
Aku bersemangat pulang saat dokter sudah memberiku izin pulang, aku menyiapkan dan bersiap untuk pulang. Aku berjalan keluar dari ruangan dan menunggu mas Biru untuk datang menjemput sesuai perkataannya. Aku sudah tidak sabaran untuk pulang, ini seperti mimpi indah disaat mendapatkan lampu hijau dari bunda Kejora.
Ya, sekarang tidak ada masalah lagi untukku dan mas Biru, tidak ada yang menghalangi hubungan kami. Aku sangat bahagia? Tentu saja aku bahagia, di cintai oleh pria yang bernama Biru.
"Mas Biru lama sekali," keluhku sembari melirik jam yang di gantung di dinding, beberapa kali aku selalu melirik benda yang menunjukkan waktu.
Aku sungguh bosan dan memutuskan untuk jalan-jalan, melangkahkan kaki untuk berjelajah di tempat itu untuk beberapa saat sampai mas Biru datang. Pintu yang terbuka di sebuah bangsal lain menarik perhatianku, perlahan aku mendekat dan hendak mengintip.
"Kamu sedang apa?"
Seseorang mengagetkan aku dan dengan cepat mengurungkan niat untuk mengintip siapa yang ada di ruangan itu.
"Mas Biru?"
"Bukannya menunggu malah kelayapan, kamu mau apa di bangsal itu?"
"Gak apa-apa Mas, aku penasaran saja tadi." Ungkapku jujur karena bukan pintu ruangan itu yang menarik perhatianku, tetapi suara berisik dan barang pecah lebih menarik perhatianku.
"Jangan kepo dengan urusan orang lain, yuk pulang! Semua orang sudah menunggu kehadiranmu pulang."
__ADS_1
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala, mengikuti langkah mas Biru yang membawaku keluar dari rumah sakit.
Di sepanjang perjalanan, aku tersenyum saat melihat pemandangan kota. Bukan. itu yang membuatku bahagia, melainkan awal kehidupan menuju kebahagiaanku akan segera hadir. Ya, aku dan Mas Biru sudah merencanakan pernikahan kami. Dulu bunda Kejora yang menentang keras hubungan kami, tapi sekarang dialah yang mengurus segalanya mengenai pernikahan. Sebenarnya aku menginginkan pernikahan sederhana di kantor KUA saja, tapi bunda Kejora tak mengizinkan karena ini menyangkut pernikahan anak sulungnya.
"Cie … yang sebentar lagi menjadi istri orang," ledek mas Biru yang menoleh sekilas ke arahku.
Aku tak bisa menutupi rona di wajahku, tersipu malu sebab mas Biru asik menggodaku di sepanjang perjalanan. Aku cukup beruntung, buah kesabaranku berbuah manis. Aku berharap kalau pernikahan kedua ku dengan mas Biru menjadi terakhir kalinya.
Sesampainya di rumah, kedatanganku dan mas Biru di sambut hangat oleh pemilik rumah. Aku tersenyum bahagia dan segera menggendong Kanaya yang di asuh oleh baby sitter.
"Terima kasih, sudah menjaga Kanaya sewaktu aku tidak ada."
"Ayo masuk!" ajak bunda Kejora.
Kami masuk ke dalam dan aku melangkahkan kaki menuju dapur untuk menyiapkan minuman hangat dan cemilan, tapi niat itu tak tergapai saat bunda Kejora melarangku.
"Biar aku saja, Bun!"
"Kamu belum pulih, Lun. Lagian Bunda sudah sewa jasa pembantu kok, sekarang kamu calon menantu Bunda."
__ADS_1
Aku merasa tidak enak, namun sikap bunda Kejora melunakkan hatiku. "Baiklah Bun."
"Yah, kapan pernikahan Biru dan Luna di langsungkan?"
"Satu bulan lagi."
"Apa? Satu bulan itu lama Yah."
Ayah Bintang yang kesal dengan anaknya, sengaja dia melemparkan bantal kecil yang ada di sebelahnya ke arah sang anak. "Apa anu mu sudah gatal? Sampai ingin segera menikah?"
"Ahh tidak seru, Ayah selalu saja bisa menebak pikiran Biru."
"Kamu lupa? Aku ini Ayahmu dan pasti tahu isi otakmu."
"Kalau Ayah sudah memahamiku, segera tentukan tanggal pernikahan kami."
"Satu bulan cukup untuk membuat persiapan sekaligus resepsinya."
"Itu lama. Aku akan mengurus surat-suratnya mulai dari sekarang dan mendaftar ke kantor KUA, yang penting sah." Ujar Biru bersemangat sementara ayahnya hanya bisa mengelus dada.
__ADS_1