Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Mas Adam tiba-tiba baik?


__ADS_3

Setelah membicarakan kesepakatan mengenai gaji, aku meraih kertas yang sudah berisi daftar pekerjaan yang harus aku selesaikan. Ya, pekerjaan menjadi pembantu rumah tangga. Aku tidak masalah, apapun jenis pekerjaannya aku terima dengan ikhlas dan merasa bersyukur.


"Kamu selesaikan semua yang ada di daftarnya, aku akan mengecek nanti." 


"Baik Nyonya." Aku mengangguk patuh, majikan ku itu terlihat sangat tegas padaku. 


"Oh ya, sebaiknya kamu pindah ke sini saja untuk mengurangi waktu. Kasihan anakmu yang masih bayi itu." 


"Iya Nyonya." Aku tersenyum sekilas, setelah selesai pekerjaan aku pasti sangat di repotkan untuk beberes semua pakaian dan juga barang-barang dan memasukkannya ke dalam koper. Tidak apalah, yang terpenting aku berjuang demi Kanaya. 


"Dan satu lagi …."


Aku menatap majikanku itu dengan seksama, ternyata banyak juga syarat yang di ajukan. Ahh, tak apa lah yang penting aku bisa menghasilkan uang dan membesarkan Kanaya. Mencari pekerjaan di luar sana sangatlah susah, apalagi peluangku sangat sedikit saat Kanaya masih bayi. Aku tak tega meninggalkan atau menitipkannya pada orang lain, dan di mana-mana bekerja tak boleh membawa bayi. 


Aku berharap semoga saja aku betah bekerja di sini, kebaikan mas Biru akan aku ingat selalu. 


"Dan … kamu harus menjauhi Biru!" 


"Iya Nyonya." Terlihat jelas kalau ibu dari mas Biru tidak menyukai keberadaanku, aku sadar diri dan tak mungkin sebanding dengan mereka. Aku mengangguk patuh dan berpamitan melaksanakan pekerjaan sesuai daftar. 


"Hah, dia tidak buruk. Tapi statusnya yang masih terikat dengan suaminya membuat aku tidak suka, apa yang di lihat Biru dari wanita itu?" gumam bunda Kejora sembari melanjutkan membaca majalah. 


Aku memastikan Kanaya tertidur lebih awal, beruntungnya dia tidak rewel. Mungkin saja tahu dan memahami kondisi ibunya yang sedang bekerja. Aku mulai melakukan semua pekerjaan dengan cepat di kejar waktu dan sesekali memeriksa anakku, apakah sudah bangun atau belum. Saat beberes, tak sengaja mataku menangkap sosok mas Biru. Dia melambaikan tangan seraya tersenyum sambil menggigit buah apel di tangannya, aku tak membalasnya dan melanjutkan pekerjaan. Masih teringat peraturan yang di berikan oleh majikanku, demi Kanaya aku akan melakukan semua upaya. 


"Eh, pura-pura tidak melihatku rupanya." Biru tersenyum geli melihat Luna, jiwanya semakin tertantang untuk mendekatinya. Celingukan kiri dan kanan, memastikan situasi aman terkendali. "Aman. Bunda tidak ada di sini." Ucapnya pelan yang bersiap untuk menghampiri. 


Baru saja melangkah, Biru merasakan sakit di bagian telinga. Melihat siapa pelakunya yang tak lain sang bunda tengah melotot, membuat bulu kuduknya meremang. Dia menelan saliva yang semakin sulit di telan, pasrah ketahuan. 


"Bu-Bunda." 


"Jangan macam-macam ya, Bunda selalu mengawasimu." 

__ADS_1


"Bunda tidak ada pekerjaan lain saja." Keluh Biru menghela nafas, bagaimana bunda nya bisa ada di sini? Padahal dia sudah memastikan situasi aman terkendali. Bunda nya itu datang bagai jailangkung, tiba-tiba saja muncul dan mengejutkannya. 


"Kamu tuh yang tidak punya pekerjaan, masih untung Bunda izinkan Luna bekerja di sini. Awas, jangan macam-macam!" kecam bunda Kejora seraya melepaskan jeweran telinga. 


"Biru gak macam-macam kok Bund, hanya satu macam." 


