Petaka 40 Hari Masa Nifas

Petaka 40 Hari Masa Nifas
Rujuk?


__ADS_3

Aku terkejut saat mas Adam memegang tanganku, perubahan yang terjadi begitu cepat membuatku masih shock. Aku tahu, mas Adam mencoba untuk kembali merebut hatiku, diam-diam aku tersenyum miring. Belum lama dia mengatakan talak, tapi sikapnya seolah-olah tidak terjadi masalah, dengan cepat aku menarik tanganku dan sedikit mengambil jarak. 


Mas Adam kembali meraih tanganku tapi aku dengan cepat menyembunyikannya, aku bukanlah wanita bodoh yang tidak mengerti apa yang terjadi selanjutnya. 


"Maaf Mas." Aku menundukkan pandangan agar tak melihat raut wajahnya, takut kalau cinta itu masih tersisa dan tumbuh. 


"Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang, apalagi anak kita sedang tidak sehat."


"Langsung ke intinya saja Mas." 


"Hem, begini … setelah aku merenungi semuanya dan ini yang terbaik, aku ingin kembali rujuk denganmu. Aku bukanlah suami jahat dan juga bukan ayah yang begitu buruk, aku akan menerima Kanaya dengan sepenuh hatiku." 


Ku tatap wajah mas Adam yang meminta maaf padaku, begitu sombong dan angkuh ucapannya. Apa dia mencoba untuk menghindari fakta mengenai Kanaya yang memang anak kandungnya. Mau tidak mau dia harus menerima Kanaya, karena itu adalah anak kandungnya. 


"Rujuk Mas?" aku mengerutkan dahi tak mengerti jalan pikirannya, mungkin itu sebabnya terjadi perpisahan. Satu kata yang memiliki makna, setiap orang pasti menyetujuinya tapi aku tidak bisa percaya padanya juga cintanya, semua janji yang dia ucapkan hanyalah omong kosong. Cukup sekali dan tidak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi. 


"Iya, baru sekali aku mengucapkan kata larangan itu, tapi masih ada kesempatan untukku rujuk bersama mu." 


Aku kembali terkejut, mas Adam meraih tanganku secara paksa dan bahkan aku berusaha agar terlepas darinya, tapi dayaku tidak sebanding dengannya. "Mas … lepas Mas!" pintaku sedikit meninggikan suara, semakin memberontak semakin dia mencengkaram kuat.


"Tidak aku lepas sebelum kamu menjawabnya." 


"Menjawab apa? Tidak ada yang perlu aku jawab lagi Mas, semua sudah jelas." 


"Sebenarnya aku tidak ingin mengucapkan hal itu, tetapi kamu dan ibu memaksaku."

__ADS_1


"Karena aku masih punya harga diri." Tentu saja aku menentang keinginannya yang bertentangan dengan keinginanku.


"Ayolah Lun, jangan begitu padaku. Apa kamu tidak kasihan pada Kanaya? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana masa depannya nanti? Semua orang pasti menanyakan dimana ayahnya dan mengapa ayah dan ibunya berpisah, apa kamu tidak malu?" 


"Kanaya masih sangat kecil, aku bisa berperan ganda untuk membesarkannya. Aku tidak menutup akses bila Mas ingin menemuinya, dan mengenai pertanyaan orang-orang padanya nanti, aku tidak peduli. Aku menjunjung harga diriku, terserah orang mau berkata apa." 


Aku tertawa, seketika itu pula cengkramannya perlahan merenggang. Aku tak habis pikir mengenai ucapan manisnya, memikirkan masa depan Kanaya? Dimana dia di saat aku membutuhkannya? Bahkan anakku masuk ke rumah sakit malah mengatakan aku hal yang tidak-tidak. 


"Kenapa kamu tertawa?"


"Kamu lucu Mas, dulu saat aku membutuhkanmu sebagai ayahnya Kanaya, dimana kamu saat itu?" 


"Aku … aku."


Mas Adam mulai gugup dengan pertanyaan yang langsung mengena. "Bukannya khawatir pada Kanaya, kamu justru menuduhku yang tidak-tidak, mengatakan aku berselingkuh."


"Syukurlah kalau Mas sudah tau kebenarannya tanpa perlu aku jelaskan, tapi itu tidak akan berhasil Mas, aku tetap pada pendirian ku." 


