
Akhirnya aku bisa memeluk Kanaya sepuas hatiku, seharian tidak bertemu membuatku rindu berat pada anakku itu. Aku menatap mas Biru yang tengah tersenyum melihatku teramat bahagia, kebahagiaan yang sederhana.
"Terima kasih, Mas sudah banyak berkorban untukku dan juga Kanaya."
"Apapun untuk calon istriku."
Aku mulai mengingat apa yang terjadi padaku, Indri lah yang menghantam kepalaku saat aku lengah.
"Mas, bagaimana dengan nasib nona Indri?" Aku tahu persis bagaimana mas Biru, dia pasti tidak akan tinggal diam untuk mendapatkan keadilan ku.
Perlahan, tangan kekarnya membelai lembut rambut berantakan ku. Dia tersenyum tanpa memberitahuku apa yang terjadi kepada nona Indri.
"Jangan pikirkan itu, mari kita pulang!"
Mendengarnya aku sedikit ragu, nyali ku menciut saat mendengar rumah yang bukan milikku. Menentang nyonya Kejora pasti aku tak akan mendapatkan restu.
Lamunanku terhenti saat pintu terbuka, melihat sosok suami istri yang berjalan menghampiri kami.
"Tuan … Nyonya!" aku berusaha untuk duduk, tapi mas Biru mencegatku dan membiarkanku kembali berbaring saat Kanaya kembali di ambil alih oleh baby sitter.
"Bagaimana kondisi mu?"
__ADS_1
"Aku sudah baikan Tuan."
"Hem, syukurlah."
"Ayah … Bunda?"
Aku melihat mas Biru menatap kedua orang tuanya penasaran, aku bisa menyimpulkan kalau dia tidak tahu menahu atas kedatangan ayah dan bunda nya itu.
"Ayah kesini untuk memastikan keadaan Luna dan ada hal yang ingin di bicarakan oleh bunda mu."
"Ya sudah, bicarakan saja!"
"Tidak Biru, biarkan bunda dan Luna bicara empat mata."
Tinggallah aku dan nyonya Kejora di ruangan ini, tatapannya tak lepas dari ku membuatku sedikit gugup jika dia terus saja menatapku begitu.
"Ada apa ya Nyonya?"
Aku sangat-sangat terkejut dan tidak menyangka kalau nyonya Kejora tiba-tiba menghamburkan pelukannya, dia memelukku sambil menangis meminta maaf. Awalnya aku heran, tapi setelah dia mengakui kesalahannya dan juga menghalangi cinta ku dan mas Biru.
"Aku minta maaf padamu, selama ini aku tidak bersikap baik dan bahkan menganggapmu sebagai musuh."
__ADS_1
Aku tersenyum tipis dan terbawa suasana itu dengan membalas pelukannya, apa itu artinya aku dan mas Biru mendapatkan restu dari nyonya Kejora? Entahlah, sepertinya aku telah mendapatkan lampu hijau.
"Aku tidak memiliki dendam pada Nyonya, dan memaafkan semuanya. Kita lupakan saja, yang lalu biarlah berlalu."
"Terima kasih, maaf karena selama ini aku tidak melihatmu dengan jelas." Ucap nyonya Kejora yang melepaskan pelukannya.
"Aku memaafkan Nyonya lahir dan batinku."
Wanita paruh baya itu segera menyeka air matanya dan tersenyum. "Hah, menangis hanya akan menambah kerutan di wajahku." Mendengarnya membuat kami tertawa, seperti sudah teman yang sangat akrab.
"Tapi Nyonya masih sangat cantik."
"Benarkah?"
"Sungguh." Aku tak tahu sisi lain nyonya Kejora yang ternyata suka akan pujian, aku akan menggunakannya di masa depan di saat keadaan darurat nanti.
"Kenapa kamu masih memangilku Nyonya."
Aku menangkap ekspresi cemberutnya, heran aku harus menjawab apa.
"Lalu?"
__ADS_1
"Dasar konyol, bukankah kamu akan menikahi putraku. Mulai sekarang kamu panggil aku Bunda, atau aku tidak ingin bicara padamu."
"Baik Nyonya, eh … maksudku Bunda." Lidahku masih belum terbiasa mengucapkan kata itu, jadi sedikit gugup untuk mengatakannya pertama kali.