Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Rahasia mulai terkuak


__ADS_3

Aku sangat merindukan Iren, syukurlah dia selamat dan sudah membaik sekarang. Aku sangat ingin menjenguknya karena semenjak menikah aku belum mengunjunginya, beruntung aku memiliki alamat. 


"Mas, aku berencana hari ini untuk menemui temanku itu bersama Kanaya. Boleh kan?" aku harus meminta izin suamiku, sangat berdosa kalau sampai mas Biru tidak tahu kemana aku pergi. 


Mas Biru yang tadinya sudah bersiap-siap karena ini adalah hari pertamanya menggantikan ayah bintang mengurus usaha di bidang tekstil, menatap wajahnya yang tampan membuatku terpesona sekali lagi. 


Mas Biru menghampiriku dan mengecup bibirku, itulah yang selalu dilakukan olehnya dan aku juga sudah terbiasa menerima keromantisan dari suami baruku. 


"Kamu mau pergi tanpa aku? Tega sekali." 


Aku menghela nafas karena tahu mas Biru sangat pandai berakting, andai dia mengikuti sebuah kontes dan aku yakini dialah menerima piala penghargaan. "Ini hari kamu bekerja, Mas." 


"Iya, aku tahu. Bukan keputusanku, tapi ayah Bintang. Hah, entah masalah apa ayah sampai tega membiarkan aku bekerja padahal masih menikmati bersamamu."


"Mas harus membantu ayah Bintang, perkataan mereka harus dituruti." 


"Bagaimana dengan Rembo ku?" rengek mas Biru seraya memeluk tubuhku dari belakang.


"Rembo?" Aku menyeritkan kening, semenjak menikah dengannya terlalu aku di buat bingung dengan bahasanya yang aneh. 

__ADS_1


"Dia tergantung di tengah kedua paha dalamku, aku menamai Rembo sesuai dengan posturnya. Apa datang bulan mu sudah selesai." 


Aku terkekeh, ternyata mas Biru sangat tidak sabar meminta jatah malam pengantin. Aku mengangguk karena tak mungkin aku berbohong padanya, satu minggu sudah lewat dan akan memberikan pelayanan untuk suamiku. 


"Sudah Mas, aku bahkan sudah bersih sekarang."


"Baiklah, kalau begitu sekarang saja." 


"Mas, apa kata ayah nanti. Malam saja ya, aku janji memberikan pelayanan terbaik yang aku miliki." 


"Sungguh?" raut wajah mas Biru kembali berubah cerah dan bersemangat, aku membalasnya dengan anggukan pelan.


"Aku ikut." 


"Mas yakin?" 


"Tentu saja, dia pernah membantumu di masa sulit, jadi aku mau berterima kasih padanya." 


"Baiklah, Mas boleh pergi tapi hanya sebentar saja." 

__ADS_1


"Iya Cintaku." 


Aku yang menggendong Kanaya, dan di sebelahku ada mas Biru yang fokus pada layar ponselnya. Dia sengaja tak menyetir mengingat waktunya yang sangat sempit sekaligus tak sempat. 


Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di sebuah bangunan yang cukup mewah. Aku memutuskan untuk keluar dari mobil dan diikuti oleh mas Biru, kami sama-sama melangkah mendekati pintu utama yang terbuka lebar. 


Aku menari nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, hendak menekan bel, tapi sangat terkejut mendengar suara teriakan dari dua orang yang bertengkar hebat.


"Pergi kamu dari rumahku, aku tak sudi aku memanggilmu ayah … dasar sialan!" pekik Iren di dalam ruangan. 


Aku dan mas Biru saling melirik satu sama lain, karena kami mendengar suara berisik pertengkaran dari dua orang. Sebenarnya kami tidak ingin ikut campur, tetapi mendengar beberapa pecahan membuat kami memutuskan untuk masuk ke dalam dan melihat apa yang terjadi. 


Betapa terkejutnya Iren dan juga orang yang bersamanya melihat kedatangan kami yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah itu, kami juga tak kalah terkejutnya di saat melihat ayah Bintang ternyata berada di sana bersama Iren.  


"Ayah." 


"Biru … Luna." 


Aku melihat wajah mas Biru menahan amarah, kedua tangan terkepal menatap ayahnya yang selama ini ternyata mengkhianatinya.

__ADS_1


"Ayah harus menjelaskan semua ini, atau aku tidak bisa menghormati Ayah lagi." Ucapan mas Biru yang menekan setiap katanya.


__ADS_2