"Kamu egois Luna, tidak memikirkan perasaan Kanaya." 


Beberapa orang yang berlaku lalang melihat kami, aku segera menarik tangan mas Adam menjauh dari sana. Ku tatap wajahnya yang terlihat kesal juga kecewa dengan keputusanku, tapi apa yang bisa di kata kalau semua terjadi karena kesalahannya. Motto yang aku pegang teguh ialah, tidak akan kembali ataupun menengok kebelakang, apalagi kasus pengkhianatan.


"Cukup Mas, jangan berdebat lagi." Aku menyatukan kedua tanganku dan memberikan isyarat agar dia segera pergi, kepalaku terasa sangat pusing bila berhadapan dengannya. 


"Kamu mengusirku Luna?"

__ADS_1


"Ya, bisa di kata begitu." 


Mas Adam tertawa membuatku takut, apa yang membuatnya begitu ingin rujuk? Bukankah masih ada Mawar yang tengah mengandung dan mereka semangat mengatakan kalau janin itu berjenis kelamin laki-laki. 


"Sombong sekali kamu. Padahal niatku baik ingin memberikanmu dan Kanaya nafkah, tapi kamu menjadi besar kepala." 


"Mas tidak perlu lagi menafkahiku, aku bukan lagi bebanmu. Tapi kamu sangat berdosa bila tidak memberikan darah dagingmu sendiri nafkah." 


"Alah, hari gini masih berbicara dosa, sok alim kamu." 


Aku menggelengkan kepala. "Memang dosa tidak terlihat tapi itu nyata adanya." 


"Ck, berhenti menceramahi aku. Hah, sebenarnya aku sudah baik dengan membawa kalian ke rumah sakit ini dan memberikan tumpangan, tapi melihat kesombonganmu itu membuatku jijik. Aku pergi, kamu urus saja biaya perawatan Kanaya." 


Aku mengelus dada dan mempertebal kesabaran, hanya menyinggung sedikit sudah membuat mas Adam murka dan bahkan mengancam tidak membiayai biaya rumah sakit, aku tahu pasti dia sengaja melakukan itu untuk membuatku kesulitan dan ingin melihatku mengemis padanya.


"Aku akan menunggu di luar, kamu bisa mencariku setelah berubah pikiran dan waktumu hanya lima belas menit saja." 


Aku menatap kepergian mas Adam yang meninggalkan ancamannya, aku sudah bertekad untuk tidak kembali ke rumah itu lagi. Bukankah dia mengatakan berubah tadi? Hanya karena aku menolak rujukannya secepat itu pula perkataannya langsung berubah. Memang semakin aneh, padahal aku hidup dengan mas Adam lebih dari lima tahun, tapi aku masih belum memahami karakter dan sifat aslinya.


"Bahkan mas Adam enggan mengeluarkan sepeser uang untuk biaya rumah sakit." Aku menghela nafas berat dan kembali ke tempat tadi, mengintip di balik dinding kaca tembus pandang melihat putriku. Air mataku menetes, mengapa jalan ceritaku tiba-tiba saja berubah. Cukup banyak impian di saat aku menikah dengan mas Adam, sekarang sirna bak di telan bumi. Aku sangat kasihan dengan anakku itu, yang tidak berdosa. 


"Bagaimana ini? Apa aku harus meminta bantuan pada mas Biru saja?" pikirku. Aku berlari keluar dari rumah sakit, kembali ke rumah majikanku untuk meminjam sejumlah uang biaya perawatan Kanaya. Langkahku terhenti di kala melihat mas Adam tersenyum sembari melipat tangan didepan dadanya, raut wajahnya yang sombong seperti merendahkan aku.


"Hem, akhirnya kamu berubah pikiran juga." 

__ADS_1


Mas Adam tersenyum meremehkanku, pikirnya aku meminta bantuannya. "Kalau kamu mau membantu maka silahkan, tapi kalau kamu ingin aku mengemis? Itu tidak akan terjadi." Aku berlari meninggalkannya, pergi untuk meminta bantuan dari mas Biru. 


"Sialan!" Adam mengumpat kesal, tangannya memukul udara saat melihat kepergian Luna yang sudah menjauh.


__ADS_2