Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Terlambat pulang


__ADS_3

"Mau sampai kapan menyuruh anak buahmu mengintaiki?" ucapan seorang wanita yang menahan amarah di dadanya. 


"Sampai kamu mau memaafkan kesalahanku dan menerimaku sebagai ayahmu." 


Iren tersenyum paksa mendengar perkataan dari ayah Bintang, perkataan yang tidak akan pernah dia lakukan. 


"Mau sampai kamu mati pun tidak akan pernah mengakuimu." 


Bintang berjalan mendekati putrinya, dia tidak menyangka kalau beberapa hari terakhir ini dirinya sudah ketahuan. Rasa penyesalan di hati tak akan mudah di lupakan, dan dia memahami itu. 


"Jangan bicara seperti itu, aku tetaplah ayahmu." 


"Ayah?" Iren tertawa. "Tapi bagiku kamu hanyalah pria yang menanamkan benih di rahim ibuku, kemudian pergi bersama dengan wanita lain." 


"IREN." Sentak Bintang yang tak tahan mendengar kalimat sarkastik dari putrinya. 


"Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Jadi, berhentilah membuntutiku Tuan Bintang." 


Iren melangkah pergi keluar dari cafe, pergi tergesa-gesa tanpa menoleh kebelakang. Tak terasa air matanya menetes, nasib dia dan ibunya sangat tidak beruntung. Segera dia menyeka air mata itu, melangkah masuk ke dalam mobil dan mengendarainya dalam kecepatan tinggi. 


Iren sangat tidak peduli pada dirinya sendiri, rasa ingin bunuh diri tetap saja terpikir di otaknya. 

__ADS_1


"Aarghh … Pria brengsek!" Iren memukul stir melampiaskan kekesalan dan amarah di hatinya, sangat menyakitkan bila melihat keluarganya hancur sementara keluarga si pelakor hidup aman damai. 


****


Aku sangat bahagia karena semua keluarga dari pihak calon suamiku sudah memberikan restu, tidak ada kendala dan aku berharap lancar sampai acaranya selesai. 


Di sepanjang perjalanan, dengan sengaja ku buka jendela mobil taksi, pergi membeli beberapa keperluan Kanaya. 


Namun, lamunanku terhenti saat mendengar suara dering ponsel. Ku keluarkan benda pipih itu dan tersenyum mendapati mas Biru yang menghubungiku. 


"Kenapa tidak bilang mau ke swalayan?" 


"Tenang Mas, aku cuma ke swalayan bukan kabur." Aku terkekeh yang langsung mendengar omelan mas Biru. 


"Maaf Mas, aku perlu beberapa keperluan Kanaya yang sudah habis." 


"Cepatlah pulang, aku menunggumu di rumah!" 


"Baik." 


Setelah sambungan telepon terputus, aku menggelengkan kepala. Mas Biru selalu khawatir yang tidak perlu dan percaya pada mitos mengenai pengantin harus dipingit. 

__ADS_1


"Loh, kenapa berhenti Pak?" aku menyerngitkan dahi saat pak supir menghentikan taksinya.


"Ada kerumunan di sana Neng, sepertinya kecelakaan." 


"Yang benar Pak?" 


"Iya Neng, gak tahu jelas sih." 


Aku segera turun dari taksi dan berlari ke arah kerumunan orang-orang, aku menggelengkan kepala karena tak ada yang membantu dan orang-orang itu hanya merekam di ponsel mereka. 


"Tolong bantu aku!" Aku sangat panik dan meminta beberapa orang pria mengangkat tubuh si korban, memasukkan ke dalam taksi menuju rumah sakit. 


Aku menyandarkan kepala si korban, ku singkirkan rambut penghalang wajah. Kedua bola mataku terbuka lebar saat mengetahui siapa korban yang baru saja mengalami kecelakaan, dan tak lain adalah Iren, wanita yang pernah menyelamatkanku dari pencopet.


Aku sangat khawatir dan juga panik, lupa mengabarkan mas Biru mengenai keterlambatanku untuk pulang. Aku membawa Iren ke rumah sakit terdekat, berharap kecelakaan yang menimpanya tidak parah. 


Beruntung aku memegang sejumlah uang yang diberikan mas Biru, segera ku gunakan tanpa berpikir dua kali untuk menyelamatkan Iren. Aku mengurus administrasinya dan melihat bagaimana dokter menangani pasiennya, menunggu di ruang tunggu untuk menerima kabar. 


"Bagaimana kondisi Iren, Dok?" 


"Lukanya tidak terlalu parah, hanya cedera di bagian tangan dan juga kepalanya. Dia harus di rawat selama lima hari dan baru bisa di rawat jalan." 

__ADS_1


"Baik Dok, terima kasih." 


__ADS_2