
Aura yang mencekam jelas terasa, aku bahkan merasa sesak berada satu ruangan. Semua terdiam dan hanyut dalam pikiran mereka, aku pun juga diam karena tak merasa pantas ikut campur dalam urusan yang satu ini.
Suasana tak begitu menyenangkan, aku melirik mas Biru dan juga ayah Bintang masih berkontak mata cukup lama. Aku berharap kalau rahasia besar ini terkuak dengan sendirinya tanpa di sadari, dan aku berdoa semoga saja hubungan keduanya masih membaik.
"Apa Ayah akan diam saja? Jelaskan apa yang tidak aku ketahui." Ucap Biru dengan tegas, menatap ayahnya yang diam saja tanpa berniat mengeluarkan suara.
"Oho, jadi anakmu tidak tahu ini? Malang sekali kalau dia tahu dari pertengkaran tadi." Sela Iren memperkeruh suasana.
"Bisakah Anda diam?" ucap Biru menatap Iren tajam.
Iren tersenyum. "Jangan kurang ajar, ini rumah saya."
"Jangan diam saja Ayah, atau aku bisa salah paham."
__ADS_1
"Hei pak tua, apa sekarang kamu diam saja? Bukankah tadi memaksaku ikut tinggal di rumahmu bersama keluarga mu yang harmonis itu."
Kalimat sindiran dari Iren membuat Biru tidak suka, kalau saja bukan seorang wanita sudah di pastikan dia menghajarnya. "Jaga bicaramu pada ayahku."
"Ya, bandot tua yang kamu sebut ayah juga ayahku." Ungkap Iren yang sudah muak.
Biru kembali menatap ayahnya intens. "Apa bunda tahu mengenai ini?" tanyanya dengan tatapan menyelidik, menyandarkan punggungnya saat mendapatkan respon sang ayah yang mengangguk pelan.
"Jadi selama ini bunda tahu dan cuma aku juga Putih yang belum mengetahuinya?"
"Jadi selama ini kalian menyembunyikan kebenarannya. Ayah, aku mengira kalau ayah pria yang sangat baik tapi mempunyai wanita lain di belakang Bunda. Entah bagaimana perasaan Bunda mengetahui kebenaran yang menyakitkan."
Mendengar perkataan Biru yang masih salah paham, membuat Iren tertawa sambil bertepuk tangan, seakan-akan ibunya yang menjadi perebut.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang salah paham, biar aku jelaskan agar hal ini lebih terbuka. Aku adalah anak istri pertama dari ayahmu, sementara wanita yang kamu sanjung itu adalah istri kedua, yang menjadi perebut perusak keluargaku. Semenjak kedatangan ibumu yang dari desa itu membuat ayahku buta, hingga meninggalkan kami. Ibuku sekarang berada di rumah sakit jiwa, itu hasil perbuatan dari ibumu dan juga bandot tua ini. Sekarang sudah jelas, kalian boleh pergi dari rumahku!" Jelas Iren.
"Apa? Bunda wanita kedua? Jadi selama ini kalian bahagia di atas penderitaan orang lain? Wow, aku terkesan. Ayo Luna, kita pergi dari sini."
Aku sangat terkejut mengetahui kalau temanku itu adalah kakak beda ibu dari mas Biru, ternyata keluarga harmonis di pandang orang lain menyimpan sebuah rahasia yang di tutup rapat. Namun bngkai akan tercium juga, begitupun rahasia yang sudah terkuak.
Sebelum aku pergi, aku memberikan isyarat pada Iren karena aku harus mengikuti suamiku. Aku tahu betapa hancurnya perasaan mas Biru yang kedua orang tuanya menyimpan hal ini, bahkan baru mengetahui kalau sebenarnya bunda kejoralah adalah wanita kedua, menghancurkan kehidupan wanita lainnya.
"Biru, tunggu!" pekik ayah Bintang yang mengejar, tapi tertahan saat dia juga merasa bersalah pada putrinya.
"Keluar dari rumahku, apa Anda tidak dengar?" pekik Iren yang melempar vas bunga hampir melukai ayah Bintang, mendorong dengan kasar dan menutup pintu juga menguncinya.
Ayah Bintang hendak mengetuk pintu, tapi di urungkannya saat mendengar teriakan Iren yang begitu pili terdengar.
__ADS_1
"Maafkan ayahmu Iren." Lirih ayah Bintang yang berlalu pergi mengejar mobil yang di tumpangi oleh anak dan menantunya.