Pletak


Perkataan dari Biru berhasil membuat bunda Kejora langsung menyentil kening anaknya. "Ingat umur, sudah tua tapi masih berpikir dan bertingkah layaknya anak-anak."


"Sikap dan tingkah Biru seperti ini hanya berlaku pada keluarga saja, di luaran sana Biru di kenal cool berkharisma." Elak nya membela diri. 


"Memangnya kulkas? Sudahlah, jangan ganggu Luna. Sebaiknya kamu bantu ayah mengelolah usaha keluarga." 


"Tapi Bun, Biru belum siap." 


"Hanya kamu anak laki-laki, mau tidak mau kamu tetap yang menjalankan usaha keluarga." 


"Nah, akhirnya kamu sadar diri. Pergi sana!" bunda Kejora mengusir anaknya, masih bingung apa yang membuat anaknya itu jatuh cinta pada Luna. 


Sungguh berat Biru pergi dari tempat itu, namun bunda nya tak akan membiarkannya dekat dengan Luna. Dia keluar dari rumah dan mengacak-acak rambut kasar, tentu saja mencari solusi dari kegagalannya.


Semua sudah aku kerjakan, peluh yang membasahi tubuhku membuatku sudah tidak nyaman lagi. Aku terburu-buru masuk ke dalam kamar pembantu sekaligus memantau Kanaya yang ternyata menangis. Mau tidak mau aku menggendong untuk menenangkannya, tapi semakin aku berusaha semakin keras suara tangisannya. 


Perasaanku menjadi kalut, suara tangisan Kanaya memenuhi ruangan bahkan semua tempat di rumah mewah itu. 


"Ya Allah, kamu kenapa Sayang?" aku sangat khawatir dan kecemasan ku meningkat saat ku raba dahinya. "Kamu demam, Nak." 


Aku menjadi kalang kabut, ingin sekali aku membawa Kanaya ke rumah sakit tapi terhalang biaya. Mana mungkin aku meminjam uang majikanku, aku baru saja bekerja. Aku berpikir hanya mas Biru lah yang bisa membantuku, tapi aku sungkan terlilit budi. 


Aku berlari keluar kamar dan mengejar mas Biru yang tadi keluar rumah, aku berharap dia masih berada di tempat. Aku kecewa karena tidak menemukannya di teras rumah, tanpa permisi dan meminta izin aku berlari bagai orang gila membawa Kanaya ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan. 

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan, aku berlari dan mencari tumpangan pada kendaraan yang lewat, tapi tak ada satupun di antara mereka yang ingin membantu. 


Aku berteriak karena shock, motor berwarna putih itu hampir saja menabrakku. Ku lihat siapa pelakunya, dan betapa aku terkejut kalau bertemu dengan mas Adam. 


"Kamu mau mati ya." 


Kuedarkan pandanganku, seharusnya kami tak saling bertemu mengingat luka itu masih belum pulih sepenuhnya. 


"Tidak. Aku mau ke rumah sakit."


"Siapa yang sakit?" 


Aku lihat mas Adam turun dari motor putihnya dan melihat wajah Kanaya yang pucat. 


"Ayo, aku antar kalian ke rumah sakit." 


Sungguh ajaib tawaran dari mas Adam, bagaimana pria itu bisa berubah sangat cepat dan mau membantu Kanaya.


"Aku baik tapi kamu masih mencurigaiku, naiklah." 


"Hem." Tanpa berpikir panjang, aku naik ke atas motornya dan mengambil jarak duduk. 


"Kamu tenang saja, aku yang akan bayar semua biayanya." 


Sekali lagi aku di buat terkejut oleh mas Adam, bagaimana dia begitu mudahnya mau menolongku. Tapi kecemasanku mengalahkan semuanya, menepis semua perkataan yang hanya dianggap angin lewat. 


Aku sangat cemas menunggu hasil dari dokter, merasa bersalah sebagai seorang ibu yang tidak mampu merawat Kanaya. 


"Aku sudah melunasi administrasinya, semoga Kanaya lekas sembuh." 


"Iya Mas, terima kasih." 

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Luna, bahwa Adam melakukan semua itu tentunya mempunyai tujuan, yaitu merebut kembali cintanya. Dia sangat yakin, dengan melakukan sebuah perubahan yang pastinya hanyalah akting, agar Luna mau rujuk dengannya. 


__ADS_2