Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Janda semakin di depan


__ADS_3

"Bebaskan menantuku!" 


"Membebaskannya? Kejahatan yang di lakukan Mawar sangatlah fatal kalau sampai Luna terlambat membawanya ke rumah sakit." 


"Apa peduliku pada anak haram itu." 


"Diam. Ibu sudah keterlaluan, Kanaya anakku dan cucu kandungmu." Kedua mataku membesar dan memperlihatkan kelima jariku sebagai isyarat agar pembicaraan itu segera di hentikan, tidak ku sangka kalau mantan ibu mertuaku berani mengatakan hal yang sangat buruk. 


"Aku tidak peduli pada anakmu, seorang wanita harus mempunyai anak laki-laki untuk penerus, bukan anak perempuan yang hanya akan menjadi beban keluarga. Aku sangat bersyukur memiliki menantu seperti Mawar, dialah yang akan mewujudkan keinginanku." 


Mantan ibu mertuaku selalu saja membanggakan menantunya, aku hanya diam dan merasa acuh. "Ibu juga seorang wanita, tapi sangat kejam dengan wanita lainnya. Aku tidak masalah kalau Mawar sekarang dipenjara, itu konsekuensi atas perbuatannya. Tapi aku bukanlah wanita yang kejam, aku akan mencoba untuk mengurangi masa tahanannya." 


Aku yang sudah tidak sanggup mendengarkan ocehan mantan ibu mertua yang begitu menusuk dari segala arah memutuskan untuk pergi dari sana, aku menarik tangan mas Biru demi kewarasan. Perdebatan itu tidak akan ada ujungnya, lebih baik aku pergi tanpa peduli teriakannya yang terus memanggil namaku seraya menyumpahiku dengan sangat keji. 


Mas Biru hanya pasrah di saat aku menarik tangannya, aku tak peduli apapun yang di katakan oleh mantan ibu mertuaku dan berusaha mengontrol diri untuk tidak menangis. 


"Apa kamu tidak apa-apa?" 

__ADS_1


"Aku baik Mas." Jawabku tersenyum menutupi semua perasaan sedih. "Sudah banyak Mas Biru menolongku, bagaimana aku bisa membalas semua kebaikanmu, Mas?" 


"Dengan menikah denganku." 


"Mas bisa saja." Aku tertawa mendengar lelucon dari mas Biru, selera humornya sangatlah baik apalagi dalam menghiburku. 


"Aku serius Luna." 


Aku yang tadinya tertawa menjadi diam seribu bahasa, permintaan itu mana bisa terwujud mengingat nyonya Kejora yang tidak merestui kami. Alasan kedua adalah aku masih trauma dengan yang namanya pernikahan, takut pernikahan itu kembali gagal.


"Mengapa kamu diam?"


"Apa tidak ada kesempatan untukku?"


"Aku tidak tahu."


Perkataan dari mas Biru masih terngiang sampai sekarang, apa hebatnya aku hingga dia ingin menikah dengan wanita yang sudah sudah janda dan mempunyai seorang anak. Aku sangat yakin kalau nyonya Kejora tidak akan setuju mengingat statusku, aku sadar diri kalau permintaan dari mas Biru tidak akan pernah terwujud. 

__ADS_1


"Sepertinya aku akan mencoba lagi." ucap mas Biru yang ternyata masih belum menyerah.


Aku tersenyum karena kali pertama aku diperjuangkan, perbedaan status dan juga kasta yang berbeda membuatku tidak ingin berharap terlalu lebih. Jujur saja, aku mulai mencintai mas Biru entah sejak kapan perasaan itu muncul, tapi aku tidak bisa berharap lebih. 


"Maaf Mas, telah membuatmu tersinggung."


"Kamu belum mengenal aku sepenuhnya Luna, hal penolakan itu tidak akan membuatku tersinggung maupun mundur." 


"Jangan berharap hal yang belum pasti."


"Apa kamu lupa? Yang Kuasa-lah bisa mengatur dan membalikkan hati seseorang, kamu selalu ada di setiap doa di sepertiga malamku. Kun fayakun, maka tidak ada yang tidak mungkin terjadi." 


Aku terkejut dengan perkataan mas Biru, ternyata cintanya tidaklah main-main seperti mas Adam.


"Aku sudah menunggumu selama ini, menunggu sebentar saja tidak masalah untukku."


"Tapi kita ini berbeda, nyonya Kejora tidak akan setuju karena statusku janda anak satu."

__ADS_1


"Jangan pikirkan itu, aku lebih mencintai janda dibandingkan perawan." Sahut mas biru yang tertawa untuk mencairkan suasana yang sedikit tegang.


__ADS_2