggan untuk pergi, dia yang cemas tak sengaja menyentuh bekas luka membuat Adam meringis kesakitan.


"Kenapa kamu masih di sini? pergilah, mengganggu saja." Cetus Adam kesal.


"Oh aku tahu, kamu pasti menemui Luna, benarkan? Itulah yang membuatmu marah-marah tidak jelas. Ingat ya mas! Luna sudah bukan istrinu lagi, sebaiknya kamu urus perceraian kalian." 


Prank


Adam yang tidak bisa meredam amarah dengan sengaja melempar vas bunga yang ada di jangkauannya, menatap Mawar tajam. 


"Kamu bisa diam tidak? Diam atau pergilah!" Adam meninggikan suara membuat Mawar tersentak kaget. 


"Mas kok begitu," Mawar meneteskan air matanya, bentakan itu membuatnya menangis. Semenjak hamil hatinya sensitif dan selalu ingin dekat dengan Adam. 


Adam mengusap wajahnya dengan kasar, Mawar yang begitu sensitif membuatnya tak tega. Apalagi ibunya memintanya untuk menjaga istrinya yang tengah hamil dan diperkirakan jenis kelamain calon bayinya adalah laki-laki, penerus keluarg. 


Adam menghela nafas panjang dan mengalah, membujuk Mawar agar tidak bersedih. "Aku minta maaf, aku banyak pikiran sampai lupa menjaga perasaanmu." 

__ADS_1


 


Mawar tetap menangis membuat Adam semakin frustasi, mengacak-acak rambut karena berurusan dengan istrinya itu tak ada habisnya. Sangat berbeda dengan Luna, wanita mandiri saat hamil dan bahkan hampir tidak membuatnya frustasi. 


"Aku sudah meminta maaf, apalagi sekarang?" 


"Mas minta maafnya tidak sungguh-sungguh." 


Adam membuang nafas panjang dan menatap Mawar, memperlihatkan senyuman lebar yang di buat-buat. "Mawar sayang, Mas minta maaf ya. Mas janji gak akan membentak lagi." 


"Janji!" 


"Mas janji." Adam tersenyum menghibur istrinya yang merajuk, memeluk sesuai dengan perkataan ibunya waktu itu. Ya, ibunya tidak ingin kalau sampai Mawar stres karena ulahnya, dan pasti akan menyalahkannya bahkan yang lebih parah mencoret namanya dari ahli waris. 


Pelukan itu tak berlangsung lama di saat kedatangan pria asing yang tidak dikenal oleh mereka tiba-tiba masuk kedalam rumah, Adam terpaksa melepaskan pelukan itu dan menatap pria asing langsung dengan penuh penyelidikan. Dia melirik Mawar yang duduk di sebelahnya, mereka sama-sama bingung dengan orang yang tidak di kenal.


"Seperti ini kita tidak saling mengenal siapa anda?" kini giliran Mawar yang bergantian menyelidiki dengan bertanya pada pria asing tersebut.


"Kalian memang tidak mengenalku, tapi aku sangat mengenal kalian."


"Apa yang membuatmu datang kemari?" Adam yang tidak menyukai kehadiran orang asing menahan dirinya agar tidak membuat kekacauan, tentu saja mendengarkan alasan orang itu terlebih dahulu.


Pria asing yang menggunakan kemeja putih melempar berkas di atas meja dengan angkuhnya, sesuai dengan perintah dari bosnya. 


"Apa itu?" 


"Buka saja." 

__ADS_1


Adam sangat penasaran, meraih berkas itu dan membacanya. Betapa terkejutnya dia saat melihat isi berkas yang ternyata surat perceraian, melempar berkas itu ke atas meja tanda dia tidak setuju. 


"Aku tidak akan menandatangani surat cerai itu." 


"Tapi anda harus menandatangani surat itu."


Mawar terkejut bukan karena surat itu melainkan orang yang membawa surat perceraian, penampilan dari pria yang memakai kemeja putih sangatlah tidak biasa, dia mulai berpikir bagaimana Luna bisa membayar orang itu yang pastinya sangat mahal. Hingga dia ingat pada seorang pria yang selalu membantu kakak madunya itu, tapi seingatnya pria itu hanyalah orang biasa dan berharap bukan Biru orangnya.  


"Bagaimana mungkin Luna mampu membayar orang ini," batin Mawar sembari melirik pria yang mengenakan kemeja putih yang duduk di hadapan.


"Aku tidak ingin menandatangani surat perceraian itu, sebaiknya pergilah dari rumahku."


"Mas sudah menjatuhkan talak kepada Luna, apa salahnya menandatangani surat perceraian itu. Cukup mudah, hanya mencoret kertas yang dilapisi materai." Bujuk Mawar yang meyakinkan suaminya, karena dia hanya ingin menjadi istri satu-satunya tanpa perlu menjadi istri kedua. 


"Tapi aku tidak bisa menandatangani surat perceraian." 


"Kenapa Mas tiba-tiba berubah? Mau aku adukan pada ibu," ancam Mawar yang melototi suaminya agar menuruti kemauannya. 


Menjadi istri satu-satunya merupakan impiannya, apalagi Adam orang yang berada. Mana mau dia dengan seorang laki-laki miskin apalagi sampai hamil, yang ada di otaknya hanyalah uang dan uang. 


Adam yang mendengar ancaman dari Mawar kembali meraih berkas perpisahan itu dan menandatanganinya segera mungkin, jujur saja dia sangat kesal dan juga marah tapi tidak berdaya.


"Luna tidak mungkin sanggup membayar anda, siapa yang ada di belakangnya?" tanya Mawar yang begitu penasaran.


"Bosku akan melakukan apapun demi wanita yang bernama Luna."


"Tapi siapa bosmu?"

__ADS_1


"BIRU."


__ADS_2